
"Dokter akan tiba dalam waktu 10 menit jadi kau tunggu dan berbaringlah sampai dia datang." Ucap pria tersebut yang membuyarkan lamunan Ranti. Entah apa yang tadi di pikirkan gadis itu. Tapi sekarang ia justru menatap kearah leon dengan mata sendunya.
"Terimakasih," ucapnya tulus dengan senyum cerahnya.
"Hmm"
"Kuharap setelah kita bercerai aku akan bertemu laki-laki yang perhatian seperti mu." kalimat tersebut keluar begitu saja dari mulut Ranti.
"Apa maksudmu !" Leon menatap tajam kearah Ranti.
...****************...
"Maksudnya aku berharap jikapun kita berpisah aku dapat melupakanmu, aku disini hanya seperti cinta yang tidak akan pernah terjadi. Padahal... aku hanya ingin mendapatkan cinta sejati didalam hidupku ini. Aku selalu berdoa agar aku bisa tetap disini. Di sisimu selamanya, tapi itu hanya harapan yang tidak mungkin tergapai bukan. Jadi,...aku memutuskan untuk mulai mengikhlaskan mu." Ucapnya dengan senyuman yang menyimpan beribu luka itu.
Leon mengerutkan keningnya, dia merasa sakit dan sesak saat mendengarkan gadis tersebut yang mengatakan sudah mengikhlaskannya.
"Semudah itu ternyata perjuanganmu ya? seingatku baru beberapa hari yang lalu kau mengatakan bahwa akan membuatku jatuh cinta padamu. Tapi hanya dalam hitungan hari kau sudah menyerah padaku?." Ungkapnya dengan nada mengejek walau sebenarnya ia mengatakan hal tersebut karena kesal dengan apa yang di katakan oleh Ranti.
"Aku tidak menyerah padamu, tapi aku menyerah pada diriku sendiri hiks hiks hiks."Jawabnya dengan air mata yang perlahan menetes itu.
"Aku sadar Hiks...takdirku ternyata bukan untukmu dan takdirmu juga bukan untukku. Aku tidak bisa terus menghindarinya dan melawannya. Jika hari itu tiba hiks... ketika aku harus pergi maka hanya fisikku yang pergi tapi hatiku akan terus disini bersamamu." Sambungnya dengan tatapan putus asa itu.
"Baiklah terserah padamu saja." Ucap Leon seakan-akan tidak peduli.
Pria tersebut langsung melangkah keluar menuju ruang kerjanya dengan perasaan yang penuh emosi.
"BRAK"
"PLANG"
"ARGH..!" laki-laki tersebut melempar setiap benda yang dilihatnya terutama pada beberapa vas bunga yang sudah hancur berkeping-keping. Belum lagi berkas-berkas yang tadi tersusun rapi diatas meja kini telah berantakan diatas lantai.
__ADS_1
"Ranti..., apa yang harus kulakukan padamu ha?" Gumamnya yang terlihat frustrasi itu. Leon menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa yang ia duduki dengan tangan yang menutupi matanya.
Sedangkan di tempat lain Martin saat ini sudah menyelesaikan permainannya dengan orang-orang yang mencegatnya tadi.
"DOOR" Suara tembakan terakhir karena memang tidak ada lagi musuh yang mereka hadapi. Tidak semuanya mati, Martin telah menyisakan satu orang tetap hidup. Walaupun ia juga menembak pria tersebut tepat di kedua tangan dan kakinya.
"Cepat pergi kita harus mencari bos." Ajaknya kembali kepada anak buahnya. Namun sebelum Martin pergi lelaki itu telah memerintahkan anak buahnya yang lain untuk membersihkan kekacauan ini.
"Drtt,drtt..."
"Halo Xia ada apa?" tanya Martin pada Alexia.
"Bos telah kembali ke kediamannya." Jawab gadis itu.
"Baiklah aku akan melihat bos di kediamannya dan memeriksanya." Ucap laki-laki itu.
"Kusarankan kau untuk tidak membuat ulah. Karena kata para pelayan saat ini moodnya kurang bagus."
"Bukannya dia memang selalu seperti itu." Ucap Martin dengan santainya.
"Iya,iya aku hanya bercanda tadi, kenapa kau harus begitu serius menanggapinya." Keluh Martin.
"Halo Alexia Tut..Tut.." Gadis itu memutus sambungan secara sepihak karena tidak akan ada habisnya jika berbicara dengan laki-laki itu.
"Iss kenapa dimatikan? aku belum selesai bicara huh..."Martin menghela nafas panjang saat menyadari bahwa Alexia masih begitu dingin padanya.
"Aku harus menemui bos untuk melihatnya dan melaporkan hal ini padanya." Gumamnya pelan lalu ekspresinya kembali ke wajah datarnya.
Ranti yang didalam kamar tersebut mendapatkan pengobatan dari dokter yang dikatakan Leon padanya tadi. Tapi hanya dokter itu saja yang ia lihat sedang pria itu entah hilang kemana.
"Sementara ini anda harus berjalan menggunakan alat bantu dulu ya nyonya. Dan juga luka di tubuh anada harus rajin anda obati dengan salep ini. Maka luka itu akan menghilang tanpa jejak."
__ADS_1
"Baiklah aku akan menuruti semua yang kau sarankan padaku. Aku akan cepat sehat karena dokter yang memeriksaku dan mengobatiku dengan baik."Ucapnya tulus.
Setelah selesai dengan pengobatan kepada Ranti dokter tersebut langsung melangkah keluar dengan cepat.
"Eh Tu-tuan" Kejutnya saat melihat Leon telah berdiri di depan pintu tersebut.
"Bagaimana keadaannya?" Tanyanya tanpa menginginkan basa basi sedikitpun.
"Anu itu tu-tuan... nyonya baik-baik saja semua itu hanyalah luka ringan hanya saja ..." Laki-laki yang berprofesi menjadi dokter tersebut merasa sangat gugup untuk menjelaskan kepada laki-laki yang berada di depannya ini.
"Hanya saja apa!" Leon mulai emosi saat pria tersebut menjeda kalimatnya.
"Hanya saja untuk beberapa hari kedepan nona membutuhkan alat bantu untuknya berjalan seperti kursi roda jika memang ia ingin berjalan. Namun apabila tidak maka bagus untuknya untuk tetap di dalam kamar beberapa haru kedepan dan beristirahat." Sarannya kepada Leon yang hanya menganggukkan kepalanya paham.
"Baiklah kau sudah boleh pergi dari sini, untuk upahmu sudah kukirim ke nomor rekeningmu. Jika kau merasa kurang silahkan sampaikan kepada kepala pelayan jika tidak sampaikan saja pada martin ataupun Alexia." Ucapnya dengan tatapan menuju pintu kamar dia dan Ranti itu.
Setelah dokter itu pergi lelaki itu hanya berdiam diri di depan pintu kamar tersebut tanpa ada tanda-tanda untuk masuk kedalamnya.
Sedangkan didalam kamar saat ini Ranti benar-benar merasa mengantuk dan akhirnya gadis itu memutuskan untuk tidur. Gadis tersebut tertidur dengan sangat lelap bahkan ia tidak menyadari jika pria tampan itu sudah masuk kedalam kamarnya dan duduk di sisi kosong dari kasur tersebut.
Tangannya perlahan mengelus puncak kepala gadis itu. Setelah merasa puas menyentuh rambut gadis itu Leon lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh gadis tersebut. Setelahnya pria itu memeluk Ranti dalam dekapannya.
"Setidaknya masih ada waktu dua bulan untuk bersamamu." Gumam pria itu.
"Cup"
"Semoga mimpi indah" ucapnya setelah mengecup singkat dahi Ranti.
Sedangkan Martin yang telah tiba di ruang kerja Leon yang masih tampak seperti kapal pecah dengan kaca dimana-mana.
"Bos tidak ada disini, apakah dia sedang beristirahat di kamarnya."
__ADS_1
"Baiklah mau tidak mau maka aku akan menginap disini untuk bertemu dangan bosnya itu.
Sedangkan pasutri itu tidur dengan posisi berpelukan dengan begitu mereka berdua dapat terlelap dalam mimpi mereka.