
Siapa sangka di bawah hujan itu sekali lagi pria tersebut meneteskan air matanya. Sedangkan Rantipun juga sama namun hanya hujan yang tau akan hal itu.
'Aku tidak bisa hidup tanpanya, apakah aku haru egois?aku tidak mau kehilangannya.' Pikir leon dengan terus memeluk tubuh gadis itu.
'Kenapa semuanya menjadi begitu sulit, kenapa dia memberiku harapan? bagaimana aku dapat melupakan dirimu Leon jika kau seperti ini."
Mereka terus terdiam dengan pikiran mereka masing-masing . Sama-sama tidak ingin berpisah namun mereka memang harus berpisah karena suatu hal. Namun, apakah mereka dapat mengatasi hal tersebut dan terus bersama atau malah sebaliknya?.
...****************...
Di ruangan gelap telah duduk seorang pria seperti biasa dengan bidak catur yang ada ditangannya.
"Tinggal dua Minggu lagi hahaha sungguh aku tidak sabar." Ucapnya dengan memainkan budak catur yang ada ditangannya itu.
"Tuan apa yang akan anda lakukan kali ini." Tanya asistennya yang selalu menemaninya bermain catur itu.
"Kau tau Leon itu seperti pilar yang berdiri kokoh, dia hebat, pintar, dan juga tangguh tidak ada yang bisa diragukan dari pria itu. Namun, kelemahan terletak dihatinya yang terlalu lemah itu." Ucapnya membuat sang asisten mengerutkan kening karena tidak terlalu paham dengan apa yang dibicarakan oleh pimpinannya itu.
"Maksud anda apa tuan, apa anda ingin menyerang Leon dari orang yang ia sayangi?." Mendengar hal tersebut pria itu malah tertawa dengan keras.
"Hahaha itu trik murahan Reno, aku bisa melukainya langsung kenapa aku harus melakukan cara murahan seperti itu. Kau tau apa yang paling menarik dari Leon adalah ia tidak bisa berpikir dengan jernih jika berhubungan dengan orang yang ia sayangi. dan lagipula untuk saat ini sepertinya ia tidak memiliki seseorang yang ia sayangi." Ucap laki-laki itu.
"Jadi untuk apa dia menikahi gadis itu tuan?." Tanya pria itu dengan sangat penasaran kepada tuannya yang sepertinya mengetahui sesuatu itu.
"Tentu saja aku tau, itu semua karena Robert, hahaha aku sangat senang melihat adegan seperti ini. Bagaimana wanita itu dimanfaatkan oleh Leon. Sungguh hatinya telah mati hahaha." Ucapnya sambil memajukan salah satu pionnya.
Sedangkan ditempat lain Ranti saat ini sedang berada dalam selimut akibat dari ulah laki-laki itu.
"Hasyim! Hasyim...!" Ranti bersin berkali-kali saat merasakan hidungnya yang benar-benar gatal itu.
__ADS_1
"Gara-gara hujan tadi ni hasyim!!..." Ucapnya dengan penuh usaha walaupun harus terganggu dengan hidungnya yang terasa gatal itu.
"KRAK" Pintu kamar mandi terbuka dan menampilkan Leon yang keluar begitu saja dengan handuk yang melilit pinggangnya itu.
"Tidak bisakah kau pakai baju dikamar mandi atau dimana gitu. Kau benar-benar mengganggu pemandangan." Cibirnya saat melihat penampilan Leon yang begitu vulgar dimatanya. Bukan karena badan pria itu tidak bagus akan tetapi karena badan pria itu sangat luar biasa makanya Ranti takut ia mungkin saja menerkam pria itu.
"Ini kamarku jadi sesuka hatiku saja." Jawab Leon dengan santainya.
'Ihh apa-apaan sikapnya itu apa memang dia sudah tidak waras atau bagaimana? Tadi saja tiba-tiba meluk lalu setelah itu marah-marah karena basah kuyup.'Gadis itu Kemabli mengingat bagaimana Leon yang awalnya memeluknya dibawah hujan lalu setelah itu marah padanya dan mengatakan bahwa Ranti yang memeluknya.
"Terserah kau saja Hasyim!!" Jawab gadis itu dengan hidung yang tampak merah itu. Belum lagi wajahnya yang sudah terlihat pucat. Leon tanpa aba-aba berjalan mendekati kasur dimana Ranti berada.
"Hei kau mau ngapain?" Tanya gadis itu dengan sedikit berteriak karena saat ini pria tersebut masih menggunakan handuk dan belum menggunakan pakaian.
"TAP" Ranti menyatukan keningnya dan kening Ranti merasakan hawa panas pada dahi gadis itu. Sedangkan Ranti jangan tanya jantungnya benar-benar berdetak berkali-kali lipat.
"Kenapa wajahmu memerah apakah demamnya bertambah?" Tanya leon yang segera meletakkan tangannya dipipi gadis itu. Ranti benar-benar tidak bisa bernafas dibuatnya bagaimana bisa saat ini dahi mereka bersentuhan dan tangan pria itu berada di pipinya.
Leon yang menyadari bahwa gadis itu sedang menatap wajahnya ikut menatap gadis itu. Akhirnya mereka saling bertatapan untuk beberapa saat.
"Hasyim!" Adegan saking tatap diantara mereka terhenti saat gadis itu tiba-tiba saja bersin. Tapi Leon bersyukur karena jika tidak ada bersin dari gadis itu maka bisa saja tanpa sadar pria tersebut menerkam gadis itu.
Tanpa sepatah katapun Leon segera berjalan menjauh dari Ranti untuk menggunakan baju di ruangan yang sudah ada di kamar itu. Ruangan yang khusus sebagai tempat baju dan juga peralatan lainnya.
20 menit kemudian akhirnya pria itu keluar dari ruangan tersebut dengan balutan kaos putih dengan celana coklat pendek.
"Tampan" Gumam gadis itu begitu saja saat melihat penampilan Leon yang selalu membuatnya terpesona.
"Apa kau bilang? aku tampan?" Tanya Leon yang saat ini tengah bersandar di dinding kamarnya itu.
__ADS_1
"Siapa juga yang bilang begitu, kau salah dengar tu. Mana mungkinlah." Ungkapnya dengan nada yang tergolong ketus.
"Baiklah terserah padamu saja tapi kau harus mau diperiksa dokter ya. Dokternya akan datang dalam 10 menit lagi." Ungkapnya dengan mengangkat tangan kirinya untuk melihat jadwal.
"yayaya akan aku patuhi semua itu tapi harus ada syaratnya." Gadis itu tersenyum jahil saat menyadari ekspresi Leon yang terlihat mals itu.
"Apa syaratnya?" Tanya Leon tanpa berniat basa-basi itu.
"Ketika aku sudah sembuh kita pergi ke pantai ya aku sangat ingin melihat pantai bersama bagaimana?" Tanyanya kepada Leon yang mendapat anggukan dari pria tampan itu.
"Tok,tok,tok." Suara pintu yang terkunci dari dalam.
"Siapa?" tanya Leon dengan nada yang tegas dan dingin itu.
"Ini saya tuan dokter Erwin." Jawabnya mencoba ramah walaupun saat ini jantungnya sudah bergerak cepat. Bagaimana tidak takut pada saat pria itu menghubunginya dengan cara mengancamnya.
"Masuk!" Perintah Leon.
Dokter itu berjalan mendekat kearah Leon dengan tas yang ia tenteng itu.
" Dimana yang terluka tuan atau perlu dikeluarkan pelurunya?" Tanyanya dengan sedikit panik.
"Bukan aku yang sakit." Ucap Leon dengan cepat.
"Jadi siapa tuan?" tanyanya kembali.
"Dia" Leon menunjuk kearah Ranti yang tampak malu-malu.
"Oh apakah dia istri anda itu tuan?" Ucapnya lalu berjalan mendekati gadis itu. Dia tersenyum pada Ranti sebagai bentuk ramahnya.
__ADS_1
"Jangan terlalu dekat dengannya atau akan kuhabisi kau!"Ancamnya.
Ranti menatap dua orang yang sedang berdebat itu. Sungguh sangat berbeda pikir gadis itu.