Gadis Biasa Menikahi Mafia Tampan

Gadis Biasa Menikahi Mafia Tampan
Bakwan Jagung


__ADS_3

"Ini aku Rain" Ujar pria dengan perawakan tinggi dan juga tampan tapi jujur lebih tampan Leon.


Gadis itu tampak membulatkan matanya karena terkejut mendengar perkataan sosok itu.


"Iya Ran tu dia Rain tapi sekarang udah glow up hahaha." Ujar Intan.


"Astaga Rain !! kau benar-benar seperti orang yang berbeda huaa" Itulah sifat Ranti yang hebohnya setengah mati. Dalam kamusnya tertera jelas No jaim jaim.


"Hahaha apaansih kalian, aku masih sama kok." Jawab Rain dengan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Tapi kau juga berubah Ranti." Ujar pria itu membuat Ranti membulatkan matanya.


"Ehhm a-apa yang berubah tidak ada kok." Perasaan gugup meliputi hatinya.


"Kau tambah cantik." Ujar pria itu dengan senyumnya


...****************...


Saat ini Ranti telah duduk dengan nyaman didalam kelas, ia mendengarkan dengan seksama bagaimana dosen menjelaskan apalagi banyak hal-hal yang memang ia tidak tau karena satu tahun dia sama sekali tidak kuliah.


"Huhhh aku benar-benar nggak ngerti tu dosen ngomong apa, astaga ini ni gara-gara setahun nganggur." Gadis itu tampak mengacak-acak rambutnya hingga tampak berantakan. Tapi jujur Ranti tidak perduli mau kayak gembel pun dia tidak perduli.


"Hahaha Ran, tu rambut kok kayak habis perang." Ujar Rain yang memang sekelas dengannya. Jika kalian tanya kenapa Ranti yang sudah tidak masuk setahun tapi masih bisa sekelas dengan Rain yang seangkatannya, Jawabannya Ranti pun tidak tau karena itu semua adalah kerjaan si Leon. Entahlah bagaimana laki-laki itu bisa melakukan hal itu.


"Memang habis perang kan ?" Jawab Ranti tidak perduli.


"Hahaha nanti kalau kamu gini nggak ada loh yang mau sama kamu." Ujar Rain dengan wajah mengejeknya.


"Biarin aja, malah bagus kalau nggak ada yang suka."


'Ya bagus memang kalau nggak ada yang suka, lagi pula aku sudah pernah tu cinta-cintaan, bahkan udah nikah, bukan malah bahagia eh ujungnya sakit hati.'


"Ran ?" Rain memukul pundak gadis itu.


"Ha apa ?" Tanya Ranti.


"Kau kok ngelamun aja terus nanti kesurupan loh." Ujar pria itu dengan sangat serius.


"Mana ada setan masukin setan." Ranti tampak fokus membereskan mejanya yang penuh dengan buku.

__ADS_1


"Hahaha kau masih sama ya Ran."


"Iyalah kau pikir aku Ultraman gitu yang bisa berubah." Entahlah sebenarnya Ranti hanya menjawab asal.


"iya iya hehehe...hmm btw mau makan nggak ?" Tanya Rain.


"Hmm mau sih tapi nggak mood juga."


"aku ajak makan di cafe depan kampus mau nggak ? murah udah gitu enak. Kau mau nggak ?" Tanya Rain yang tampak antusias itu.


"Benarkah apakah disana ada bakwan ?" Tanya Ranti.


"Nggak adalah, kok kamu maunya bakwan sih."


"Ya udah aku maunya bakwan jagung kalau nggak ada di situ yaaa untuk apa aku kesitu."


"Huuuh tapi di sampingnya ada kok yang jual gorengan tapi kalau bakwan jagung aku nggak tau. Kan jarang sih Ran biasanya kan isinya kol bukan jagung." Ujar Rain.


"Aku maunya bakwan jagung." Ujar Ranti memang dari dulu dia dan Rain sangat dekat tapi dulu Rain orang yang sangat introvert. Jangan lupa dengan kacamata tebal yang selalu pemuda itu gunakan dulu.


"Iya iya ayok kita pergi pakai motor ku aja" Ajak Rain. Pria itu benar-benar terlihat sangat antusias.


"Baiklah coba hubungi mereka."


Tak lama Ranti segera menghubungi Intan karena mereka bertiga sekelas cuman Ranti saja yang beda kelas.


"Oh oke aku duluan ya kalau gitu,bye" Ujar Ranti sebelum mengakhiri telpon tersebut.


"Bagaimana ?" Tanya Rain.


"Mereka masih ada kelas, dan nyuruh kita duluan aja nanti mereka nyusul." Jawab Ranti langsung memasukkan Hp tersebut kedalam tasnya.


"hmm ya udah ayok." Ujar Rain hendak menggenggam tangan Ranti tapi entah mengapa gadis itu seakan-akan menghindar dengan cara jalan lebih cepat darinya.


"Ayo Rain." Ranti melirik kebelakang kearah Rain ynag masih terdiam.


"Oh iyaaa."


Mereka menaiki motor dengan kecepatan sedang. Sepanjang jalan mata Ranti hanya melihat ke kanan kekiri seperti memperhatikan sesuatu.

__ADS_1


'Kok aku nggak tenang ya, rasanya seperti aku sedang berselingkuh jika berjalan dengan laki-laki lain huhh.'


"Kamu kenapa Ran, nggak suka ya jalan dengan aku ?"Tanyanya.


"Nggak kok aku suka, hanya aku sepertinya merasa kembali seperti masa lalu."


"Hahaha iya ya dulu juga gini, kita sering makan bareng." Mereka terus bercanda riang hingga akhirnya tiba di tempat gorengan tersebut.


Beberapa saat kemudian wajah Ranti tampak murung ketika mengetahui bahwa apa yang inginkan tidak ada sama sekali.


"Jangan murung dong Ran kita cari lagi ya, keliling juga nggak apa-apa kalau nggak kita bikin aja gimana." Tawar Rain ketika melihat raut wajah Ranti yang tampak sedih.


"Nggak mau bikin, aku pengennya beli Rain." Ranti benar-benar ingin bakwan jagung yang di jual bukan dia yang buat sendiri.


"Okedeh ayo kita cari, jangankan bakwan bintang pun kalau kamu mau aku bisa ambilin buat kamu." Ujarnya.


"Iyaaa."


Mereka akhirnya berkeliling tapi sangat susah rupanya untuk mencari apa yang gadis itu inginkan.


"Yok Ran tanya lagi siapa tau ada." Ujar Rain pria itu masih sangat sabar untuk menemaninya bahkan terlihat senang.


"Iya." Jawab Ranti dengan senyuman.


Di dalam sebuah restoran tampak Leon sudah mulai berjalan keluar dengan gagahnya. Hari ini cukup berjalan lancar sesuai dengan keinginannya tapi itu tidak berlangsung lama saat ia akan memasuki mobilnya tapi justru melihat sosok yang sangat ia rindukan. Sosok gadis yang selalu dipikirkan setiap detiknya. Tapi mata pria itu menajam tatkala melihat gadis itu yang justru tersenyum terhadap seorang pria. Leon terus memperhatikan gadis itu hingga akhirnya ia memilih untuk mendekat tapi laki-laki itu lebih dulu menggunakan kaca mata hitam dan juga masker dan jangan lupa ia membuka jas yang ia kenakan di ganti dengan jaket hitam dan jangan lupakan topi. Benar-benar laki-laki itu bahkan tidak mudah dikenali untuk saat ini. Dan hebatnya benda-benda itu memang sudah tersedia di dalam mobilnya seakan-akan dia sudah sering melakukannya.


Pria itu berjalan kearah tempat gorengan tersebut dengan santai tanpa ada yang mencurigainya.


"Bang, oh bang."Ujar Ranti berulang karena tempat ini cukup ramai dengan pelanggan belum lagi letaknya yang dekat jalan sudah pasti suara kendaraan juga mengganggunya.


"Iya neng, apa neng." Ujar pria itu yang tampak sibuk membolak-balikan gorengannya.


"Itu adak bakwan jagung nggak bang!!" Ranti sedikit berteriak agar dapat didengar.


"oh itu nggak ada neng yang ada bakwan biasa pakai kol." Ujar penjual itu.


"eh iya bang makasih."


"Aaaaa" Teriak Ranti saat salah seorang pelanggan yang tidak sengaja mendorong dirinya hingga gadis itu segera akan jatuh kebelakang Tapi syukurlah seseorang pria menahannya dari belakang dengan tangan pria itu berada dipinggangnya. Secara refleks Ranti melihat kearah wajah pria itu yang tampak menggunakan topi masker dan kacamata sungguh Ranti benar-benar tidak mengetahui bagaimana wujud dari pria tersebut.

__ADS_1


__ADS_2