Gadis Biasa Menikahi Mafia Tampan

Gadis Biasa Menikahi Mafia Tampan
Rumah Hantu 2


__ADS_3

'Hampir saja terjadi hadehhh... terimakasih zombie kau lah penyelamat ku.' Pikir Ranti yang merasa sangat bersyukur dengan apa yang baru saja terjadi. Sedangkan pria itu memasang muka masam tanpa mau melihat kearah gadis tersebut.


'Mahluk sialan, mengganggu saja shiitt..' Umpatnya yang merasa benar-benar kesal. Ingin rasanya pria tersebut menembak kepala Zombie jadi jadian itu.


"Door"


"Akh..." Suara tembakan tiba-tiba berbunyi dari luar ruangan tersebut membuat Ranti secara cepat membulatkan matanya. Sedangkan Leon hanya menaikkan satu alisnya.


"Ternyata ada yang ingin bermain-main disini ya ? Baiklah mari kita ladeni." Gumamnya dengan aura membunuh tersebut.


...****************...


"Kau tunggu disini jangan keluar sedikitpun, mengerti!"Perintah laki-laki itu dengan mata tajamnya.


"Tidak mau" Jawab gadis itu dengan nada yang ketakutan. Bagaimanapun ia sangat mengenal suara tadi. Yap betul suara tembakan dan teriakan yang membuat Ranti bergetar karenanya.


"Jangan keras kepala ! jika kau keluar maka itu bisa berbahaya. Jadi, tunggu disini! Jika perlu masuk lagi kedalam lemari itu!." Perintah laki-laki tersebut dengan netra hitamnya itu.


"Ta-tapi kau bagaimana? tanya Ranti yang benar-benar merasa khawatir itu.


"aku bisa mengatasinya." Jawab pria tampan itu.


"Tapi-"


"Tidak ada tapi-tapian masuk kedalam lemari itu sekarang!dan jangan keluar sampai aku yang datang membukanya !" Ucap pria tersebut dengan menarik gadis itu agar mau masuk kembali kedalam lemari itu.


"Kumohon jangan terluka." Gumam Ranti dengan pelan sambil memegang tangan laki-laki itu. Leon yang melihat itu tersenyum kecil menatap gadis itu.


"Pasti" Ucapnya dengan lembut. Ia melepas genggaman tangan gadis itu padanya lalu mengelus pelan surai hitam panjang itu.


Setelah itu pria tersebut menutup pintu lemari dimana Ranti berada. Setelah menutup lemari tersebut sorot matanya yang awalanya menyimpan kelembutan kini berganti dengan sorot mata yang menakutkan.


Perlahan laki-laki itu melangkahkan kakinya kearah pintu keluar tempat dimana keributan itu berasal.


Mata hitamnya tidak ada perubahan saat melihat tubuh laki-laki dengan makeup zombie yang sudah terkapar di lantai itu. Darah segar terus mengalir dari kening pria itu.


Dengan tenang pria tersebut mengeluarkan senjata api yang ia sembunyikan di dalam jaketnya itu. Tanpa rasa takut sedikitpun pria itu berjalan menelusuri tempat tersebut.

__ADS_1


"Door"


"Keluarlah atau kau akan menyesal" Ucap pria itu dengan nada dinginnya. Leon menembak kearah salah satu pembatas disana.


"Hahaha memang king berbeda ya?" Ucap seorang pria yang keluar dari balik pembatas itu.


"Apa maumu?" Tanya Leon dengan menodongkan pistolnya tepat kearah kepala pria itu.


"Ehmm tidak bisakah kita berbincang santai saja? Aku benar-benar sangat senang bertemu denganmu." Jawab pria tersebut dengan senyum lebarnya.


Leon menarik pelatuknya akan menembak pria yang ada didepannya ini.


"Ehh jangan dulu tuan, bukankah ada gadis yang bersamamu. Dia akan takut jika mendengar kebisingan ini." Jawabnya dengan senyuman yang masih terpampang disana.


"Aku tidak peduli." Jawab Leon dengan nada datarnya. Walaupun saat ini ia sedang merasa khawatir pada gadis itu.


"Oh jadi begitu, jadi bolehkan jika dia untukku saja, bagaimana?" Tanya pria tersebut dengan nada main-mainnya.


"Kau!" Leon menggeram kesal saat mendengar penuturan dari pria yang ada didepannya ini.


"Kau ternyata peduli dengannya ya? hahaha ini benar-benar menarik. Maka aku a-"


"Door"


"Kau cukup pintar menghindar." Ucap Leon dengan senyuman membunuhnya itu.


Dalam kamus Leon dia tidak akan membiarkan orang lain mendominasi dirinya. Hanya dia seoranglah yang boleh mendominasi.


"Ternyata sangat susah untuk bernegosiasi dengan mu." Ucap pria tersebut yang kali ini tatapan matanya menunjukkan kemarahan itu.


"Tapi aku tidak sebodoh yang kau kira." Lanjutnya dengan senyum licik yang terpampang diwajahnya itu.


"Akh......." Suara teriakan wanita yang Leon sangat kenal dengan jelas.


"Ranti" Gumamnya pelan. Kali ini tatapan matanya sudah menunjukkan ke khawatiran yang membuat pria didepannya itu tertawa puas.


"Hahaha lihat siapa yang akan kalah."

__ADS_1


"Kau!! aku akan benar-benar membunuhmu dengan cara yang bahkan tidak pernah terpikir olehmu." Geram pria itu.


"Benarkah?" Tanyanya dengan nada mengejek.


"Saat ini gadis itu sudah bersama dengan anak buahku, jadi sekarang kau harus memilih menyerah atau membiarkan gadis itu mati ditangan anak buahku." Ancamnya dengan menawarkan penawaran tersebut.


Lama Leon diam memikirkan pilihan apa yang harus ia ambil. Melihat Leon yang kebingungan membuat pria tersebut benar-benar merasa senang. Bagaimana tidak senang setidaknya sebentar lagi ia bisa menjadi king yang berkuasa di dunia bawah itu. Karena memang itulah peraturannya jika ingin menjadi king maka kau harus mengalahkan orang yang sedang memegang posisi tersebut. Sama halnya dengan Leon ia dulu juga membunuh seorang yang menjadi king sebelum dirinya.


"Kenapa kau sangat ingin membunuhku? apakah untuk menjadi king?" Tanya pria itu dengan pistol yang masih mengarah pada pria itu.


"Tentunya aku ingin menjadi king, siapa yang tidak ingin menjadi king. Kau telah terlalu lama memimpin dan seharusnya kau sudah lengser sekarang dan diganti." Jelasnya.


"Tapi aku lebih muda darimu." Jawab pria itu.


"Hmm dan juga karena kau masih muda. Kau tau pada saat kau menjadi king itu sudah sepuluh tahun yang lalu. Bukankah kau sudah terlalu lama memimpin? sudah menyerah saja sekarang dengan baik-baik maka aku akan melepaskan gadis itu dan menjamin hidupnya akan bahagia selamanya." Jelasnya.


Laki-laki itu benar-benar tidak sabar melihat Leon menjatuhkan senjatanya. Karena pada saat Leon menjatuhkan atau menyimpan pistolnya maka pada saat itu dia dapat menyerang pria tersebut.


"Dengan siapa kau bekerja sama?" Tanya pria tersebut dengan nada datarnya.


"karena kau sudah akan mati maka aku akan memberitahukan hal ini padamu. Aku bekerja sama dengan Daniel ketua pimpinan serigala dan juga beberapa tetua lainnya. Mereka juga bosan dengan kepemimpinanmu selama ini." Ucapnya dengan santai.


"Door"


"Akh.." Leon menembak pria tersebut tepat pada bagian jantungnya.


Pria itu membulatkan matanya dengan sempurna saat pria itu begitu saja menembaknya. Perlahan tubuhnya mulai terkapar dengan penuh darah diatas lantai itu.


"Kau ternyata memang ti-tidak me-miliki ha-hati ba-bahkan kau re-rela me-mengorbankan ga-dis itu hahaha uhuk uhuk." Ucapnya dengan kesadaran yang menipis tersebut.


Tidak ada perkataan dari Leon ia hanya berjalan mendekat kearah laki-laki itu lalu mengarahkan pistol tersebut kearah kepala pria itu.


Pria itu menatap nanar kearah Leon yang berada dihadapannya itu.


"Ka-kau Mo-monster."


"Door" tembakan itu tepat mengenai dahi pria tersebut hingga membuat bola mata pria itu sedikit keluar.

__ADS_1


"Aku tidak peduli." Gumam pria tersebut lalu pergi begitu saja.


__ADS_2