Gadis Biasa Menikahi Mafia Tampan

Gadis Biasa Menikahi Mafia Tampan
Bintang Jatuh


__ADS_3

"Terserah kau saja." Jawabnya kembali dengan setenang mungkin.


"Huh..." Pria tersebut menghela nafas seakan akan merasa frustasi.


"Baiklah, aku tidak mengerti dengan jalan pikiranmu itu tapi ada satu yang harus kau lakukan yaitu kau harus makan dan minum obat!" Ucap tegas pria itu.


"Tapi aku tid-"


"Hustt...ini perintah bukan permintaan apalagi pertanyaan jadi tidak butuh pendapatmu!" Ujarnya dengan nada intimidasinya.


...****************...


"Buka mulutmu baru makan lah ini." perintah Leon yang saat ini tengah mengarahkan sendok yang berisi nasi itu di depan Ranti. Lama tangannya dalam posisi tersebut hingga akhirnya sang empu pun merasa lelah dan meletakkan kembali sendok tersebut kedalam piring lalu meletakkan piring tersebut keatas nakas.


"Baiklah, padahal aku tadi ingin mengajakmu melihat bintang jika kau mau makan dan minum obat. Tapi jika tidak mau yasudah aku juga tidak bisa memaksa."Ujarnya setelah itu hendak melangkah pergi keluar kamar itu.


Ranti sedikit melirik dengan ujung matanya saat menyadari bahwa pria tersebut telah membelakanginya.


'Apakah benar ia ingin mengajakku melihat bintang?tapi nanti jika dia berbohong bagaimana ?apa yang harus aku lakukan?tapikan dia selalu memegang perkataannya jadi ini pasti benar.' Pikirnya menimbang keputusan apa yang harus ia pilih.


"Hei,Tu-tunggu." Ucap Ranti sedikit ragu. Leon yang awalnya akan membuka pintu tersebut segera berhenti seolah olah menunggu gadis itu untuk menyampaikan niatnya.


"Kau tidak berbohong kan?"tanya gadis itu untuk memastikannya lagi.


Senyuman tipis terbit begitu saja menghiasi wajah tampan itu. Namun karena saat ini ia sedang membelakangi Ranti maka gadis itu tidak dapat melihat senyum sempurna itu.


"Aku tidak berbohong,"Jawabnya lalu kembali berjalan kerah Ranti berada. Sedangkan gadis itu kembali mengalihkan pandangannya. Lagi-lagi Leon geram dibuatnya.


"Baiklah aku mau makan dan minum obat tapi awas saja jika kau bohong. Aku benar-benar tidak akan mau makan lagi ataupun minum obat."Ancam gadis itu yang membuat Leon hanya menghela nafas. Gadis didepannya ini memang benar benar sulit untuk dihadapi bagi Leon yang merupakan mafia paling ditakuti itu. Baginya lebih baik berkelahi melawan puluhan orang dari pada harus berdebat dengan gadis itu.


"Iya aku akan melakukan apa yang kau mau selama kau juga menuruti apa saja yang kuperintahkan." ujar Leon masih tidak mau kalah.

__ADS_1


"Baiklah aku setuju, setelah ini aku akan makan lalu minum obat setelah itu kita pergi." Ucap gadis itu yang tampak mulai luluh.


Tangannya dengan cepat ingin mengambil piring yang berisikan nasi lengkap dengan lauk pauknya yang diletakkan oleh Leon diatas nakas itu. Tapi belum sempat tangannya menggapai piring itu tangan Leon sudah mendahuluinya.


"Kau mau apa ?"tanya Ranti dengan menatap kearah Leon. Sedangkan yang ditatap menyembunyikan senyum tipisnya.


'Akhirnya dia mau melihat kearah ku lagi.' pikir pria tersebut.


"Biar aku yang menyuapimu." ucapnya yang langsung mendudukkan dirinya tepat di samping Ranti. Gadis tersebut sebenarnya ingin menolak namun apa yang dapat dikata hatinya sangat senang jika Leon ingin menyuapinya.


"Aaa buka mulutmu." Laki-laki itu mengarahkan sendok tersebut kearah Ranti sedangkan gadis itu menurut patuh dengan membuka mulutnya.


"hmm" Leon menggerakkan jari telunjuknya kearah bibirnya sendiri untuk memberi isyarat kepada Ranti jika ada makanan yang menempel di bibirnya.


'Apa lagi maksudnya?' pikir Ranti bingung saat melihat Leon meletakkan jari telunjuk keatas bibirnya itu, apakah dia minta dicium. Gadis itu benar-benar terhanyut dalam pikirannya sendiri.


"A-aku tidak mau mencium mu,"Jawabnya ragu dengan wajah yang sudah seperti udang rebus tersebut.


"Siapa yang memintamu untuk menciumiku?aku hanya ingin mengatakan bahwa ada nasi yang tertinggal dibibirmu." Jawab pria itu dengan nada yang mengejek. Sedangkan Ranti jangan ditanya betapa malu dirinya saat ini.


"Aaa buka mulutmu masih banyak yang harus kau makan." Leon saat ini sudah mengarahkan sendok tersebut kedepan wajah Ranti.


Sedang gadis itu bukan membuka mulutnya justru menatap tajam kearah Leon.


"Kenapa melihat seperti itu?tanya pria itu dengan menaikkan satu alisnya.


"Kau menyebalkan" jawabnya dengan kesal karena pria ini yang telah membuatnya jadi seperti ini malah bersikap dengan tenangnya.


"Huh...makanlah ini dulu, aku tau kau malu karena kejadian tadi, tapi aku akan pura pura tidak mengetahuinya. Bagaimana? sudah puas sekarang?." Ungkapnya untuk meyakinkan gadis itu. Jika tidak maka Ranti tidak akan menghabiskan makanannya dan ujung-ujungnya mogok makan lagi seperti tadi.


Mendengar hal tersebut Ranti masih menatap pria tersebut dengan tatapan menyelidik.

__ADS_1


'Tumben baik ?biasanya tidak perduli apa lagi coba rencananya?' pikirnya.


"Cepatlah buka mulutmu tanganku sudah pegal" Ucap pria itu yang sudah lelah memegang sendok melayang itu.


"Baiklah" Ranti akhirnya memakan habis semua yang diberikan Leon padanya. Bahkan menurut Ranti disuapi oleh Leon rasanya jauh lebih enak daripada makan sendiri.


Setelah menyelesaikan makan dan minum obatnya yang penuh drama itu. Akhirnya saat ini mereka sedang berjalan-jalan kearah taman yang dipenuhi oleh bunga indah itu.


"Cantiknya mana banyak kunang-kunang lagi, tempat ini benar-benar istimewa dan indah seperti negeri dongeng."Ucap gadis itu dengan riang dengan senyum yang terus mengukir wajahnya. Walaupun saat ini mau tidak mau ia harus menikmatinya diatas kursi roda dengan Leon dibelakangnya.


"Kau suka?"Tanya Leon yang berada tepat dibelakang Ranti.


"Aku suka bahkan sangat suka." Jawabnya dengan tatapan yang masih menatap kearah bunga bunga itu. Namun mendadak pandangannya menatap pada langit yang ternyata lebih indah lagi.


"Leon lihat ada bintang jatuh cepat buat permohonan." Gadis itu sangat bahagia hingga memanggil Leon tanpa embel-embel tuan didepannya. Sedangkan laki-laki itu tersenyum bahagia dibelakang.


'Kuharap Leon selalu bahagia selamanya.' Gadis itu menyampaikan permohonannya itu dengan mata yang tertutup. Tampak terlihat sangat menikmati dengan momen pada saat ini.


Sedangkan Leon menatap sendu kearah gadis itu lalu netra hitam itu kembali melihat kearah langit malam dengan bintang jatuh itu.


Matanya ikut terpejam menyampaikan keinginannya.


'Berikanlah semua kebahagiaan kepada gadis ini. Bahkan semua kebahagiaan milikku' pintanya pada malam itu tanpa diketahui oleh siapapun kecuali dirinya sendiri.


Akhirnya setelah beberapa saat pria tersebut kembali membuka matanya dan Leon sedikit terkejut pada saat mendapati Ranti yang sedang menatap kearahnya.


"Apa permintaan mu tuan Leon ?"Kali ini Ranti kembali memanggilnya dengan embel-embel tuan lagi.


"Tidak ada" Bohongnya. Ranti yang percaya begitu saja dengan patuh menganggukkan kepalanya mengerti.


"Kau sendiri apa yang kau minta?" kali ini pria tersebut yang bertanya.

__ADS_1


"Hmm aku berdoa agar orang yang menjadi suamiku saat ini selalu bahagia." Jawabnya dengan tenang. Bagi Ranti untuk apa menyembunyikannya toh Leon juga sudah tau jika dia menyukainya.


"Baguslah jadi dia akan memiliki cukup kebahagiaan untuk diberikan kepadamu" Gumam laki-laki itu dengan pelan.


__ADS_2