Gadis Biasa Menikahi Mafia Tampan

Gadis Biasa Menikahi Mafia Tampan
Masalah Intan (3)


__ADS_3

"Aku berpikir kenapa Intan tidak mencoba untuk memancing emosi pria tersebut lalu mengirimnya ke group kita sehingga kita punya bukti."Jelasnya.


"Tapi itu terlalu beresiko Intan bisa dalam bahaya."ujar Atika.


"Sebenarnya awal dari itu aku berpikir agar kita menginap di tempat Intan tapi akan sulit bagi kita untuk melakukan sesuatu apalagi memanggil polisi. oleh sebab itu bagaimana jika Atika dan juga Rina bersiap di dekat kantor polisi jdi setelah barang bukti telah dikirim kalian bisa langsung melaporkannya dan membawa polisi ke tempat Intan. Sedangkan aku akan membantu intan untuk mengulur waktu sebisa mungkin."Jelasnya Ranti tau benar jika hal ini beresiko oleh sebab itu ia sudah memikirkan untuk membawa Leon bersamanya.


"Tapi bagaimana jika kami terlambat dan kalian sudah terluka."Tanya Atika.


"Kami akan baik-baik saja." Ucapnya meyakinkan.


"Baiklah kuharap kita dapat berhasil dan teman-teman terimakasih karena sudah mau menolong ku." Ujar Intan dengan senyumannya.


#Flashback off


...****************...


Laki-laki itu terus mendekat kearah Intan yang saat ini mencoba untuk menyelamatkan dirinya.


'Kumohon semoga mereka cepat datang.' Panik Intan yang sudah dalam kondisi terdesak itu.


Ranti yang baru saja sampai dapat melihat bagaimana sahabatnya itu sedang dalam kesusahan dan tanpa pikir panjang ia langsung berjalan cepat ke sana.


"Apa yang ingin kalian lakukan pada sahabatku ?" Tanya nya dengan tegas.


Mendengar hal tersebut sontak mereka langsung melirik kearah Ranti dan juga dengan tiga orang laki-laki bertubuh besar dibelakangnya.


"Oh ternyata kau memiliki teman yang lumayan ya?" Gumam pria tua itu pada Intan yang berada di dekatnya itu.


"Itu bukan urusan mu kakek, lebih baik anda bertobat dari pada menggoda gadis muda seperti kami ini." Ujar Ranti.


"Hei kau cantik tapi mulutmu sangat pedas ya? sepertinya kau juga bagus jika menjadi istriku bagaimana? aku akan melepaskan teman tersayangmu ini jika kau bersedia."Ucapnya dengan terus memperhatikan penampilan Ranti dari bawah hingga atas.


"Apa yang kau lihat dasar kakek cabul." Ranti benar-benar merasa kesal dengan pria tua yang tidak tau diri itu.


'Jika disini ada bos maka bisa di cungkilnya mata pria tua cabul ini.' Pikir Dion.


"Aku makin tertarik padamu cantik" Ucapnya lagi.


"Cih." Ranti meludah jijik dengan ucapan pria itu.

__ADS_1


"Baiklah mari kita bertindak secara kasar dari pada aku terus mengoceh disini kalian berdua akan tetap menjadi istriku hahaha." Ujarnya. Sedangkan Ranti dan Intan sudah ingin muntah mendengarnya.


'Untung suami tersayangku tidak dengar jika dia dengar bisa selesai kau pak tua.' Pikir Ranti yang melihat ada untungnya ia tidak membawa Leon.


"Kasihan Ranti ia pasti merasa tertekan juga menghadapi pria tua ini."Gumam Intan yang merasa cukup bersalah.


"Kalian Tangkap mereka semua dan bawa ke tempat kediaman ku dan aku akan menikahi mereka malam ini juga." Ujarnya.


Akhirnya terjadilah pertarungan antara orang-orang pria itu dengan bodyguard yang di bawa Ranti. Sejauh yang dilihat bahwa bodyguard Ranti lebih unggul walaupun mereka kalah jumlah.


"Syukurlah" Gumam Ranti.


Tapi tak lama gadis itu melihat seseorang berjalan mendekat kearah Intan dan seakan akan ingin berbuat jahat padanya.


"Intan dalam bahaya aku harus segera menolongnya" Gumam Ranti yang berlari kearah Intan untuk menolong gadis itu.


"Intan awas dibelakangmu!" Ranti mendorong intan dengan sekuat tenaga sehingga dia dapat menghindar dari sosok dengan jubah hitam dan juga sebuah pisau di tangannya.


"SRETT"


"BUGH"


Ranti yang menghalangi hal tersebut sedikit terluka di bagian bahunya pisau itu memberikan sayatan yang cukup panjang sehingga meneteskan darah yang lumayan banyak.


"Ranti kau tidak apa-apa?" tanya Intan dengan sangat khawatir.


"Aku tidak apa-apa ini hanya luka kecil." ujarnya untuk menenangkan Intan.


sosok itu tidak menyerah ia mencoba untuk kembali menusuk mereka yang saat ini sedang terduduk di atas tanah itu. Tapi dengan cepat Ranti menendang perut sosok itu hingga ia terjatuh.


"Akh..." Sosok tersebut sedikit menjerit.


"Kau seorang wanita ?" Tanya Ranti yang saat ini tengah berjalan kearah sosok tersebut dengan tangan yang berlumuran darah karena menutupi luka yang ada di bahunya itu.


"Aku ingin tau sebenarnya siapa kau ? dan apa maumu?" Tegas Ranti.


"Plang" Ranti menendang jauh pusat milik wanita yang belum diketahui identitasnya itu.


"Cepat katakan siapa kau?" Ranti mulai membuka tudung yang menutupi wajah wanita itu.

__ADS_1


"RANTI DIBELAKANG MU!!" Teriak Intan saat melihat pria tua itu yang sedang memegang kayu dan berjalan kearah Ranti .


"Ha!" Gadis itu menoleh.


"BUGH"


"BRUKK" Ranti langsung merasakan sakit saat kayu itu tepat mengenai kepalanya. Gadis itu dapat merasakan cairan hangat yang entah dari mana datangnya. Hal terakhir yang dapat ia lihat hanya Intan yang mencoba berlari kearahnya tapi tiba-tiba ada banyak pria yang membawanya begitu pula dengannya melihat ada sosok pria yang mendekat kearahnya.


"Aku benar-benar mengantuk." Setelah mengucapkan itu Ranti langsung tidak sadarkan diri.


Sedangkan saat ini Leon, Martin dan juga Alexia tengah dalam perjalanan untuk kembali ke mansion milik Leon.


'Ha kenapa harus ada urusan mendadak seperti ini aku jadi tidak bisa menghabiskan waktu dengan Ranti menyebalkan.' Batinnya.


"Tak lama setelah melewati kawasan hutan yang memang tidak ada signal itu. Notifikasi mulai berbunyi di handphone milik mereka bertiga.


Sontak mereka langsung melirik kearah handphone mereka.


"Istriku" Gumam Leon saat melihat belasan panggilan dari Ranti begitu pula dengan Alexia yang melihat belasan panggilan dari nyonyanya itu.


"Tuan nyonya juga menghubungi saya dan sepertinya dia juga mengbungi Martin." Jelas Alexia.


Mendengar hal tersebut dengan cepat Leon menelpon istrinya tersebut namun ia tidak mendapat jawaban apapun.


"Apa dia sudah tidur." Gumam Leon yang akhirnya menghentikan aksi menelponnya itu karena takut dapat mengganggu tidur istri tercintanya itu.


Tak lama handphone Leon berbunyi segera ia angkat tanpa melihat nama dari orang yang telah menelponnya tersebut.


"Tuan...anda harus cepat kemari nyonya menghilang." ucap dari seberang sana tepat nya telpon tersebut berasal dari Dion yang baru saja terbangun dari pingsannya itu.


"Apa maksudmu dimana kau sekarang dan siapa kau ?" Tanya Leon yang tampak emosi tersebut.


"Sa-saya Dion tuan supir nyonya saat ini way sedang berada di jalan xxx blok xxx nomor xx." Jawabnya dengan gugup.


"Sialan !! bagaimana bisa, Ranti dimana kau sayang" Leon mengusap wajahnya kasar lalu dengan cepat memerintahkan Martin untuk pergi ke tempat yang sudah di katakan oleh Dion tadi.


Mobil yang di tumpangi oleh Leon melaju dengan sangat cepat melintasi jalan bahkan hanya butuh waktu sebentar untuk Leon tiba di sana.


"Aku akan benar-benar memotong orang yang terlibat kali ini!!" Geramnya.

__ADS_1


__ADS_2