Gadis Biasa Menikahi Mafia Tampan

Gadis Biasa Menikahi Mafia Tampan
Masalah Intan (4)


__ADS_3

Tak lama handphone Leon berbunyi segera ia angkat tanpa melihat nama dari orang yang telah menelponnya tersebut.


"Tuan...anda harus cepat kemari nyonya menghilang." ucap dari seberang sana tepat nya telpon tersebut berasal dari Dion yang baru saja terbangun dari pingsannya itu.


"Apa maksudmu dimana kau sekarang dan siapa kau ?" Tanya Leon yang tampak emosi tersebut.


"Sa-saya Dion tuan supir nyonya saat ini way sedang berada di jalan xxx blok xxx nomor xx." Jawabnya dengan gugup.


"Sialan !! bagaimana bisa, Ranti dimana kau sayang" Leon mengusap wajahnya kasar lalu dengan cepat memerintahkan Martin untuk pergi ke tempat yang sudah di katakan oleh Dion tadi.


Mobil yang di tumpangi oleh Leon melaju dengan sangat cepat melintasi jalan bahkan hanya butuh waktu sebentar untuk Leon tiba di sana.


"Aku akan benar-benar memotong orang yang terlibat kali ini!!" Geramnya.


...****************...


Mobil mewah tersebut berhenti tepat dimana mobil yang dinaiki Ranti terparkir.


"Ini mobilnya tapi di mana mereka ?" Tanya Martin yang tampak kebingungan.


Leon yang memang sudah tidak peduli dengan apapun langsung keluar dari dalam mobil tersebut. Ternyata di sana tepatnya di rumah Intan sudah ada Rina dan juga Atika yang sedang membantu mengobati Bodyguard Ranti yang terluka tersebut.


Karena merasa ada yang datang sontak mereka semua menoleh ke arah Leon yang berjalan ke arah mereka. Dion dan para bodyguard tersebut sontak memberikan hormat.


"Bos maaf kami tidak bisa menjaga nyonya dengan baik." Ungkap mereka yang tampak sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi pada mereka.


'Tamatlah sudah riwayat ku.' Pikir mereka.


"Cklek"


"Deg"


"Kalian memang pantas mati!." Ungkap Leon dengan nada dinginnya disertai dengan pistol yang ia arahkan tepat kearah kepala Dion.


'Astaga siapa pria ini kenapa begitu menakutkan.' pikir Rina dan juga Atika yang berada di sana.


"Bos saya mohon anda untuk tenang kita harus menemukan nyonya terlebih dahulu." Ujar Martin yang mencoba membujuk tuannya itu.


"Sialan!!" Geramnya.

__ADS_1


"Kalian!! CEPAT KATAKAN APA YANG TERJADI!! JANGAN ADA YANG TERLEWAT SATUPUN!!" Saat ini pria itu benar-benar sudah diselimuti api kemarahan.


"Ba-baik bos" Jawab Dion sedikit gugup. Pria itu mulai menceritakan bagaimana Ranti yang menemuinya dan meminta untuk membantu temannya yang terlibat masalah dan juga bagaimana mereka berkelahi yang awalnya mereka unggul tapi tanpa disangka ada sekelompok orang datang yang mereka perkirakan bukan anak buah dari pria tua itu. Orang-orang itu terus menyerang mereka hingga akhirnya mereka kalah karena jumlah musuh yang terlalu banyak.


"Apakah ada yang mencurigakan dari orang-orang itu?" Tanya Leon yang sudah mengendalikan dirinya.


"ituu..." Dion tampak berpikir sejenak.


"Saya melihat tato bunga mawar di punggung tangan anggota mereka bos." Potong salah satu bodyguard tersebut.


"Jadi mereka...kali ini aku akan menghancurkan para semut rusak berguna itu." Ujar Leon dengan hawa membunuhnya yang kuat.


"Siapa kalian berdua?" Tanya Alexia yang melihat sosok Atika dan juga Rina disana. Tampak kedua gadis itu merasakan ketakutan.


"Ka-kami sahabat Ranti dan juga Intan." Jawab Rina dengan gugup.


"Kenapa kalian bisa berada disini?" Kali ini Martin yang bertanya.


"Itu...i -tu karena ini rencana kami maksudnya kami berempat untuk menolong Intan." Jelas Rina.


Leon hanya menatap tajam mereka seolah meminta untuk menceritakan apa yang sebenarnya akan di lakukan orang ini disini.


"Kenapa wanita itu selalu saja melakukan hal hal yang berbahaya." Gumam Leon lalu mengusap wajahnya dengan kasar.


"Drrt,drrt,drrt" Ponsel milik Leon kembali bergetar.


Dari sana tampak salah satu anak buahnya telah berhasil melacak di mana Ranti berada.


Setelah mengetahui hal tersebut Leon dengan cepat pergi di ikuti oleh Martin dan juga Alexia.


'Kau harus baik-baik saja!!'


Di dalam sebuah ruangan gelap dengan jeruji besi sebagai pembantas, lebih tepatnya tempat itu seperti sebuah penjara bawah tanah tampak dua orang wanita tengah terbaring tidak sadarkan diri. Yang satunya tampak teluka dengan darah yang berada di dahinya serta baju yang berwarna biru laut itu telah berubah warna akibat darah yang mengalir dari bahunya.


"Ummm"Intan mulai membuka matanya.


"Dimana ini?"


"Astaga Ranti ! dimana Ranti?" Paniknya saat mengingat temannya itu.

__ADS_1


Pandangan matanya mulai menelusuri tempat tersebut hingga ia dapat melihat sosok Ranti yang terbaring tidak jauh darinya.


"Ranti!!" Ujarnya dan mulia berjalan mendekat kearah gadis itu.


"Ran? bangun Ran? kenapa tangannya sangat dingin?Astaga ya Tuhan kumohon!!" Panik Intan.


Intan tampak menyobek sedikit bajunya dan mengikatkan nya di bahu dan juga kepala gadis itu ia berharap ini dapat membantu mencegah darah yang terus keluar itu.


"Ma-maaf Ranti ini semua salahku hiks seharusnya aku tidak melibatkanmu hiks maaf..." Isaknya.


"Ja-jangan menangis aku nggak apa-apa kok." Jawab Ranti yang baru saja tersadar itu. Ya walaupun boleh jujur saat ini seluruh badannya benar-benar merasa sakit.


"Kamu bohong dan itu menyebalkan hiks." Intan kembali menangis.


'memang Intan sipaling baik hati.' Batinnya.


"Sudah-sudah sekarang lebih baik kita memikirkan cara bagaimana keluar dari tempat ini."Ranti berpikir bahwa jika mereka tidak segera melarikan diri maka mereka akan benar-benar mati disini.


"Kita tidak bisa kabur, aku tidak melihat celah Tan." Ungkap Intan yang tampak putus asa.


"Tidak, pasti ada jalan aku yakin itu. Tapi Tan sebenarnya siapa kamu kenapa orang-orang aneh ini mau mencelakai kamu?Tanya Ranti bingung karena seingatnya orang-orang ini terus mengincar Intan bukan dirinya berarti mereka bukanlah musuh dari Leon tapi dari Intan.


"A-aku..." Intan tampak ragu untuk mengatakannya.


"Apa Tan tapi jika kamu nggak mau cerita aku nggak mau memaksa kamu." Ujar Ranti .


"Ti-tidak aku akan cerita, sebenarnya ayahku termasuk dalam anggota mafia yang bernama Black Rose." Ujar Intan.


"Astaga!! mafia? apakah kamu serius?" Ranti tampak kaget.


"Iya...seharusnya ayahku yang menjadi pemimpin di Black Rose akan tetapi dia lebih memilih untuk berhenti dan menjadi orang biasa demi keluarganya tapi mereka berpikir jika ayahku berhenti karena ingin menghancurkan Black Rose dan juga ayahku kan tau mengenai rahasia organisasi ini." Jelasnya.


"Jadi kenapa malah kamu yang di incar?" Tanya Ranti.


"Karena aku juga mengetahui mengenai rahasia itu, sebenarnya aku tidak sengaja mengetahuinya saat aku tidak sengaja melihat isi dari flashdisk yang rupanya bukti kejahatan Black Rose karena kupikir itu flashdisk kosong jadi aku meminjamnya tapi siapa sangka itu adalah barang bukti." Jawabnya.


"Jadi, dimana benda itu sekarang?" Tanya Ranti mereka bisa saja menggunakan flashdisk itu sebagai ancaman kepada penjahat ini itulah yang dipikirkan gadis itu.


"Benda itu..."

__ADS_1


__ADS_2