
Dengan perlahan ia meletakkan gadis itu takut jika mengganggunya.
"Jangan hilang-hilang lagi ya..." Ucapannya.
Leon ikut membaringkan tubuhnya di samping gadis itu lalu memeluknya dengan erat. Perlahan matanya ikut menutup menyusul gadis itu ke alam mimpi.
Setelah merasa nafas pria itu yang mulai teratur Ranti membuka matanya perlahan.
Senyuman tampak terukir indah di wajahnya. Tangan itu perlahan terulur memegang tengkuk pria itu.
"Cup." Ranti mengecup pelan gadi pria itu
"Semoga mimpi indah." Gumamnya lalu memeluk pria itu dengan kuat dan ikut memejamkan matanya.
Sesaat setelah itu tampak senyuman tipis terukir di wajah Leon.
...****************...
Akhirnya mereka telah tiba di kediaman Leon yang berada di ibu kota. Leon terus menatap kearah Ranti yang tampak masih tertidur pulas.
'Siapa kira aku akan sangat bergantung padamu,? kuharap tidak akan ada lagi yang bisa membahayakan mu,'Pikirnya dengan terus menatap dalam ke arah gadis itu.
"Ugh." Ranti mulai terbangun dari tidurnya. kelopak mata itu perlahan terbuka dan menampilkan netra mata hitam itu.
"Kenapa melihatku seperti itu?" Tanyanya dengan nada khas bangun tidur.
__ADS_1
"Aku sedang berpikir kalau istriku ini cantik sekali."
"Hmm sekarang jadi sering gombal ya, padahal dulu seperti kutub Utara berjalan." Ranti tersenyum mengejek pada pria tersebut.
"Hmm siapa yang kutub Utara?" Tanya Leon tidak terima.
"Ya siapa lagi jika bukan tuan Frederick Leonardo Ze ini." Jawab gadis itu.
"Itu kan dulu, sekarang orangnya sudah berubah sangat manis untuk istri tercintanya ini." Ucapnya dengan memainkan beberapa helai dari rambut milik Ranti.
Ranti menatap dua manik hitam milik pria itu dengan bahagia.
"Sekarang aku bersyukur pada saat itu Alexia dan Martin menculikku sehingga kita bersama pada saat ini." Ujarnya.
"Dan aku bersyukur karena Tuhan mendatangkan dirimu dengan cinta tulus untukku." Ucap Leon dengan senyum manisnya.
"Tuan kita sudah sampai an...maaf mengganggu tuan." Martin dengan cepat membalik tubuhnya karena menyadari kedatangannya di waktu yang sangat tidak tepat.
Ranti yang malu langsung mendorong Leon menjauh darinya lalu dengan cepat mendudukkan dirinya.
'Martin!! cecunguk sialan itu.' Leon benar-benar merasa kesal karena Martin yang sudah mengganggunya dan Ranti.
"Se-sepertinya kita sudah sampai, a-ayo pergi." Ajak Ranti yang akan beranjak pergi dari tempat itu.
Dengan cepat Leon menahan tangannya agar tidak pergi dari sana.
__ADS_1
"Sudah kubilang jangan pergi tanpaku." Ujar pria itu.
Ranti hanya bisa menelan ludah kasar saat merasakan bahwa mulai sekarang hidupnya akan benar-benar sangat berubah.
"Tadi pada saat tidur sudah ada dokter yang memeriksa kakimu dan dia mengatakan bahwa tulangmu sedikit tergeser. Jadi kamu harus di gendong kemanapun dan kapanpun hingga sembuh total." Mendengar hal itu Ranti lalu melihat kakinya yang tampak sudah di perban.
"Ta-tapi ini tidak begitu sakit lagi, aku bisa berjalan sendiri ini tidak seperti pada saat itu." Ujar Ranti dengan cepat.
"Saat itu." Leon bergumam lalu wajahnya menunjukkan raut kesedihan.
"Kamu kenapa?" Ranti khawatir karena melihat raut wajah laki-laki itu yang tampak bersedih.
"Maaf..." Gumamnya.
"Ha!" Ranti sedikit terkejut mendengar ucapan dari pria itu.
"Maaf untuk hari itu, aku mohon maafkan aku, aku yang menabrakmu hari itu dan..."
Ranti langsung membulatkan matanya saat mengingat kejadian yang ia hampir saja lompat ke laut karena orang-orang gila itu.
"Tapi kau jugalah yang menyelamatkan ku ku terima permintaan maaf nya dan aku mau mengucapkan terimakasih." Ujar gadis itu dengan mengelus lembut pipi Leon.
Leon memejamkan matanya mencoba menyingkirkan ingatan tentang hari itu. Lalu mencium lembut tangan Ranti yang mengelus pipinya.
"Aku akan terus melindungimu sampai kapanpun." Ujarnya.
__ADS_1
"Mohon bantuan untuk kedepannya pelindungku." Jawab Ranti dengan senyum tulusnya yang dibalas oleh Leon.