
"A-aku tidak mau mempercayai mu dengan segala hal itu aku akan bertanya kepadanya dan menunggu jawabannya." Ranti masih berpegang teguh pada pendirian nya. Dia tidak bisa begitu saja percaya dengan orang asing dan terhasut begitu saja.
"Ini akan menarik nak, mari kita tunggu si Leon itu, itupun jika dia mau datang kesini. Kau tau dia adalah jenis mahluk yang tidak akan pernah bisa mencintai seseorang." Di ujung kalimat Robert langsung memasang muka serius.
"Deg"
"Aku tetap percaya padanya." Gumam gadis itu setelah kepergian Robert dari ruangan tersebut.
...****************...
"Martin siapkan semuanya aku akan langsung menemui bajingan tua itu dan akan memberikan pelajaran padanya." Perintah Leon dengan sangat terburu-buru.
"Ayolah bos kita tidak bisa langsung melakukan itu." Martin mencoba menghentikan bosnya itu.
'Kenapa dia jadi seperti ini dimana si Leon yang penuh dengan trik dan perhitungan.' Martin sudah betul-betul kehabisan akal untuk menghadapi Leon.
"Aku tidak peduli, kau tau Ranti disana sendirian bagaimana jika si bajingan gila itu melakukan sesuatu padanya atau mungkin Ranti saat ini diberi makanan sisa atau bahkan tidak diberi makan. Dan juga dia tidak terlalu suka dengan gelap. Bagaimana jika nanti dia kesulitan tidur, Ranti biasanya tidur dengan ku peluk, ayo cepat Martin kita tidak punya waktu lagi."
"Astaga bos itu tidak seperti yang anda pikirkan berhenti untuk memikirkan hal-hal yang aneh-aneh." Martin mulai merasa emosi menghadapi sifat bucin dari tuannya itu.
"Kau Martin!!" Leon menatap tajam pada Martin.
"Glek"
__ADS_1
"Maksud saya bos percuma kan jika kita kesana tapi tidak berhasil karena kurangnya rencana, nah itu bisa membahayakan nyonya. Lagipula tuan Robert itukan Paman anda tidak mungkin dia akan melukai Nyonya." Jelasnya.
'Ayolah kembalilah kecerdasan bosku." Martin berdoa dalam hati agar bosnya itu bisa paham dengan situasi saat ini.
"Sial" Umpat Leon lalu kembali duduk di bangku kebesarannya itu.
Martin yang melihat itu merasa lega karena bisa menghentikan kegilaan dari majikannya dan sudah dapat menghentikan bencana.
"Dimana Alexia?" Tanya Leon yang sudah berbeda dari sikapnya yang tadi.
"Alexia sedang mengintrogasi laki-laki yang dibawanya semalam bos." Jawab Martin.
"Sudah menemukan jawaban siapa dalangnya?" Tanyanya.
"Hmm"
Setelah itu Leon menuliskan sesuatu diatas kertas lalu melipatnya dan memasukkannya kedalam sebuah amplop coklat.
"Berikan pada bajingan tua itu." Leon memberikan surat itu kepada Martin.
Mereka sengaja berkomunikasi tidak menggunakan ponsel atau lainnya karena itu bisa saja diretas oleh orang-orang terutama musuh yang mengincarnya.
"Baik bos." Setelah mengatakan hal tersebut Martin pamit untuk mengantarkan surat tersebut kepada Robert.
__ADS_1
Didalam ruangannya Leon tampak berdiri di depan kaca dengan pemandangan laut yang indah itu. Bayangan gadis itu terus melintas di kepalanya.
"Aku bisa gila jika ini berlangsung lebih lama." Gumamnya.
Pria itu menutup matanya dengan lumayan lama lalu menghembuskan nafas panjang.
Di tempat lain seorang pria muda tampak sedang berjalan menyusuri anak tangga dengan wajah yang sangat cerah. Sesekali pria itu bersenandung untuk menghibur dirinya sendiri.
"Paman..." Panggilnya kepada Robert yang telah menunggunya dengan seorang gadis yang duduk tidak jauh dari pria itu.
"Duduklah James!" Perintah Robert kepada pria muda itu.
James dengan cepat mendudukkan dirinya dengan mata yang terus tertuju kepada Ranti. Bukannya terpesona ia hanya merasa bingung saja. Lagipula Ranti sangat jauh dari tipe idealnya.
"Ranti ini James ponakanku juga, dan sepupunya Leon." Terang Robert.
"Hmm" Hanya itu jawaban dari gadis itu.
"Dan kau James seperti yang sudah kubilang sebelumnya dia ini Ranti istri Leon." Lanjut Robert menjelaskan.
"Aku ada satu permintaan untuk kalian berdua," Robert menjeda kalimatnya sedangkan Ranti dan juga James menatap bingung dengan tingkah laku dari laki-laki paruh baya itu.
"Kalian menikahlah" Lanjutnya
__ADS_1
"APA!!" Ranti dan James menjawab dengan bersamaan dan ekspresi terkejut.