
"Huh, setelah aku mengatakan kelemahan dari king otomatis aku akan dibunuh olehnya karena berani berhianat bukan? oleh sebab itu aku berencana untuk menjadi anak buah dari bos kalian juga." Jelasnya.
Pria itu tampak menganggukkan kepalanya merasa setuju dengan pernyataan dari gadis itu.
'Anggap saja ini agar gadis bodoh ini mau memberi tahukan apa kelemahan king setelah dia memberi tahukan tentang king maka aku akan langsung membunuhnya. Sehingga bos tidak kan takut terbongkar identitasnya.' Pikirnya.
"Baiklah."Jawab pria itu.
Tidak ada respon dari Alexia ia justru m Mandang tajam kearah pria tersebut.
"Dia adalah James." Ungkap pria itu.
...****************...
Mendengar hal tersebut Alexia tersenyum kecil.
"Kenapa kau ?" Tanya pria itu yang tampak bingung.
"Syutt.".
"Akh..." Pria itu tampak berteriak kala sebuah belati melayang kearahnya.
"Kau!!" Geramnya akan tetapi lebih tepatnya terkejut saat melihat Martin yang sudah duduk dengan senyum misteriusnya.
__ADS_1
"Kau pikir ide konyolmu itu bisa melukaiku? dasar bodoh." Ejek Martin. Ayolah pria itu bahkan pernah mengalami hal lebih buruk dari pada ini. Dan tentunya ia hanya sedikit berakting saja.
Sedangkan Alexia tampak tersenyum bangga pada rekan kerjanya itu.
"Hahaha memangnya kau bisa apa? tempat ini sudah menjadi kekuasaanku, seluruh anak buahku sudah berkumpul disini." Sombongnya.
"Itu bagus." Ucapnya dengan smirik yang mengerikan.
Setelah mengatakan itu pria itu dengan cepat mengambil senjatanya. Kedua tangannya terus menekan pelatuk pistolnya itu.
"Door, door, door..." Suara tembakan bergema disana. Alexia ikut membantu pria itu tapi menurutnya tanpa ia bantu pun pria gila itu bisa mengalahkan musuh-musuhnya dengan mudah.
Hingga tak berapa lama tempat itu sudah menjadi genangan darah rumput yang tadi berwarna hijau kini sudah berubah menjadi merah. Melihat hal itu Martin tampak tidak menyesal dengan apa yang telah ia perbuat. Justru pria itu tampak seakan-akan menggila dia benar-benar berbeda jauh dengan Martin yang biasanya konyol dan mudah dibodohi.
"Terimakasih atas pujiannya."
"Door." Lagi dengan mudah laki-laki menghabisi nyawa pria itu.
"Kita harus membiarkan satu orang Martin." Ucap Alexia yang tampak kesal dengan pria itu.
"Sampah sudah seharusnya dibuang karena tidak berguna." Jawabnya dengan dingin.
'Dia kehilangan kesadarannya lagi.' Pikir Alexia.
__ADS_1
Ditempat lain saat ini pasutri itu tampak sedang menghabiskan waktu bersama.
"Leon hmm apa aku boleh bertanya?." Ujar gadis itu.
"Hmm." Jawab Leon dengan terus memeluk Ranti dari belakang untuk menikmati matahari yang akan terbenam itu.
"Kenapa tempat ini begitu terisolasi? apa kau tidak takut tinggal di tempat ini tanpa tetangga sama sekali?." Tanya Ranti dengan memperhatikan pohon-pohon yang mengelilingi rumah ini. Ia juga mulai mengingat bagaimana susahnya ia pada saat melarikan diri dari rumah ini.
"Aku tidak suka keramaian, dan tentunya aku tidak takut kan ada kamu." Jawabnya dengan mengeratkan pelukannya pada gadis itu.
'Aku tau jawaban darimu tidaklah jujur Leon.' Pikir gadis itu.
"hmm," Hanya itu yang keluar dari bibir Ranti.
"Kenapa ? apa ada yang mengganggumu?." Tanya Leon yang mulai peka jika istri tersayangnya itu sedang dalam mood yang tidak baik.
"Tidak, aku hanya berharap kau percaya padaku." Ucapnya pelan namun masih dapat di dengar jelas oleh laki-laki itu.
'Deg.'
'Sial apa dia menyadarinya.' Pikirnya.
"Aku percaya padamu." Ujarnya dengan terus mengeratkan pelukannya. Laki-laki tampak meletakkan kepalanya bersandar pada bahu Ranti.
__ADS_1
"Bohong." Ujar Ranti dengan sangat pelan.