Gadis Biasa Menikahi Mafia Tampan

Gadis Biasa Menikahi Mafia Tampan
Rain


__ADS_3

Setelah bersiap akhirnya mereka telah duduk manis di meja makan dengan makanan yang telah tersedia disana.


"Woahh ini ni yang Kusuka jika ada Ranti, kita tidak perlu lagi makan mie instan." Ujar Rina dengan bahagia. Di karenakan diantara mereka hanya Ranti lah yang bisa memasak sedangkan mereka bertiga ya bisa juga tapi hanya goreng telur dan masak nasi hanya itu saja.


"Iya Ran kaulah penyelamat lambung kami." Timpal Atika dengan terus memasukkan nasi ke dalam mulutnya.


"Ada-ada aja hehehe." Jawab Ranti sebenarnya dalam hati dia sangat menyukai suasana ruang makan yang terbilang cukup bersahaja ini tapi entahlah ingatannya masih tertuju pada saat ia makan bersama dengan Leon.


"Kamu kenapa Ran ? apa ada yang sakit?."Tanya intan dengan cemas karena melihat temannya itu yang tampak gelisah.


...****************...


Hingga akhirnya malam hari tiba tampak rumah Intan mulai sepi karena para penghuni rumah yang sudah terlelap di kamar masing-masing tapi tidak dengan sosok gadis yang tampak meringkuk dengan isakkan tangisnya.


"Hiks,hiks,hiks aku merindukannya...tapi aku juga sangat kecewa padanya. Dia benar-benar membuangku demi ulet itu hiks hiks." Gadis itu terus menangis tanpa ada seorang pun yang tau.


"Hiks Leonnnnn....hiks kenapa kau berubah hiks hiks hikss." Hingga akhirnya suara itu melemah dan gadis itu terlelap dalam tidurnya.


Sedangkan di tempat lain seorang pria gagah nan tampan tampak serius dengan tumpukan dokumen di depannya.


"Sialan!!...sudah berapa hari aku tidak tidur..." Pria itu tampak memijat ujung hidungnya.


"Tok,tok,tok." Suara pintu ruangan Leon yang membuat pria itu hanya memandang sekilas karena sudah dapat mengetahui siapa sosok yang mengetuk pintunya itu.


"Leon kau juga tidak tidur lagi hari ini ?" Tanyanya.


"Ada aku memerintahkan mu untuk masuk?" sorot mata pria itu sungguh tajam.


"Harus kah?" Tanyanya langsung duduk di sofa yang ada disana.


"Pergilah! atau aku akan menyeretmu !!" Titahnya.


"Aku tidak mau, sayang kau kan sangat menyayangiku hingga kau membuang istr...."


"PRANGG." belum sempat sosok itu menyelesaikan ucapannya tapi sebuah gelas melayang kearahnya untung saja dia dapat menghindar.

__ADS_1


"Jangan pernah melewati batasanmu ! Amelie!!!"Sungguh gadis itu menyita kesabarannya.


"Oke oke, santai oke, untung aku hebat bisa menghindari jika tidak aku bisa babak belur gara-gara tu gelas." Gadis itu mengambil jeruk yang ada disana.


"Diamlah!!"


"Kau ya, semenjak tu Ranti pergi sudah seperti orang gila,ayolahhh Leon kau ini sebenarnya sedang menyiksa musuh mu atau ingin menyiksa dirimu sendiri." Jelas gadis itu yang masih asik mengupas jeruk itu.


"Kau tidak tau apa-apa."


"Hei ayolah apa yang aku tidak tau, tentang apa mulai dari kau yang meninggalkannya di rumah sakit tapi seharian kau berada di situ mengawasinya bahkan hingga dia pulang. Oh atau kau yang pada saat Ranti di rawat menyelinap bagai maling hanya untuk melihatnya secara dekat. Kau itu bucin Leonn." Ujar wanita itu yang kali ini mulai memakan buah yang ada ditangannya.


"Bucin ?"


"CK ck dasar om om kolot bucin itu artinya BUDAK CINTA!!"


"Aku tidak."Pria itu mengelak.


"Hahaha kau itu Leon aku sangat mengenal mu, Tidak bucin dari mana selain tadi kau bahkan harus makan di depan foto gadis itu, tidak bisa tidur tanpanya, dan hebatnya lagi kau sering kulihat menangis hahaha itu artinya kau bucin."


"Sudahlah Leon begini saja kutanya Tetang resiko rencanamu kali ini. Bagaimana jika dia membencimu?" Tanya Amelie yang tampak serius.


"Aku, aku..,aku"


"Kenapa kau ragu?"


"Aku tidak tau." Ujarnya dan dengan jelas Amelie dapat melihat raut kesedihan dari pria itu.


"Tapi itulah resikonya Leon, dengan apa yang kau lakukan dia akan benci padamu. Kalau aku sih pasti akan sangat-sangat membencimu hingga aku bahkan tidak ingin melihatmu lagi apalagi berhubungan."


"Hmm aku pergi aja deh, ini sudah cukup agar orang berpikir bahwa kita sepasang kekasih. Hoam aku mau tidur aja ngomong denganmu itu banyak tegangnya." Amelie mulai berdiri dan perlahan meninggalkan ruangan itu.


"Haaa" Pria itu menghela nafasnya panjang lalu menutup matanya.


'Kamu sedang apa sayang ? apa kamu sekarang merindukanku atau justru membenciku ? aku benar-benar tidak bisa tidur jika tidak memelukmu, duniaku seakan sangat gelap bahkan lebih suram dari sebelumnya. Kamu tau setiap pagi aku selalu berhalusinasi melihatmu ada di dekatku. Kamu tersenyum padaku dengan senyum tulus mu. Aku sangat-sangat mencintaimu bahkan lebih dari apapun. Tapi kuharap kamu bahagia dimana pun walau tanpa diriku.' Air mata turun begitu saja tanpa bisa ia halangi.

__ADS_1


'Kapan kita akan bisa bertemu ? Mohon maafkan aku, tapi kupikir memang lebih baik kau mencari orang lain dari pada bersamaku. Tapi jika begitu maka aku yang tidak akan bertahan tanpamu. Aku benar-benar tidak akan sanggup jika suatu saat melihatmu menggandeng atau tersenyum pada orang lain. Aku bisa gila hanya dengan membayangkannya aku benar-benar akan gila. Tuhan aku mungkin tidak pernah meminta apapun padamu tapi kali ini aku mohon jaga dia untukku, aku hanya ingin bahagia bersama Ranti.' Batinnya.


Pagi hari menjelang tapi yang berbeda kali ini gadis itu sudah tampak rapi.


"Kau yakin mau masuk kuliah Ran? kau benar-benar tidak sakit lagi kan?" Tanya Rina yang tampak khawatir.


"Tidak kok aku sudah sehat bahkan aku sangat-sangat sehat."


'Tubuhku memang sehat Rin tapi tidak dengan hatiku, aku benar-benar terluka bahkan sangat dalam. Jika aku diam saja di rumah, aku akan terus memikirkannya tapi jika aku sibuk setidaknya aku tidak akan lagi memikirkannya bukan?."


"Ran kamu mikirin apasih ? ayo kita pergi." Ajak Intan yang entah sejak kapan sudah ada disana.


"Iya ayokk." Jawab Ranti dengan senyuman.


Mereka menaiki motor dan setengah jam kemudian akhirnya mereka telah tiba di tempat tujuan.


"Ranti!!" Seorang pria tampak memanggil Ranti yang baru saja tiba.


"Emm" Jujur saja Ranti merasa tidak mengenal pria itu.


"Ini aku Rain" Ujar pria dengan perawakan tinggi dan juga tampan tapi jujur lebih tampan Leon.


Gadis itu tampak membulatkan matanya karena terkejut mendengar perkataan sosok itu.


"Iya Ran tu dia Rain tapi sekarang udah glow up hahaha." Ujar Intan.


"Astaga Rain !! kau benar-benar seperti orang yang berbeda huaa" Itulah sifat Ranti yang hebohnya setengah mati. Dalam kamusnya tertera jelas No jaim jaim.


"Hahaha apaansih kalian, aku masih sama kok." Jawab Rain dengan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Tapi kau juga berubah Ranti." Ujar pria itu membuat Ranti membulatkan matanya.


"Ehhm a-apa yang berubah tidak ada kok." Perasaan gugup meliputi hatinya.


"Kau tambah cantik." Ujar pria itu dengan senyumnya

__ADS_1


__ADS_2