
Dulu sifatnya galak kenapa sekarang jadi begini dikit-dikit diam lalu memelas setelah itu menangis. Apakah ini yang dinamakan bayi besar.'Pikir Ranti saat melihat Leon yang seperti akan menangis itu.
"huhh." Wanita itu menghela nafas dengan kasar.
"Baiklah kau boleh mengantarku sampai kampus bagaimana?." Ujar Ranti yang membuat pria itu langsung tersenyum lebar.
"Aku mau, tunggu sebentar aku akan bersiap dan kita akan pergi." Ujarnya. Ranti hanya mengangguk untuk mengiyakan dan tersenyum tipis saat melihat bagaimana bersemangatnya laki-laki itu saat mendengar ucapannya tadi.
Seperti yang dikatakannya memang hanya butuh waktu sebentar untuk laki-laki itu bersiap. Laki-laki itu tampak menggunakan stelan berwarna hitam dan juga kaca mata berwarna hitam. Sungguh Ranti benar-benar merasa bahwa Tuhan memang menciptakan laki-laki ini dengan sempurna.
...****************...
Ranti tampak bahagia dapat melihat tempat dimana ia telah mengejar cita-cita nya.
"Aku benar-benar merindukan tempat ini."Gumamnya yang perlahan memasuki area kampus tersebut.
"Bruk." tanpa disadari ia telah menabrak seseorang.
"Maaf." Ujarnya dengan membantu gadis tersebut untuk mengumpulkan bukunya yang berserakan.
"Atika..." Gumam Ranti saat menyadari bahwa yang di tabraknya itu tak lain temannya sendiri.
"Kau..." Gadis bernama Atika itu terus menatapnya seolah olah berpikir keras.
"Kamu anak organisasi ya?" Tanyanya.
"Hahaha kamu masih seperti dulu ya ka, masih aktif organisasi, ini aku Ranti." Jelasnya.
"Ka kamu Ranti?"Atika tampak sangat terkejut hingga mulutnya terbuka lebar.
"Iya ini aku Ranti sahabatmu." Jelas Ranti dengan senyum lebarnya.
Tanpa pikir panjang Atika langsung memeluk Ranti dengan erat.
"Rantiiii!! huaa aku pikir kau kenapa tiba-tiba menghilang dan tidak bisa di hubungi hiks hiks aku pikir tidak bisa melihatmu lagi huaaaa." Gadis itu terus menangis dengan memeluk Ranti erat.
"Aku ada urusan, sudah jangan menangis lagi kan sekarang aku udah ada disini."Jelas Ranti.
__ADS_1
"Kau kan bisa menghubungiku hiks lewat handphone kenapa kau tiba-tiba menghilang bagai di telan bumi huaa hiks."
'Bagaimana aku bisa menjelaskan semuanya.' Pikir Ranti dengan mengusap lembut punggungnya.
Setelah sekian lama akhirnya Atika sudah tidak menangis lagi. Dan untungnya saat ini tidak terlalu banyak orang di kampus sehingga mereka tidak menjadi tontonan orang.
"Dimana Rina dengan Intan ? bagaimana keadaan mereka ?" Tanya Ranti.
Atika dengan refleks menepuk keningnya.
"Astaga aku lupa mengabari mereka berdua." Ujarnya.
"Hehehe bentar ya mari kita kabari mereka berdua." Lanjutnya dengan mengeluarkan ponsel.
Melihat hal itu Ranti tersenyum bahagia karena sebentar lagi ia dapat menghubungi semua temannya.
'Aku sangat bahagia.'
Sedangkan saat ini disebuah perusahaan tepatnya pada perusahaan milik Leon. Suasana tampak suram dan mencekam bagaimana tidak suram saat ini Leon telah mengamuk dan memarahi seluruh karyawannya.
"Tidak bisakah kalian bekerja dengan baik ha!!" Kesalnya.
Karyawan-karyawan itu hanya bisa terus menundukkan kepalanya.
"Ais Sialan..." Gumam Leon sebelum akhirnya pergi meninggalkan ruangan karyawan-karyawan nya itu dan kembali ke ruangannya.
Setelah kembali ke ruangannya amarah pria itu ternyata belum juga reda.
"Bos, saya mohon anda untuk tenang." Ujar Martin yang sudah mengikuti dan melihat tingkah bosnya yang tampak lebih tempramental hari ini.
"Siapa kau berani mengaturku?" Tanya Leon yang masih tampak marah itu.
"Sa-saya tidak berani bos." Ujarnya dengan gugup.
'Ada apasih dengan nya kenapa hari ini terlihat sangat kesal.' Martin benar-benar bingung dengan tingkah tuannya itu.
"Sialan, kenapa dia tidak boleh aku ikut, bagaimana jika nanti ada pria yang menggodanya. Lagi pula dia masih muda bagaimana jika dia terpesona dengan dosen ataupun mahasiswa disana ?." Gumam Leon yang masih dapat didengar jelas oleh Martin.
__ADS_1
"Jadi anda marah karena hal ini." Ucap Martin dengan senyuman kecilnya.
"Apa maksudmu Martin, kau mau aku membunuhmu saat ini Jika berani bicara sembarangan lagi." Marahnya untuk menutup rasa malunya karena Martin mengetahui isi hatinya.
"Sebenarnya anda tidak salah bos, itu wajar apalagi mengingat anak kuliahan kan masih segar dan banyak juga yang tampan sungguh indahnya masa muda."Ujar Martin yang terus memanasi Leon.
"Benarkah?" Tanya Leon yang sebenarnya sudah dipenuhi dengan pikiran-pikiran negatif.
"Iya bos, kan anda juga pernah kuliah kan? tidak mungkin anda tidak tau bagaimana anak kuliahan." Ujar Martin semakin memanas manasi.
Leon terdiam sebentar dan mulai mengingat bagaimana pergaulan pada saat ia masih kuliah dulu. Dimana teman-temannya sangat bebas berpacaran, melakukan *** sebelum menikah dan lain sebagainya.
"****!! akan kubakar tempat itu sekarang." Leon penuh dengan amarah dan mencoba untuk pergi.
"Ya bakar saja...eh apa maksud dengan di bakar bos? jangan melakukan hal bodoh bos kenapa harus membakarnya?" Kali ini Martin panik kenapa bosnya malah mengamuk dengan berlebihan awalnya ia hanya ingin membuat tuannya itu cemburu.
"Aku ingat apa yang dilakukan teman-teman ku pada saat kuliah dan aku tidak bisa membiarkan itu!!" Tegasnya.
"Memang apa yang dilakukan?" Tanya Martin.
Leon menjawab dengan mengatakan sesuatu mulai dari minum-minuman, berpesta dan juga hubungan pria dan wanita.
Mendengar hal itu Martin membelalakkan matanya.
"Astaga bosss!! itu kan di luar negeri, bukan di negeri kita ini, disini masih ada batasan tidak seperti itu, mungkin ada yang seperti itu tapi hal tersebut masih menjadi hal tabu bos, nyonya tidak akan mengikuti pergaulan seperti itu."Jelas Martin berusaha membuat tuannya itu paham, kenapa juga ia lupa jika tuannya itu kuliah di luar negeri.
"Benarkah?" Tanyanya yang tampak polos itu.
"Iya bos percaya pada saya." Ujar Martin.
"tapi, bagaimana jika dia berpacaran disana ?" Tanyanya lagi.
"Itu saya tidak tau bos hehehe."
"Sialan!! aku harus menyusulnya sekarang."
"Bos berhenti, itu tidak akan terjadi." Bujuk Martin.
__ADS_1
'Ya Tuhan kenapa kau harus mengirimkan aku bos seperti dia.'