Gadis Biasa Menikahi Mafia Tampan

Gadis Biasa Menikahi Mafia Tampan
Hilang


__ADS_3

"Cup"


"Kuharap kau bahagia selamanya." Ucapnya setelah mengecup singkat dahi gadis itu.


Setelah itu Leon berlalu pergi meninggalkan kamar tersebut.


Taklama setelah pria itu pergi air mata mengalir begitu saja dari gadis itu. Perlahan ia membuka matanya dengan tatapan yang bergetar.


"Hiks kau jahat hiks..."


"Kau jahat dengan menyimpannya sendirian, hiks "


"Jika kau seperti itu maka aku yang akan memperjuangkan hubungan kita." Tekad gadis itu.


...****************...


Matahari bersinar cerah hari itu setelah hujan tadi malam yang mengguyur pulau itu.


"Tok,tok,tok." Martin mengetuk pintu beberapa kali ingin memberi tahukan kepada Ranti jika mereka akan segera meninggalkan pulau tersebut.


"Nyonya apakah anda sudah bersiap? kita akan segera meninggalkan pulau dan kembali ke kota." Ucapnya tapi tidak ada tanggapan dari dalam kamar tersebut.

__ADS_1


"Nyonya..." Panggilnya sekali lagi. Tak lama pria itu mulai merasa curiga karena menurutnya hal ini merupakan sesuatu yang janggal.


"Nyonya saya akan masuk." Kali ini seperti sebelumnya tidak ada jawaban dari dalam sana.


"BRUAK." Dengan kuat pria tersebut mendobrak pintu tersebut tapi ia tidak menemukan siapapun di sana.


"NYONYA!!, NYONYA!"Teriaknya dengan panik karena gadis itu sama sekali tidak ada disana.


"Ais bisa dibunuh aku jika bos tau." Ungkapnya dengan kesal. Apalagi saat memikirkan pulau ini yang juga banyak hewan buas di beberapa titik.


Di tempat lain saat ini Ranti tengah berlari menyusuri hutan tersebut. Ia hanya mencoba untuk melarikan diri bagaimanapun ia harus datang kepada pria itu dan menunjukkan tekadnya.


Satu jam berlalu pencarian Martin sama sekali tidak membuahkan hasil padahal ia sudah mengerahkan seluruh anak buahnya.


"Cepat kalian cari nyonya!! Jika tidak ketemu maka kepala kalian yang akan menjadi bayarannya!!." Ancam Martin dengan nada rendahnya namun penuh dengan hawa membunuh itu.


"Akh... sial aku akan benar-benar mati." Teriaknya frustasi.


"Drtt, drtt, drtt"


"Ais siapa lagi yang menelpon." Cercanya namun terdiam saat melihat nama Bos yang terletak disana.

__ADS_1


"Habislah aku..."


"Glek..." Pria itu meneguk ludah secara kasar lalu mengangkat panggilan dari bosnya itu.


"Halo Martin apakah kalian sudah meninggalkan pelabuhan dan bagaimana keadaannya semuanya baik-baik saja kan? apakah dia masih bersedih atau dia tidak enak badan. Tau mungkin sekarang dia sedang menangis lagi? Jangan lupa berikan kepadanya mantel yang tebal agar ia tidak kedinginan. Dan katakan pada kapten kapalnya untuk membawa kapal dengan benar satu rambut saja yang hilang maka kalian semua yang akan ku hilangkan." Ujar Leon dengan panjang lebar. Jika hal lain maka pria ini bahkan sangat dingin, acuh dan juga cuek tapi jika itu sudah tentang mengenai Ranti maka ia akan benar-benar manjadi orang yang paling cerewet dan juga paling berisik.


"A-anu bos..." Martin dengan ragu ingin mengatakan yang sebenarnya terjadi.


"Apa ? jangan bertele-tele!!" Perintah pria tersebut.


"i-itu..."


"Cepatlah Martin !!" Kali ini pria itu benar-benar sudah tersulut emosi dan kehilangan kesabarannya yang setipis tissue itu.


"Ny-nyonya menghilang."


"APA!! KEMANA DIA? MARTIN!! AKU AKAN MENGULITIMU JIKA DIA TERLUKA!" Pria itu benar-benar sudah berada di titik puncak emosinya dan langsung dengan cepat mematikan ponselnya.


"Aku akan benar-benar mati kali ini." Gumam Martin yang sudah terlihat pasrah akan keadaan itu.


"Nyonya...Anda memang ingin saya mati."

__ADS_1


__ADS_2