
Mendengar hal itu Leon sontak membulatkan matanya dan terdiam kaku. Tapi beberapa detik kemudian ia justru tertawa dengan sangat keras.
“HAHAHA”
“Kenapa ketawa hiks huaaaaa.” Ranti kembali menangis melihat Leon yang justru menertawainya.
“HAHAHA.” Bukannya berhenti tertawa laki-laki itu justru semakin senang dibuatnya.
Setelah beberapa saat ia benar-benar puas dengan tawanya.
Leon menghapus air mata yang tampak ikut keluar akibat tawanya yang tiada henti itu bahakan saat ini perutnya
sudah mulai sakit.
"Kenapa aku bisa memiliki istri yang seperti ini ya Tuhan." Ucap Leon dengan tersenyum geli.
"Apaan sih hiks." Ranti benar-benar kesal melihat laki-laki itu.
"Sudah jangan menangis sayangku cintaku kamu lupa ya Kitakan sudah menikah." Jelas Leon dan tangannya sibuk mengelap air mata Ranti.
"Eh." Sontak Ranti langung terdiam membeku lalu seperti berpikir sejanak.
__ADS_1
"Iya ya Kitakan sudah nikah." Ujarnya dengan wajah bodohnya di tambah dengan ekspresi lucunya.
"Aww." Ranti sedikit menjerit saat pria itu menggigit pipinya karena gemas dengan tingkahnya.
"Apa_apaan sih sakit tau." Ujarnya dengan mengelus pipi bagian kirinya.
"Kau sangat manis." Ujar Leon dengan tatapan yang menunjukkan rasa cintanya kepada Ranti.
"Issh." Ranti memincingkan matanya menatap pria itu.
" Kita main lagi yuk." Ucapan itu begitu saja keluar dari mulut pria itu.
"Main?" Ranti heran dengan apa yang pria itu katakan.
"Ah leonn! tadi malam kan sudah dasar mesum!" Ujar Ranti saat menghindar dari ciuman pria tersebut.
"Huh bagaimana tidak mesum jika melihat istri yang dicintainya saat ini sedang mempertontonkan bagian depannya." Jelas Leon dengan menunjuk kearah dada Ranti yang sudah tidak tertutup oleh selimut.
"Astaga jadi ini yang terus kau lihat! dasar mesum!." Ranti segera menarik selimut itu untuk menutupi tubuhnya. 'Pantas dari tadi dingin'. Pikir Ranti.
"Biarin dibilang mesum kan sama istri sendiri."Jawab Leon lalu dengan cepat melakukan apa yang ia inginkan. Akhirnya Ranti harus rela untuk mengikuti keinginan suaminya itu.
__ADS_1
Hingga sore hari akhirnya Ranti baru bisa lepas dari pria itu. Tulangnya benar-benar seperti patah akibat ulah Leon.
Saat ini ia tengah duduk didepan meja rias yang ada di kamar tersebut. Perlahan Ranti terus memandang sosok cantik yang berada di cermin tersebut.
'Ternyata uang bisa membuat orang lebih cantik.' Pikirnya saat membayangkan bagaimana dia satu tahun yang lalu.
"Mikirin apa hmm?" Tanya Leon yang tiba-tiba saja muncul dibelakangnya.
"Tidak ada." Jawab Ranti dengan senyuman. Mereka berdua sama-sama melihat pantulan dari cermin itu.
"Leon..." Panggil Ranti dengan pelan.
"Iya sayang..."Jawab Leon dengan lembut kepadanya.
"Kenapa kamu bisa suka sama aku, nanti kalau aku jelek kamu masih suka nggak." Tanya Ranti.
"Ya nggak lah." Ucap Leon yang membuat Ranti bagai disambar petir itu.
"Jangan kaget begitu dong, aku belum selesai ngomong. Kamu itu nggak akan pernah jelek Dimata aku mau kamu udah nenek-nenek atau bagaimana bentukmu aku akan menganggap kamu paling cantik. Karena yang aku lihat itu dari sini." Jelas Leon lalu menunjuk dada Ranti.
"Kamu suka susu aku." Ujar Ranti yang langsung membuat Leon menepuk jidadnya.
__ADS_1
"Bukan itu sayangggg, tapi dari hati maksudnya." Jelas Leon dengan penuh kesabaran.
"Hahaha iya iya aku hanya bercanda."