Gadis Biasa Menikahi Mafia Tampan

Gadis Biasa Menikahi Mafia Tampan
harus bangun


__ADS_3

"Aku akan kembali besok untuk menemui mu" Ujarnya.


"Cup." Pria itu mengecup singkat kening Ranti.


"dan kamu sayang, jangan nakal dan jaga ibumu ya..." Ujarnya dengan mengelus perut datar Ranti yang sebenarnya sudah sedikit menonjol.


"Ayo kita kembali ke kamarmu dan beristirahat, dan kau kan tadi mengatakan jika dia adalah perempuan yang hebat jadi dia pasti akan baik-baik saja apalagi dia juga orang yang baik pasti Tuhan akan menolongnya." Darwin yang terus mencoba untuk menghibur pria itu.


'hmm kali ini kau harus membuatnya bahagia Tuhan.'


...****************...


Hari-hari berlalu dengan cepat tidak sadar sudah 2 Minggu gadis itu masih dalam keadaan koma, wajahnya sangat tenang walaupun wajahnya terlihat pucat tapi wajahnya masih tetap bersinar. Berbanding terbalik dengan sosok laki-laki yang tampak acak acakan bahkan bulu halus mulai tumbuh di daerah dagunya. Padahal sebelumnya dia adalah pecinta kerapian tapi tanpa gadis itu pria itu tampak seperti mayat hidup.


"Leon, ini sudah saatnya kau pergi, kita harus membiarkan Ranti disini." Ujar Amelie yang memang mengawal pria tersebut. Sebenarnya urusan itu haruslah di kerjakan oleh Martin tapi karena ada hal yang harus di urus jadi Martin meminta tolong pada Amelie untuk menjaga pria itu.


"Aku tidak mau pergi."


"Berhentilah keras kepala Leon."


"Diamlah Amelie!"


"Kau benar-benar tidak mengerti Leon, kau pikir jika Ranti mengetahui keadaan mu saat ini ia akan bahagia? tidak kan. Jadi berhentilah bersikap begitu dan bangkit lah. Kau harus terus hidup untuk anak dan istrimu." Ujar Amelie dengan nada ketusnya.


Tidak ada jawaban dari pria itu ia hanya diam seakan tidak mendengar ucapan dari Amelie.


"Haaaa" Amelie hanya dapat menghela nafas kasar lalu pergi meninggalkan tempat itu.


"Ayolah Ranti bangun...aku benar-benar menderita."


Leon kembali memegang tangan gadis itu tapi entah mengapa tangan gadis itu lebih dingin dari biasanya. Pria itu panik bukan kepalang kali ini ia bingung dengan apa yang harus ia lakukan.


"Dokter!!".


"Dokter!!." Panggil nya dengan kuat.


"Brak"


"Iya ada apa tuan ?"


"ke-kenapa dengan istriku tangannya tiba-tiba sangat dingin padahal sebelumnya tidak." Leon tampak pucat.


"Baiklah anda bisa keluar sebentar saya akan memeriksa istri anda."


"Ta-tapi."


"Saya mohon tuan demi kebaikan pasien." Jelas dokter wanita itu.


Setelah mendengar hal tersebut mau tidak mau leon keluar dari ruangan itu walau hatinya sangat berat untuk meninggalkan Ranti.

__ADS_1


'Ku harap kau harus baik-baik saja.' Pikirnya dengan menatap gadis itu lalu pergi dari ruangan tersebut.


Leon memutuskan untuk menunggu di luar dengan perasaan yang tidak dapat di jelaskan.


"Emm Leon bisa tidak kau jangan mondar-mandir aku pusing melihatnya." Ujar Amelie yang mencoba untuk mencairkan suasana.


Tidak ada jawaban dari pria itu dia masih mondar-mandir seakan-akan tidak mendengar ucapan dari Amelie.


"Haish berbicara dengannya sama saja dengan berbicara dengan batu."


Leon masih tidak memperdulikan Amelie baginya Amelie sama saja seperti angin lalu.


"Bagaimana keadaannya?" Tanya Leon dengan cepat pada dokter yang baru saja keluar dari ruangan Ranti.


"Keadaan nya buruk tuan dan juga..."


"Apa? cepat katakan ?" Tanya Leon dengan tidak sabaran.


"Kondisi bayi kalian memburuk, jika sang ibu tidak segera bangun maka besar kemungkinan bayi kalian tidak dapat diselamatkan." Ujarnya.


"Ka-kau bercandakan ? Tanyanya tidak percaya.


"Maaf tuan." Jawabnya dengan ekspresi menyesal.


"ti-tidak ini ti-tidak mungkin, Ranti pasti akan segera bangun. Di-dia tidak akan membiarkan anak kami terluka. Di-dia akan bangun...Akhhh!! SIALAAN!" Ujarnya dengan histeris.


"Tuan saya mohon anda untuk tenang, jika anda seperti ini maka itu tidak akan menolong apapun." Jelas dokter itu.


"Jadi apa yang harus kulakukan ha!! atau bisakah kau menukar nyawa yang kupunya dengannya? apa kau bisa !!" Ujar Leon dengan penuh emosi.


"Leon! bukan itu maksudnya!!" Amelie benar-benar bingung bagaimana cara untuk menenangkan pria itu.


"DIAM! TUTUP MULUTMU AMELIE!!" Teriaknya.


"Sekarang ku tanya padamu, jika anak itu harus mati maka apakah kesempatan untuk istriku bertahan hidup lebih tinggi ?" Tanya Leon tampak serius.


"Saya tidak bisa memastikan tuan, nyonya bisa menjadi lebih baik tetapi juga lebih buruk. Tapi...sejauh ini jika nyonya mengalami keguguran maka nyawanya juga ikut bahaya." Jelasnya.


"SIALAN!! semua tidak ada yang berguna. Sekarang kau beri tau aku apa yang bisa membuat istrimu selamat!! CEPAT KATAKAN !! ATAU AKU AKAN MENGHABISIMU SEKARANG!" Sorot mata pria itu menunjukan keputusasaan.


"Jika ada maka sudah sejak dulu saya melakukan hal itu."Jelas dokter tersebut. Sebenarnya bohong jika dia tidak takut dengan Leon tapi bagaimanapun ini memang sudah diambang batasnya. Yang dapat menyelamatkan Ranti memang hanya keajaiban.


"Sialan! sialan ! semua tidak berguna...." Leon tampak menjambak rambutnya dengan frustasi.


"Bos anda kenapa ?" Tanya Martin yang baru saja tiba.


"Martin! Jangan mengusiknya atau kau yang akan dibunuhnya." peringat Amelie pada Martin yang mencoba untuk menenangkan Leon.


"Kenapa sih kau ?Tanya Martin dengan kesal.

__ADS_1


"Ais terserah kau saja."


"Bos anda kenapa ? saya akan membantu anda, ada apa?" Tanya Martin.


"Diamlah!!" Geram Leon.


"Aku ingin menemui Ranti...ya sekarang aku harus menemui istriku..." Gumamnya lalu masuk ke dalam ruangan Ranti.


"Bos! anda !" Martin ingin menghentikan pria itu tapi Amelie mencegahnya.


"Jangan kau hentikan, dia tidak akan melakukan hal gila jika bersama dengan istrinya." Jelas Amelie.


"Ya semoga saja."


Sedangkan di tempat lain tampak seorang gadis dengan gaun putih polos sedangan berjalan sendiri di taman bunga Daisy kesukaannya.


"Tempat yang indah aku ingin selalu berada disini." Gumamnya dengan senyum yang tidak hilang dari wajahnya itu.


"Aku akan tetap disini." Ujarnya lalu mendudukkan dirinya diatas rumput hijau itu.


Hingga tiba-tiba anak laki-laki datang padanya dengan mahkota bunga ditangannya.


"Hei, kamu dengan siapa kesini ?Tanya Ranti pada anak itu.


"Ini untukmu."Ujarnya lalu memberikan mahkota bunga itu.


"Benarkah?"


"Iya."


"Terima kasih banyak aku sangat menyukainya".


"Apa kau juga menyukai ku ?" Tanya anak kecil itu dengan tatapan yang tak bisa di jelaskan.


"Tentu saja aku sangat menyukaimu."


"Syukurlah, jika begitu maka kembalilah ke tempatnya" Ujarnya.


"Ketempat siapa ?Tanya Ranti bingung. Karena jujur saja di tempat itu dia sama sekali tidak mengingat apapun begitu pula dengan identitasnya.


"Dengan dia orang yang kau cintai dan dia juga mencintaimu."


"Mencintai ?aku tidak tau orang itu." Ujarnya.


"Kau memilikinya...jadi pergilah dari sini untuk bertemu dengannya."


"Aku harus pergi kearah mana ?" Tanyanya yang tampak bingun.


"Kau hanya perlu pergi ke papa ku..."

__ADS_1


__ADS_2