
"Ka-" Ucapan anak itu tertahan saat Nita yang dengan cepat menutup mulut anak itu agar tidak bersuara. Pelayan itu menyadari bahwa saat ini sedang ada singa tidur disana jadi mereka sama sekali tidak boleh membuat kebisingan. Melihat reflek nita yang bagus Ranti tersenyum lalu menganggukkan kepalanya dan memberikan isyarat kepada gadis pelan itu untuk membawa anak itu pergi beristirahat didalam. Paham akan kode yang diberikan oleh majikannya itu Nita dengan cepat membawa anak kecil itu kedalam.
"Kak Nita...kenapa kita kedalam? tadi kakak baik sedang dimakan dengan pria jahat itu." Ucap anak kecil itu saat Nita yang sudah membuka tangannya dari mulut kecil itu.
"Aduhhh bukan begitu, pria itu tidak sedang memakannya." Jelas Nita sambil memijat pangkal hidungnya.
"Jadi tadi itu apa?" tanya anak itu.
"Itu...Mereka sedang bermain peluk pelukan.iya mereka sedang bermain." Jawab gadis itu dengan cepat.
...****************...
Ditaman saat ini Leon masih dalam lelapnya sedangkan Ranti hanya diam sambil memperhatikan suasana sore itu.
"Tinggal 40 hari lagi." Gumamnya pelan dengan semilir angin yang menerpa tubuhnya.
"Semua akan kembali seperti awal, kita akan menjadi orang asing kau akan melanjutkan hidupmu dan aku juga akan begitu. Kita akan memulai hidup dengan normal kembali."Gadis itu masih bergumam sendiri.
"Kenapa kita harus bertemu jika akhirnya harus seperti itu?aku terluka karena cinta sendiri ini. Apakah setelah itu aku dapat melanjutkan hidupku seperti biasa?. Apakah Ranti yang dulu akan kembali?atau justru aku akan menghilang?" Perlahan bulir air mata membasahi pipinya.
"Bagaimana aku bisa melanjutkan hidupku nantinya?aku takut benar-benar takut hari itu akan datang dan aku harus menerimanya." air mata itu terus saja mengalir tanpa ingin berhenti.
Sedangkan saat ini Leon mendengar semua apa yang dikatakan gadis itu. Netra hitam itu menatap wajah yang menangis itu dari samping.
Tapi tidak ada satu katapun yang keluar dari bibirnya. Ia hanya terus menyandarkan kepalanya di bahu gadis itu.
'Aku janji kau akan hidup bahagia setelah itu, kau akan bahagia tanpa aku. Semua yang kau rasakan saat ini akan menghilang itu hanya akan menjadi perasaan sesaat mu.' Pikir lelaki itu dalam hati tanpa mengeluarkannya. Namun laki-laki itu semakin mengeratkan pelukannya terhadap gadis itu. Lalu menghirup dalam-dalam aroma dari tubuh gadis itu.
"Hiks,Hiks,Hiks..." Suara tangis Ranti yang sedikit tertahan karena takut membangunkan pria itu.
Angin dan senja menjadi saksi bisu bagaimana mereka tersiksa oleh pilihan mereka masing-masing.
Ditempat lain didalam ruangan gelap tampak seorang laki-laki dengan wine yang ada ditangannya sedang sibuk dengan papan caturnya itu. Kali ini terlihat bahwa bidak yang dimainkannya sedang berada dalam posisi terancam membuat pria itu terdiam sejenak.
__ADS_1
"Anda kalah tuan." Ucap seseorang yang manjadi rivalnya dalam bermain catur itu. Namun pria yang dipanggil tuan itu sama sekali tidak bergeming justru tertawa puas.
"Hahaha aku pemegang kuasa disegalanya. Tidak ada kata kalah dalam kamusku Ren hahaha." Ucapnya dengan suara ketawa yang menggema disana.
"Tapi anda telah kalah tuan, jika anda bergerak maka anda akan kalah." Jawab pria yang masih menjadi rivalnya itu.
"Bukan seperti itu permainannya Ren,Kau yang sudah terjebak dari tadi." Ucapnya lalu mulai menggerakkan salah satu pionnya.
Pria tersebut membulatkan matanya saat menyadari bahwa saat ini dialah yang sedang dalam posisi terpojok.
"Ba-bagaimana bisa?" Tanyanya bingung saat melihat pion-pion caturnya itu. Lalu tak lama pria itu mengerutkan keningnya.
"An-anda bermain curang tuan." Ucapnya.
Bukan nya mengelak justru pria itu tertawa puas dengan apa yang dikatakan bawahannya itu padanya.
"Aku memang curang, dan kau bisa apa?" Tanyanya dengan nada dinginnya.
"Kemenangan itu tidak melihat apa yang salah dan juga benar ren tapi yang dilihat hanya siapa yang kalah dan siapa yang menang. Jika kau menang maka kau bisa membuat yang salah menjadi benar." Terangnya lalu meneguk kembali wine yang ada ditangannya itu.
"Tidak aku belum merasa pintar jika belum bisa mengalahkan Frederick Leonardo Ze sang king." Ucapnya dengan tatapan tajamnya.
"Sebentar lagi tuan pasti bisa mengalahkan nya karena anda telah tau apa kelemahannya." Sambung pria itu.
Kembali ke pasangan rumit kita, saat ini mereka masih berada ditaman dengan posisi yang masih sama seperti tadi.Ranti yang tidak beranjak pergi karena menunggu agar pria ini terbangun dengan sendirinya sedangkan Leon yang sudah bangun tapi masih pura-pura tidur.
(kasian Ranti pegel pasti nahan badan tu Leon).
"Huh" Gadis itu menghela nafas panjang saat merasakan pegal yang terasa dibahunya itu.
"Hmm Tuan Leon bangun..." Cicitnya dengan sangat pelan.
"Hmm iya bentar dulu." Jawab laki-laki itu berpura-pura baru bangun tidur itu.
__ADS_1
"Sudah hampir magrib ternyata." Ucapnya dengan akting luar biasanya.
"Iya makanya kita harus kembali ke dalam. Kau bisa kembali beristirahat didalam " Ucap gadis itu namun pandangannya masih mengarah ke depan itu.
"Hmm baiklah." Jawab pria itu.
"Hei Akh ..." Ranti menjerit terkejut saat tiba-tiba saja lelaki itu membawanya ke dalam dengan cara menggendongnya seperti seekor Kuala.
"Jangan berteriak atau kujatuhkan nanti." Ancam laki-laki tersebut dengan senyum yang ia sembunyikan.
Mendengar hal tersebut Ranti segera diam tanpa mengatakan satu katapun. Namun matanya membola saat mendengarkan suara anak kecil yang ia kenal itu.
"Kakak sudah besar masih digendong ya" Ucap anak itu dengan mata polosnya.
Mendengar hal tersebut Ranti segera mengalihkan wajahnya mencari anak itu. Ternyata saat ini anak itu tepat berada didepan Leon dengan memegang sebuah permen ditangannya.
"I-itu kakak .."
"Dia sedang sakit kakinya." Sambung Leon dengan cepat. Untuk kali ini ia merasa bersyukur dengan sifat sarkas dari Leon.
"Iya begitu." Tambah Ranti.
"Oh jadi begitu, betul kata kak Nita bahwa kakak dengan pria jahat ini sedang main." Jawabnya dengan polos.
"Main?" Tanya Ranti yang sedikit bingung.
"Iya kak main,Kata kak Nita nanti jika kakak dengan pria jahat ini sering main maka bisa dapat anak kecil kayak aku." Ucapnya lagi sembari membuka permennya.
'Nita kau benar-benar mengajarkan hal sesat kepada anak kecil ini.' Ranti ingin sekali rasanya mencakar gadis itu bila bertemu dengannya nanti.
"Tidak bukan seper-"
"Iya kami sedang bermain jadi jangan ganggu kami dulu." Ucap Leon yang memotong kalimat Ranti begitu saja.
__ADS_1
Mendengar hal tersebut Ranti benar-benar dibuat geleng-geleng kepala. Seluruh wajahnya seakan-akan panas mendengar penuturan dari Leon.
"Oh begitu, kalau begitu ojan pergi main dengan kak Nita aja deh. Dadah kakak baik mainnya hati-hati ya" Ucap anak kecil itu dan akhirnya berlari meninggalkan Ranti dengan muka Semerah kepiting rebus itu.