
"Kau sudah terjebak jadi kau tidak bisa kabur lagi, serahkan uang itu ha...ha...ha" ancam gadis tersebut dengan nafas yang tidak beraturan.
"Hahaha bukan aku yang terjebak tapi kau" Ucapnya denga tatapan licik kearah Ranti.
"Apa maks-" ucapannya terpotong saat melihat empat laki-laki yang muncul dari gang tersebut.
'Hadeh..' pikir Ranti mengutuk kesialannya yang tiada batas itu.
...****************...
Ranti menatap beberapa orang tersebut dengan tatapan tajam walau kakinya saat ini sedang bergetar.
'Jangan terlihat lemah Ranti, mereka akan semakin berkuasa jika kau menunjukkan sisi lemahmu.' pikirnya untuk meyakinkan dirinya sendiri.
"Kalian pikir aku takut pada kalian " ucapnya dengan tanpa rasa takut.
Para preman itu terlihat sedikit terkejut oleh respon yang disampaikan oleh gadis kecil itu.
"memang apa yang bisa kau lakukan pada kami gadis kecil ?" ucap salah stau dari mereka menantang.
'Agak ngeri ya ...' pikir gadis kecil tersebut.
"Aku memang tidak bisa berbuat apa-apa tapi" ucap gadis tersebut berpikir.
setelah berpikir sejenak Ranti menunjukkan senyum yang menakutkan.
"Tapi apa nona, kau itu anak presiden atau mungkin kakakmu jenderal atau kekasihmu mafia hebat hahaha" ejek salah satu dari pria tersebut.
"Tebakanmu benar paman jelek, kekasihku mafia hebat. Jika kau berani menyentuhku maka dia akan membunuhmu" ucapnya meyakinkan.
'Mafia dari mana ?dia hanya laki-laki gila pekerjaan yang tidak punya hati' sambungnya dalam hati.
"Kau pikir kami bodoh ?" kali ini pria yang mencopet uang Asih yang berbicara.
"Jika benar kekasihmu memang seorang mafia hebat mana mungkin kekasihnya hanya penjual kue dipinggir jalan hahaha." Lanjutnya tertawa di ikuti teman-temannya.
'Sial betul juga sih.' Ranti sedikit frustasi.
"Aku tidak berbohong, itu. dia datang" ucapnya dengan menunjuk ke belakang para preman itu. Ketika perhatian para preman tersebut dapat dialihkannya dengan cepat gadis tersebut berlari menjauhi mereka.
__ADS_1
'Maaf ya buk Ranti harus kabur tanpa uang ibu, mereka terlalu banyak' ucapnya dalam hati dengan terus berlari.
"Hao berhenti gadis kurang ajar!" Teriak para preman tersebut yang dengan cepat mengejar Ranti.
Tapi karena badan Ranti yang kecil ia dapat dengan cepat melangkahkan kakinya.
"Hah...hah...hah a-apakah mereka masih mengikuti ku?" ucap gadis tersebut dengan memegang perutnya yang sakit akibat terlalu banyak berlari.
"Kupikir aku akan menjadi atlet lari jika terus begini..." ucapnya pelan dengan tersenyum senang karena berhasil lolos dari para penjahat itu.
Gadis itu terus berjalan dengan santai karena berhasil melarikan diri dari para penjahat tadi.
"Hai kau gadis gila berhenti atau kami akan benar benar menghabisimu !!" Teriak seseorang dari belakang Ranti.
"Sialan" umpatnya lalu kembali berlari dengan cepat.
Ranti terus berlari hingga ia tidak menyadari sebuah mobil melintas dengan cepat yang akan menerjang tubuh kecil itu.
"Akhhh" Gadis tersebut menutup matanya karena tidak sempat untuk menghindar.
"CITT...." Suara ban dari mobil yang berusaha untuk mengerem tersebut.
Gadis tersebut masih berdiam diri, rambut hitam panjangnya menutupi mukanya akibat dari kejadian tersebut.
"Syukurlah aku masih selamat" Gumamnya lega walau dapat di rasakan nya perih di beberapa bagian tubuhnya.
"ITU DIA, GADIS KURANG AJAR TERSEBUT. CEPAT TANGKAP DIA!!" Teriak para penjahat yang tidak menyerah menangkapnya itu.
"Dasar penjahat gila" Kesalnya saat mendengar suara para penjahat yang sedang menuju kearahnya itu. Ranti masih berusaha mengerakkan kakinya namun gagal. Sepertinya tulang kakinya sedikit bergeser hingga rasanya sangat sakit untuk menegakkan tubuhnya.
Para penjahat itu akhirnya tiba di depan Ranti dan tanpa aba-aba menarik paksa tubuh gadis tersebut. Saat ini gadis itu terlihat seperti orang gila karena rambutnya yang sudah berantakan dan menutup wajahnya serta jangan lupa dengan tubuh yang kotor akibat berlari ke sana kemari.
Sedangkan seorang laki-laki di dalam mobil yang tadi menabrak Ranti hanya menatap kejadian tersebut dengan tidak peduli.
"Dasar orang gila" Gumamnya kesal karena harus menyaksikan drama di depannya ini.
Leon benar-benar kesal karena orang-orang di depannya ini telah mengganggunya dan membuatnya harus menunggu lama.
"TIT,TIT,TIT...." Leon menekan klakson tersebut berulang kali agar orang-orang tersebut mau menghindar dari jalannya.
__ADS_1
Para penjahat yang saat ini menarik paksa gadis tersebut akhirnya mencoba untu menyeret gadis tersebut. Ranti benar-benar terus memberontak melawan para penjahat yang mencoba membawanya itu.
"Lepaskan aku!!" Geramnya saat penjahat itu menarik kedua tangannya dan mencoba menyeretnya.
"Akhh..." Ranti menggigit kuat tangan salah satu penjahat tersebut yang menarik salah satu tangannya.
"PLAK!!" suara tamparan terdengar keras bahkan Leon yang di dalam mobil pun dapat mendengar suara tersebut. Sedangkan Ranti mengelap kasar noda darah yang keluar dari bibirnya.
"Jangan melawan jika kau mau kematian mu tidak menyakitkan." Ancam salah satu dari pria tersebut.
"Cuih...Dasar iblis" Ranti meludah tepat ke wajah laki-laki tersebut.
"Kau benar-benar penjual kue gila" Laki-laki tersebut mengangkat tangannya keatas guna menampar Ranti kembali.
"Berhenti" Suara datar dari pria yang saat ini menahan tangan pria yang saat ini hendak menampar Ranti.
Ranti sangat terkejut saat melihat pria yang sangat di kenalnya. Namun, ia sama sekali tidak dapat memanggil nama pria tersebut. Suaranya benar-benar tercekat, rambut yang menutupi wajahnya sama sekali tidak ingin disingkirkannya. Ranti benar-benar tidak ingin bertemu pria tersebut dengan keadaannya yang berantakan seperti ini.
"Apa urusanmu ha !" tantang penjahat itu yang membuat Leon dengan cepat memutar tangan pria tersebut kebelakang. penjahat tersebut hanya bisa berteriak saat merasakan tangannya yang seakan-akan lepas tersebut.
"Lepaskan dia sialan!" Ucap para penjahat lainnnya yang mulai menyerang kearah Leon.
"Bugh"
"Bugh"
"Bugh"
Perkelahian terjadi di antara mereka yang tentunya dapat di menangkan oleh Leon.
"Walaupun dia orang gila tapi kalian tidak berhak sekasar itu padanya." Ucap laki-laki tersebut dengan mata tajamnya yang menatap para pria yang sudah babak belur di buatnya.
Ranti sedikit terlonjak saat Leon menganggapnya sebagai orang gila.
"Ternyata seburuk itu ya" gumamnya dengan senyum kecut yang menghiasi wajahnya yang masih tertutup tersebut.
Leon berjalan kearah Ranti yang menatap lelaki tersebut di balik rambut panjangnya itu.
Leon berhenti tepat di depan Ranti yang masih terduduk diatas jalan tersebut.
__ADS_1
"Ku rasa kau bisa pulang sendiri, pergilah ke rumahmu." Perintah pria tersebut yang masih menatap dingin kearah gadis itu.