Gadis Biasa Menikahi Mafia Tampan

Gadis Biasa Menikahi Mafia Tampan
Pesawat Kertas


__ADS_3

Akhirnya Ranti hanya duduk diam menatap keluar jendela menunggu agar para pelayan itu mengangkut semua barangnya. Matanya melihat kearah taman bunga kesayangannya jujur saja ia ingin bermain di taman itu seperti biasa tapi lelaki yang bahkan sangat ia ingin minta penjelasannya sekarang justru tidak menampakkan batang hidungnya.


'Apakah aku dibuang?' Batinnya tapi dengan cepat Ranti menggelengkan kepalanya menghilangkan pikiran gila itu.


"Anda kenapa nyonya ? apa anda sakit kepala?" Tanya Nia yang khawatir melihat tiba-tiba saja nyonyanya itu menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak apa-apa tadi aku hanya sedang memikirkan sesuatu yang tidak mungkin." Ujarnya membuat Nia menganggukkan kepalanya.


Matanya terus memandang ke arah taman bunga itu hingga tampak sosok pria yang berjalan kesana tapi saat itu pria itu tidak sendiri melainkan dengan seorang wanita cantik. Rasanya Ranti tidak dapat bernafas dia mencengkeram kuat gaun yang ia kenakan.


"Di-Dia..." Ujarnya dengan nada begetar.


...****************...


Tampak seorang pria bersama dengan wanita mengelilingi taman tersebut.


"Nia...apakah aku tidak salah liat? dia suamiku kan?" Tanyanya pada Nia. Entahlah walaupun kaget tapi gadis itu tidak mau memutuskan sesuatu dengan tergesa apalagi saat ini rumah tangganya yang menjadi taruhannya.


"I-iya nyonya itu Tuan dan juga nona Amelie." Jawabnya dengan melihat ekspresi Ranti yang tidak menunjuk sesuatu yang pasti.


'Ayolah Ranti mereka hanya teman dan pada saat itu kau sudah berjanji untuk percaya pada laki-laki itu dia tidak mungkin menghianatiku.' Batinnya.


Hingga akhirnya Ranti mengeluarkan ponsel dari sakunya menghubungi nomor atas nama suamiku itu.


"Drrt."


"Drrt." Dering telpon dari pria itu. Dari kejauhan ia dapat melihat pria itu yang mengeluarkan ponsel dari sakunya dan mengangkat telpon tersebut membuat Ranti tersenyum tenang.


"Dia mengangkat telponku." Ujarnya dengan senyum bahagia.


"Halo Leon." Ujar Ranti dengan terus mengawasi pria tersebut.


"Iya...ada apa sayang?" Tanyanya membuat Ranti kembali bahagia.


'Dia mencintai ku.'


"Emm kau sedang dimana ?" Tanyanya dengan lembut.


Leon tampak berpikir sejenak dari jauh juga Ranti dapat melihat bagaimana pria itu sedang berpikir.

__ADS_1


"Aku sedang di ruang kerjaku." Jawabnya membuat Ranti benar-benar sangat kecewa.


'Kenapa harus berbohong?'


"o-oh be-begitu emm dengan siapa?" Tanyanya lagi dengan nada sedikit bergetar.


"Kenapa dengan mu ? apakah kamu sakit ? saat ini aku sedang bersama Martin." Ujarnya.


"Begitu ternyata, baguslah....emm lakukanlah pekerjaan mu dengan baik aku tidak akan mengganggumu." Ujarnya membuat Leon sedikit menaikkan alisnya.


Setelah mengatakan hal tersebut Ranti segera menutup telpon tersebut. Bohong jika dia mengatakan bahwa dia terluka jika boleh jujur saat ini hatinya benar-benar hancur bahkan sangat hancur. Dadanya bahkan terasa sangat sesak.


"Nia bisa ambilkan aku kertas dan pena, mari kita beri perhitungan pada seseorang." Ujarnya membuat Nia segera mencari kertas dan juga pena.


Tak lama Ranti menuliskan sesuatu pada sayap pesawat kertas yang ia buat. Nia yang melihat itu sedikit menutup mulutnya terkejut.


'Tuan ckck kau akan habis kali ini.' Pikirnya.


"Baiklah mari kita lihat apa angin mendukung atau tidak." Ujarnya.


Ranti meniup pesawat kertas tersebut lalu menerbangkannya tepat kearah Leon yang saat ini sedang bersama Amelie.


'Lihat ke arah kamarmu.' Itulah yang tertulis disana dengan segera Leon melihat kearah kamarnya.


"Deg." Laki-laki itu cukup terkejut saat melihat sosok gadis yang saat ini tengah menatapnya lalu tersenyum mengejek padanya


"Mati aku." Gumamnya saat melihat gadis itu disana.


"Kau kenapa Leon ?" Tanya Amelie yang melihat Leon membeku.


"Bukan urusanmu." Ujarnya dengan nada dinginnya. Tanpa berlama-lama lagi pria itu segera pergi menuju ke arah kamarnya.


Sedangkan Ranti entah apa yang telah dia pikirkan saat ini. Matanya menatap tajam saat melihat bagaimana Leon berinteraksi dengan Amelie.


"Nia apakah barang-barang ku sudah dipindahkan ?" Tanyanya.


"Sudah nyonya baru saja selesai." Jawab Nia.


"Baiklah mari kita pergi tapi aku mau kita ke kamarmu." Ujarnya.

__ADS_1


"Ta-tapi nyonya...itu.." Nia tampak ragu.


"Apakah kau tidak mau aku ke sana ? kenapa?" Tanyanya memelas.


"Te-tentu saja tidakk!" Jawab Nia dengan cepat.


"Baiklah mari kita pergi." ajak Ranti dengan segera.


Mereka akhirnya pergi menuju kamar pelayan yang merupakan kamar Nia.


Hingga akhirnya Leon telah tiba dikamarnya matanya yang tajam. Ia sama sekali tidak dapat menemukan wanita itu dimanapun.


"Kemana lagi dia? astaga!." Leon mengusap wajahnya dengan kasar.


"Apa jangan-jangan dia sudah pergi ke kamar barunya, ya pasti dia ada disana." Dengan cepat laki-laki itu melangkahkan kakinya menuju kamar untuk Ranti yang baru.


"Cklek." Pintu kamar terbuka menampilkan chat kamar dengan nuansa biru dan juga putih itu sebagaimana kamar yang dulu sangat di sukai wanita itu.


"RANTI!,RANTI! AYOLAH JANGAN BERMAIN SEMBUNYI DENGANKU!"Ujarnya dengan berteriak tapi bagaimanapun usahanya wanita itu memang tidak ada disana.


Sedangkan di tempat lain Nia yang mendengar bagaimana hebohnya saat tuannya itu mencari nyonyanya hanya bisa terus meremas bajunya dengan gelisah.


"Nyonya apakah ini akan baik-baik saja." Ujar Nia yang sebenarnya ia sangat takut dengan Leon. Tau sendiri kan dia pernah hampir mati karena membantu nyonyanya itu untuk memesan ojol tapi untungnya saat itu Ranti datang menolongnya dan juga Nita.


"Aku sedang malas melihat mukanya, biarkan saja dia tadi kan dia yang tidak mau menemuiku oke sekarang aku yang tidak mau menemuinya. Biarkan saja dia menghabiskan waktu dengan Amelie itu aku tidak peduli." Ujarnya yang saat ini berbaring di atas kasur pelayan yang cukup tipis dibanding dengan kasurnya bersama Leon. Tapi menurut Ranti ini jauh lebih tebal dari pada kasur di kosannya dan juga di rumahnya.


"Aku mau tidur dulu ya Nia, kau tetap disini saja jangan melapor pada tuanmu itu hoamm." Ujarnya lalu memejamkan matanya karena lelah.


Nia hanya dapat menganggukkan kepalanya pasrah dengan sikap nyonyanya yang sama sekali tidak takut dengan Leon.


Sedangkan Leon masih terus mencari wanita itu.


'Apa dia kabur?' Hal itu terpikir begitu saja apalagi ia sering mendengar bagaimana Ranti yang sering membaca Novel mengenai istri yang kabur karena marah pada suaminya yang memperlakukan istrinya semena-mena.


"Oh ayolah bagaimana jika itu terjadi." Leon mengusap kasar wajahnya.


"MARTIN!!" teriaknya yang dapat di dengar Martin walaupun saat ini ia sedang berada di dalam kamarnya.


"Seingat ku kamar ini kedap suara tapi kenapa jika bos yang manggil masih terdengar jelas." Gumamnya.

__ADS_1


Tapi tanpa berlama-lama secepat kilat ia segera datang menemui Leon yang saat ini tengah berada di kamar Ranti yang baru saja di buat.


__ADS_2