
"Aku bukan hmm"
"Iya iya bukan hahahaha."
"Sayang...."Rengek Leon saat Ranti dengan senang terus meledeknya.
"Baiklah-baiklah aku akan berhenti hehehe jangan ngambek nanti nggak ada yang mau loh." Ujar Ranti yang saat ini sudah berbaring tapi dengan pria itu yang sudah ikut naik keatas ranjangnya. Lalu memeluknya dan membenamkan wajahnya di dada gadis itu.
"Biarin...cukup kamu aja yang suka. Yang lain aku nggak perduli." Ujarnya.
"gombal" Ujar gadis itu dengan senyuman di wajah pucatnya.
"Ehem...apakah kalian berdua tidak menganggap ada makhluk lain di ruangan ini ?" Tanya Martin yang memang menjadi penonton disana bersama dokter dan juga Amelie.
...****************...
Beberapa hari berlalu dan tibalah saatnya Ranti untuk pulang karena kondisinya yang sudah membaik.
"Yey akhirnya aku pulang juga."Ujarnya dengan bahagia bahkan sangat bahagia.
"Makanya jangan sakit jika tidak ingin masuk ke rumah sakit." Ujar Leon dengan santai.
"Iya iya dasar cerewet."
"Nah kan dibilangin malah melawan, nggak pernah mau dengerin hmm." Ujarnya yang tampak kesal.
"Tapi kan.."
"Tidak ada tapi-tapian, kamu mau maksa aku untuk berbuat nekat ya."
"memang kamu mau apa ?".
"Hmm gampang jika kamu, masih akan terus menantang bahaya jangan salahkan aku untuk membuat kamu hanya bisa didalam kamar. Apalagi sekarang kamu lagi hamil jadi tidak boleh keluar rumah tanpa aku dan untuk kuliah kamu cuti hamil aja dulu." Ujarnya yang kali tengah mengupas buah apel yang ada di tangannya untuk Ranti.
"Aku mau kuliah, mana ada orang yang mengandung baru beberapa bulan tapi sudah minta cuti, tunggu dekat melahirkan aja baru cuti." Bujuknya.
"Tidak ada penolakan sayang."Jawabnya dengan lembut tapi ada penekanan disana.
"Dasar pemaksa." Ujar Ranti dengan memakan buah apel yang baru saja di kupas oleh pria itu.
__ADS_1
"Itu demi kebaikanmu," Jawabnya dengan santai.
"Ini demi kebaikanmu." Balas Ranti dengan meniru cara bicara pria itu.
Tidak ada jawaban dari pria itu, hingga akhirnya pintu terbuka menampilkan dua sosok yakni Martin dan juga Amelie.
"Bos semuanya sudah siap, anda dapat pergi sekarang." Ujar Martin.
"Kejutan di rumah juga sudah siap." ujar Amelie dengan senyuman manisnya.
"Kejutan apa Amelie ?" Tanya Ranti dengan semangat, akhir-akhir ini setelah mengetahui kebenaran bahwa Amelie adalah orang baik mereka berdua menjadi teman yang sangat akrab.
"Tanya saja suamimu."Ujar Amelie dengan memandang Leon.
"Kau tau sendiri bagaimana sifat manusia satu ini, mana mau dia ngasih tau aku." Ujar Ranti dengan menampilkan raut wajah kecewa yang dibuat-buat.
"akhirat kau sadar Ranti jika sifatnya sama sekali tidak baik, entah mengapa kau mau menikah dengan laki-laki itu." Tatapan tajam langsung dilayangkan Leon pada gadis itu.
"Kau kan sudah tau, aku hanya korban yang diculik lalu di paksa menikah dengannya." Ujar Ranti bercanda.
"Sayanggggg" Ujar Leon dengan nada merengeknya.
"Jangan bercanda tentang hal itu lagi kedepannya." Ujar Leon lalu menarik hidung gadis itu.
"Aww."
"Sakit tau." Ujarnya lalu mengelus pucuk hidungnya.
"oh ya aku ingin bertanya hal penting." Ranti tampak terdiam sejenak memperhatikan bagaimana respon ketiga orang itu.
"Katakan" Ujar Leon.
"Begini, bagaimana dengan Intan apakah kalian. mengetahui bagaimana keadaannya?" Tanya Ranti karena pada saat kejadian itu Intan menghilang begitu saja.
"Kenapa bertanya tentang wanita penghianat itu ?" Tanya Leon. Ranti dapat merasakan ada rasa kesal di hati pria itu.
"tapi walau bagaimanapun dia sebelumnya juga sahabat terbaikku Leon. Bisa saja kan dia melakukan hal itu karena terpaksa." Ujar Ranti.
"Tidak dia tidak dipaksa, dia melakukan itu murni untuk kepentingannya sendiri." Ujar pria itu.
__ADS_1
"Bagaimana kamu bisa tau ? jangan-jangan..."
"Jangan berpikiran buruk aku sama sekali tidak melukainya ataupun menghabisinya. Walaupun keadaannya saat ini cukup mengenaskan tapi itu murni akibat perbuatannya sendiri." Ujar Leon yang bisa menebak isi pikiran istrinya itu.
"Maksudnya mengenaskan ?"
"Dia jadi gila dan saat ini ia sudah mengalami perawatan di rumah sakit jiwa."
"Kenapa dia bisa gila?"
"Dia gila karena keinginannya yang terlalu besar tapi ia tidak mendapatkannya." Jelas Leon dengan sabar.
"Memang apa keinginannya ?" Tanya Ranti lagi.
"Nyonya ayo kita pergi, bukankah Anda bilang jika ingin cepat pergi dari tempat ini." Martin mencoba menghentikan pembicaraan dua orang itu, apalagi ia dapat melihat bagaimana Leon yang sepertinya sulit untuk menjawab pertanyaan terakhir dari Ranti.
"Oh ya, kita akan pergi sekarang." Ujar Ranti dengan semangat.
'syukurlah, bagaimana aku menjelaskan padanya jika keinginan dari sahabatnya itu adalah menjadi penguasa dunia mafia. Gadis tidak tau diri itu merasa bahwa ia harus memegang kekuasaan jika ingin hidup nyaman. Tapi nyatanya ia gagal pada rencana pertamanya.' Pikir Leon.
Memang pada saat beberapa hari Ranti koma, Martin dan juga Amelie mengurus semua sisa-sisa musuh dari kejadian di mansion Leon atas perintah laki-laki itu. Dan tentunya Intan termasuk salah satu kategori. Ketika di temukan oleh anak buah Leon gadis itu sudah berada di pinggir jalan dengan rambut yang acak-acakan dan juga tubuh yang kotor. Gadis itu terus saja tertawa lalu menangis dan selalu mengucapkan kata-kata yang intinya bahwa dia ingin menjadi terhebat.
"Leon kamu kenapa melamun, ayo kita pulang " Ajak Ranti lalu menarik tangan pria tersebut.
Hingga akhirnya mereka tiba di mansion baru milik Leon karena ia berharap akan ada kisah baru di antara ia dan juga Ranti.
"Klek." Tidak ada siapapun disana, tempat itu sangat gelap kala Ranti memasuki Ruangan tersebut.
"Kemana semua orang ?" Tanya Ranti karena susah jelas tempat seluas ini harus di urus oleh beberapa
Tidak ada jawaban dari Leon.
"Jawab aku Leon." Pintanya.
"hidupkan saja lampunya lalu kita bicara kembali."
"hmm baiklah." Ujar gadis itu lalu melangkah menghidupkan. lampu tersebut.
"SURPRISE !!"ujar orang-orang disitu membuat Ranti benar-benar bingung harus apa .
__ADS_1