
"Mie ayam?" Tanya Leon.
"Iya mie ayam."
"Baiklah aku akan menyuruh pelayan membelikannya untukmu." Ucapnya.
"Terima kasih muach..." Ranti mencium layar hpnya karena senang keinginannya yang terkabulkan.
"Sama-sama." Jawabnya.
"Jika begitu bye." Setelah mengatakan hal tersebut Ranti segera memutus sambungan itu.
Leon hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku dari istrinya itu.
"Lucunya..." Gumamnya.
...****************...
Di tempat lain tampak suram seorang pria sedang bersujud kepada sosok yang duduk angkuh di depannya.
"Maafkan saya tuan." Ujarnya.
"Kau tidak berguna James." Ujarnya dengan nada dingin.
"Semua diluar prediksi saya tuan." Jawabnya.
"Hmm omong kosong lebih baik aku menghabisimu karena tidak ada gunanya menyimpan sampah seperti mu bukan?."
"Ti-tidak tuan saya mohon berikan saya satu kesempatan." Pintanya dengan ketakutan.
"Satu kesempatan ?" Pria itu menaikkan salah satu alisnya.
"Iya tuan hanya satu kesempatan, kali ini kita pasti bisa menghancurkan Leon." Ujarnya dengan penuh percaya diri.
__ADS_1
"Baiklah satu kesempatan akan kuberikan padamu." Jawabnya.
Mendengar hal itu James dengan senang mulai menatap tuannya itu.
'Kali ini aku benar-benar akan menghancurkan mu Leon." Pikirnya.
"Pergilah sebelum aku berubah pikiran." Perintahnya yang membuat James dengan cepat meninggalkan pria itu.
Setelah kepergian dari James tampak pria itu terus menatap tajam kearah Leon yang membelakanginya.
Reno sang asisten melihat gelas wine tuannya yang sudah kosong dan dengan cepat pria itu mulai mengisinya.
"Anda melepaskannya?" Ujarnya pelan.
"Siapa bilang." Jawabnya lalu mulai memainkan gelas yang baru berisi wine itu.
"Anda memang susah ditebak tuan," Reno tersenyum kecik mendengar jawaban dari tuannya itu.
"Tapi anda memberinya kesempatan."
Mendengar hal itu Reno tersenyum kecil memang beginilah tuannya itu.
Kembali ke kediaman Leon dimana saat ini Ranti tengah memakan pesanan yang ia minta kepada suaminya itu.
'Bagaimana mungkin benda ini bisa ada cuman dalam 10 menit, wow pengiriman kilat ini namanya.' Pikirnya.
"KREK." Pintu kamar terbuka menampilkan sosok Leon yang selalu terlihat tampan itu.
"Jadi bagaimana? apakah istriku menyukainya?" Tanyanya.
Mendengar pertanyaan itu dengan cepat Ranti menganggukkan kepalanya.
"Syukurlah." Gumam pria itu lalu mengusap puncak kepala Ranti.
__ADS_1
"Terima Kasih." Ujar Ranti setelah menghabiskan mie ayam itu.
"Hmm jaman sekarang mudah ya, ngucapin terima kasih cuman dengan kata-kata." Gumam Leon.
"Cup." Ranti mengecup pipi kiri pria itu yang membuat kedua mata Leon melebar seketika.
"Sudahkan."
Leon menatap Ranti dengan tatapan yang susah di tebak.
"Ada apa ?"
"Bolehkah?" Tanya Leon dengan nada rendahnya.
"Ha?" Ranti menatap bingung pada pria itu.
"eh"
"Cup" Leon dengan cepat menarik tengkuk Ranti lalu menciumnya.
"Hmm" Ranti benar-benar kehabisan nafas dibuatnya.
Leon melepaskan pungutannya lalu kembali menatap Ranti.
"Kamu kan sudah makan tadi sekarang giliran aku yang makan." Kalimat yang langsung dapat dipahami oleh Ranti hingga membuatnya merinding. Apalagi Leon yang mengatakan hal tersebut tepat ditelinganya.
"A-aku Mandi dulu ya." Ujar Ranti dengan pelan.
"Hmm gak." Jawabnya dengan pelan lalu dengan cepat membawa Ranti keatas kasur yang ada di kamar tersebut karena sebelumnya mereka sedang berada di sofa.
Leon perlahan meletakkan gadis itu diatas kasur lalu menindihnya.
"Aku akan pelan-pelan." Gumam Leon saat mendapati sorot ketakutan dari mata gadis itu.
__ADS_1
(sisanya bayangkan sendiri pemirsa☺️✌️)
Akhirnya setelah sekian purnama akhirnya Leon dan Ranti melakukan apa yang dilakukan suami istri pada umunya.