
"Baiklah aku akan memakannya." Ranti memakan makanan itu dengan Nia yang masih berada disana.
"Kenapa kau tidak pergi Nia? apa ada yang ingin di sampaikan lagi?" Tanya Ranti yang saat ini tengah menyantap makanannya. Toh untuk mencemaskan Leon dia membutuhkan tenaga.
"Itu nyonya, tuan meminta saya untuk terus berada disini agar dan menjaga anda agar tidak keluar dari kamar ini." Ujarnya yang membuat Ranti langsung menghentikan suapannya.
Ia menatap Nia menggunakan ujung matanya. Apa maksud Nia sebenarnya ada apa ini, pertanyaan itu muncul bagaikan film di kepalanya.
"Siapa yang menyuruh ?" Tanyanya yang sudah berhenti untuk memakan makanan di depannya itu.
"Tuan nyonya." Ranti benar-benar ingin berlari dan menemui pria itu. Apalagi maksudnya sekarang mencoba mengurungnya saat ada perempuan lain di rumahnya. Wow sungguh luar biasa.
...****************...
Ranti tidak ingin lagi melanjutkan makan siangnya. Entahlah saat ini moodnya benar-benar hancur karena ulah Leon.
"Bagaimana dengan perempuan yang bernama Amelie itu apakah dia masih di rumah ini?" tanya Ranti yang masih mencoba untuk terus berpikir positif.
"ituuu." Nia tampak ragu menjawabnya.
"Kenapa jelaskan saja aku tidak akan menyalahkan mu Nia." Ranti benar-benar mencoba untuk terus berpikiran logis.
"Nona Amelie dia..." Nia masih tampak ragu untuk mengatakannya.
"Dia?" Ranti mengulang kalimat tersebut saat ini ia sangat penasaran. Rasanya seperti kalian yang sedang menunggu episode selanjutnya dari sebuah novel.
"Nona Amelie tidak pergi nyonya, dia tinggal disini." Jawabnya.
"JEDER." Rasanya benar-benar seperti dia akan tersambar petir.
"Hmm a-apakah dia keluarga Leon?" Tanya Ranti yang mencoba terus berpikir positif.
"Sa-saya ti-tidak tau nyonya." Jawab Nia dengan gugup.
__ADS_1
"Ayolah Nia aku tidak akan marah, apa dia adik Leon?" Yup sekarang pikirkan Ranti tertanam bahwa gadis itu bisa saja saudara suaminya. Ya pasti itu saudari dari Leon yang menghilang dan sekarang telah kembali.
"Ti-tidak Nyonya dia sebenarnya te-teman masa kecil tuan nyonya, emm saya mohon nyonya tidak marah sebenarnya dia hanya teman tuan saja emm tidak lebih walau dulu mereka hampir tunangan." Semua itu keluar dari mulut Nia membuat Ranti benar-benar terdiam kaku hingga tanpa ia sadari sendok yang tadi ia pegang kini sudah terjatuh ke lantai.
"TENG." Nia yang sadar dengan apa yang baru saja dia ucapkan segera menutup mulutnya.
'Astaga kenapa mulut ini tidak tau tempat sih.' Pikirnya.
"Nyo-nyonya apa anda baik-baik saja ?" Tanyanya yang melihat Ranti saat ini hanya diam tanpa mengatakan apapun.
"Nyonya?"
"Nyonya ?"Tanyanya lagi karena tidak ada respon dari wanita itu.
"Ha ? A-aku baik-baik saja." Ujarnya lalu tangannya dengan gemetar ingin mengambil gelas yang berisi air tepat di depannya tapi "CTARR" gelas itu justru tumpah dan pecah membuat Nia panik dan segera memeriksa keadaan Ranti.
"Anda tidak apa-apa nyonya?" Tanyanya dengan panik.
"Maaf tadi tanganku licin," Ujarnya dengan nada rendah. Entahlah Nia seakan-akan merasakan nada kesedihan disana.
"Nyonya bisakah anda Pindah ke atas kasur terlebih dahulu, saya akan membersihkan pecahan kaca ini dulu lalu mengambilkan air lagi untuk anda." Ujar Nia dengan pelan, dia mengerti sebagai seorang wanita pasti akan merasa kecewa jika mengetahui suaminya membiarkan wanita lain tinggal di rumah mereka.
"Iya, maaf telah merepotkan." Ujar Ranti yang berjalan kembali ke kasur nya.
Setelah itu Nia dengan hati-hati membersihkan kaca-kaca yang berantakan lalu segera pergi keluar untuk mengambil air.
"Cklek." Suara pintu terbuka. Dengan cepat Ranti memandang kearah pintu dan tersenyum.
'Leon?' Pikirnya. Tapi lagi-lagi semua tidak seindah yang dipikirkannya dia justru melihat Alexia yang datang padanya. Perempuan itu kembali menaikkan alisnya.
'Apalagi kali ini?' Pikirnya. Sungguh satu hari ini ia sudah menerima banyak kejutan.
"Ada apa Alexia?" Tanya Ranti yang sedikit penasaran.
__ADS_1
"Aku disini untuk memindahkan kamarmu." Ujarnya yang lagi-lagi membuat Ranti terkejut untuk kesekian kalinya jika saja ia punya riwayat penyakit jantung mungkin dari tadi dia sudah mati karena serangan jantung.
"Kenapa aku harus pindah ? apakah ada renovasi?dan juga jika ada renovasi kenapa ini sangat dadakan?" Tanyanya berulang kali.
"Tidak ada renovasi nyonya, dan alasan anda pindah saya juga tidak tau pasti karena ini perintah tuan jadi saya hanya menjalankan perintahnya saja." Jelasnya.
"Kenapa bukan dia yang mengatakannya sendiri? aku ingin bertemu dengannya." Ujar Ranti dengan aura dinginnya. Ayolah Ranti benar-benar benci dengan drama seperti ini. Jika ada salah paham dia akan datang ke Leon dan meluruskannya.
"Tuan sedang sibuk saat ini nyonya jadi tidak bisa di ganggu." Jawabnya. Kenapa dengan pria ini dia tidak pernah sekalipun mengetakan dirinya sibuk tapi benarkah dia benar-benar sibuk kali ini.
"Huhh baiklah aku mengerti aku akan pindah, tapi kemana aku akan pindah ?" Tanyanya yang malas berdebat itu toh sama seperti Nia, Alexia juga hanya menjalankan perintah.
"Anda akan dipindahkan ke kamar timur di unjung." Ujar Alexia.
"Apa!" Kali ini bukan Ranti yang berkata melainkan Nia yang baru saja tiba dengan nampan dan juga air yang ia bawa.
"Kenapa?" Tanya Alexia pada Nia yang baru saja tiba disana.
"Ta-tapi nona Alexia bukankah kamar di timur itu kamar pelayan dan tidak ada yang kosong." Ujar Nia yang mencoba untuk memberanikan diri. Sejujurnya Ranti juga agak bingung karena ia juga sudah mengenal jelas tempat ini. Tapi dia berpikir mungkin saja kan ada kamar tersembunyi disana pikirnya. Tapi mendengar perkataan Nia jika disana tidak ada kamar kosong membuatnya juga tampak bingung.
"Ada tentu saja ada. Ujarnya yang membuat kedua wanita itu hanya diam saja.
Akhirnya Ranti hanya duduk diam menatap keluar jendela menunggu agar para pelayan itu mengangkut semua barangnya. Matanya melihat kearah taman bunga kesayangannya jujur saja ia ingin bermain di taman itu seperti biasa tapi lelaki yang bahkan sangat ia ingin minta penjelasannya sekarang justru tidak menampakkan batang hidungnya.
'Apakah aku dibuang?' Batinnya tapi dengan cepat Ranti menggelengkan kepalanya menghilangkan pikiran gila itu.
"Anda kenapa nyonya ? apa anda sakit kepala?" Tanya Nia yang khawatir melihat tiba-tiba saja nyonyanya itu menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak apa-apa tadi aku hanya sedang memikirkan sesuatu yang tidak mungkin." Ujarnya membuat Nia menganggukkan kepalanya.
Matanya terus memandang ke arah taman bunga itu hingga tampak sosok pria yang berjalan kesana tapi saat itu pria itu tidak sendiri melainkan dengan seorang wanita cantik. Rasanya Ranti tidak dapat bernafas dia mencengkeram kuat gaun yang ia kenakan.
"Di-Dia..." Ujarnya dengan nada begetar.
__ADS_1