Gadis Biasa Menikahi Mafia Tampan

Gadis Biasa Menikahi Mafia Tampan
Salting


__ADS_3

"Bisakah kau bicara yang jelaskan atau lebih baik kupotong saja lidahmu!!." Ancam Leon.


"Nyonya membutuhkan donor darah tuan," Ujar nya dengan cepat.


'Matilah aku' pikirnya.


"Sialannn!! akan kusuruh Martin membuat habis darah wanita gila itu!!"


"Baiklah, siapkan darahnya dalam waktu 15 menit jika tidak ada maka aku akan menggantung kepalamu!." Tatapan laki-laki itu benar-benar tajam seakan akan ingin mengulitinya.


"Ba-baik tuan." Ujarnya dengan gugup lalu keluar dari ruangan itu untuk mencari donor darah bagi wanita itu. Tapi walaupun begitu Leon juga menghubungi Martin dan Alexia untuk membantu dokter tersebut.


"Sepertinya aku benar-benar harus mengikatmu." Ujarnya dengan memegang tangan Ranti lalu menundukkan kepalanya.


...****************...


Seorang wanita tampak tertidur dengan tenang hingga akhirnya kelopak mata yang selalu tertutup itu perlahan terbuka. Ranti tampak berpikir sejenak melihat ruangan yang sangat asing baginya saat ini.


"UGH apa yang?" Dia tampak bingung tapi perlahan ia mulai mengingat kejadian yang ia alami.


"Astaga!! Intan bagaimana? apa dia baik-baik saja?" Ujarnya dengan panik, refleks perempuan itu ingin melangkah dari kasurnya mencari temannya itu.


"Kau bergerak dari situ maka akan kupatahkan leher temanmu yang bernama Intan itu!!" Ancamnya dengan nada dinginnya.


"Glek"


'Kenapa ada dia disini, habislah riwayat ku.' Ranti yang telah melihat kearah sumber suara. Ternyata dari tadi pria itu memang berada di samping tempat tidurnya tapi karena panik Ranti tidak memperhatikannya.


"I-itu..." Gugupnya.


"Apa lagi alasanmu kali ini hmm? Pria itu menatap tajam kearah dirinya.


"Aku minta maaf." Cicitnya.


"Kenapa minta maaf?" Ranti meneguk paksa ludahnya, pria ini jika sedang marah padanya pasti begini selalu mengintimidasi.


"A-aku pergi ke tempat bahaya dan tidak menunggumu dulu, dan merepotkan mu." Jelas Ranti dengan menunduk bersalah.


"Benarkah itu kesalahan mu hmm?" Tanyanya dengan sorot mata tajamnya.

__ADS_1


"i-iyaaa..." Jawabnya dengan mencoba menatap mata pria itu.


'Lihatlah kucing kecilku ini sangat penakut sekarang.' Pikir Leon. Sebenarnya tadi saat wanita ini telah sadar ia sangat bahagia tapi saat wanita itu justru mengkhawatirkan orang lain dia benar-benar kesal.


Leon masih tidak mengatakan apapun tapi ia berdiri berpura-pura ingin meninggalkan wanita itu.


"Jangan pergiiiii aku minta maaffff...." Ujar Ranti dengan mata berkaca-kaca di tambah dengan tatapan memohonnya.


'Sialan!! kenapa dia bisa seimut iniiiii,'Pikir Leon tapi untungnya pria tersebut bisa mengendalikan ekspresinya tapi tidak dengan jantungnya.


"Ehem, a-aku hanya ingin mengambil air." Ujar pria itu dengan gugup.


Ranti mengedipkan matanya beberapa kali " Benarkah? kau tidak meninggalkan ku karena marahkan?" Tanyanya memastikan.


'Tahan Leon!! tahan !! dia masih sakit sekarang.' pikirannya yang terus mencoba menjaga akal sehatnya itu.


"Aku hanya kesitu." Ujar Leon menunjuk meja yang berada di tengah ruangan tersebut dimana terdapat air disana.


"Owalah jika begitu, ambillah." Ranti melepaskan pegangannya dari lengan kemeja laki-laki itu.


Leon berjalan kearah meja tersebut dan menuangkan air kedalam gelas yang memang berada disitu.


"hmm apa." Jawabnya dengan menoleh kearah Ranti yang tengah duduk diatas kasurnya.


"I LOVE YOU." ujar Ranti dengan mengedipkan satu matanya dan senyuman lebar dan manisnya.


Pria itu langsung kembali menuang air tersebut kedalam gelas yang memang sudah diisinya tadi.


"Eh kok nggak salting, susah memang kalau punya suami seperti kutub Utara." Gumam Ranti.


Tanpa di ketahui Ranti saat ini air yang di tuang Leon sama sekali tidak bisa masuk kegelas. Tangannya bergetar bahkan saat ini air tersebut sudah tumpah kemana-mana.


"Aku bisa gila!!" Gumamnya dengan muka yang Semerah kepiting rebus itu.


Sedangkan Intan, gadis itu sudah diantar oleh anak buah Leon untuk kembali ke rumahnya dimana disana telah ada Rina dan juga Atika yang memang menunggu di rumah Intan sejak Intan dan Ranti menghilang.


"In-intan! kau baik-baik saja?." Tanya Rina yang tampak khawatir tersebut.


"Aku baik-baik saja, tapi aku tidak tau dimana Ranti hiks bagaimana keadaannya. Saat ini ia sedang terluka karena menolong ku hiks." Isaknya. Memang pada saat itu ia ditemukan didalam kurungan oleh anak buah Leon dan setelah 2 hari ia lalu dibebaskan dan diantar begitu saja. Sudah berulang kali gadis itu menanyakan soal Ranti tapi tidak ada jawaban sedikit pun.

__ADS_1


"Benarkah? jadi apa yang harus kita lakukan sekarang?." Atika juga tampak panik karena kejadian ini terlalu aneh bagi mereka.


"Emm kita akan mencari Ranti tapi Intan kau harus lebih dahulu istirahat lihatlah kau kurusan sekarang dan tampak berantakan." Ujar Rina.


"Ta-tapi Ranti ?" Tanyanya Khawatir.


"Dia pasti tidak mau melihat mu seperti sekarang nanti dia akan sedih jadi kau juga harus memperhatikan kesehatan mu agar dia tidak sedih nanti." Bujuk Atika.


"Baiklah." Jawabnya dengan patuh.


Intan pergi membersihkan dirinya sedangkan Rina dan Atika masih berdiskusi berdua.


"Rin kamu merasa ada yang aneh kan sopa Ranti?" Tanya Atika.


"Iya, Sebenarnya apa yang Ranti sembunyikan dari kita dan siapa pria menyeramkan tapi tampan kemarin?" Ujarnya.


"Apakah Ranti dibawa oleh dia, bukan kah dia terlihat sangat perduli dengan Ranti atau itu dengan orang lain? Tapi orang-orang disana memanggilnya bos dan menyebutkan nyonya. Apakah yang di panggil nyonya itu Ranti?." Atika Tampak bingung sendiri dengan pendapatnya dan pikirannya.


"hah...aku benar-benar pusing." Ujar Rina dengan memijat keningnya karena rasanya kepalanya akan meledak sekarang.


Sedangkan Martin dan Alexia tengah sibuk menyiksa Gisel yang tampak sudah penuh dengan luka.


"Kumohon tuan Martin bunuh saja aku! kumohon!."Pintanya karena saat ini ia ingin menghilangkan rasa sakit yang ia rasakan.


"Itulah balasan karena kau sudah berani melukai nyonya. Ini adalah buah dari kesombongan mu." Ujar martin tidak perduli.


Kedua orang itu berjalan keluar dari ruangan amis itu lalu mematikan lampu hingga memang hanya kegelapan yang akan dilihat oleh wanita itu.


"Hah bos benar-benar kejam apalagi jika menyangkut tentang nyonya maka ya sudah pasti akan mengenaskan." Ujar Martin dengan santai.


"diamlah Martin!!" Perintah Alexia seperti biasa.


"Tapi menurutku ini juga salah bos sih, kenapa dia tidak memberi tahukan anggota dunia bawah atau orang-orang dunia bawah jika Ranti itu nyonya kita jadi mereka tidak akan berani menyakiti nyonya lagi." Jelas Martin.


"Kau gila ya jika begitu malah tambah bahaya, akan banyak juga yang akan mengincar nyawa nyonya untuk bisa menghancurkan bos." Kali ini Alexia benar-benar kesal dengan pemikiran gila Martin.


"Benar juga ya, kenapa aku tidak kepikiran?"


"Karena kau bodoh!!" Ucap Alexia lalu pergi meninggalkannya.

__ADS_1


__ADS_2