Gadis Biasa Menikahi Mafia Tampan

Gadis Biasa Menikahi Mafia Tampan
Copet


__ADS_3

Matanya yang tajam terlihat sendu saat menatap rungan yang saat ini kosong tersebut. Biasanya ia akan menemui Ranti yang sedang tertidur atau mungkin sedang melakukan aktivitas lainnya. Gadis tersebut biasanya akan selalu tersenyum saat melihat ia memasuki kamar. Namun sekarang hanya ada suasana sepi dan hening di sana.


"Kapan kau akan kembali". Gumam lelaki itu dengan pelan.


...****************...


Beberapa hari telah berlalu sejak kepergian Ranti dari Leon. Suasana kediaman Leon semakin hari semakin mencekam. Pria dingin itu terus saja mengunci dirinya di kamarnya.


" Sial bahkan aku tidak bisa tidur, apa yang sudah dilakukan oleh gadis itu ? kenapa aku selalu tidak bisa tidur jika tidak memeluknya dan mencium aroma tubuhnya." ucapnya yang terlihat berantakan dengan keadaan yang terlihat lelah. Bayangkan saja sudah hampir lima hari Ranti hilang dan pria tersebut tidak dapat tidur. Jika saja ia meminum obat tidur maka itu hanya akan membuatnya tertidur beberapa menit kemudian kembali terbangun.


Leon menatap tajam kedepan, pikirannya juga mengingat kejadian pada saat ia yang mencoba untuk tidur terpisah dari gadis tersebut. Namun, pada saat itu ia juga tidak dapat tertidur. Pada saat Ranti yang melihatnya sebenarnya Leon tidak tidur dan tentunya pria tersebut menyadarinya. Tapi, ia sengaja menutup matanya berpura-pura untuk tidur.


"Aku bisa gila jika terus begini." Gumamnya pelan lalu berjalan dengan cepat menuju ke kamar mandi.


Setelah menyelesaikan aktivitas mandinya laki-laki tampan itu segera pergi dengan mengendarai mobil mewahnya.


" Kali ini aku akan menemukanmu walau harus ke neraka sekalipun." Ucapnya dengan datar.


Mobil mewah itu dengan cepat membelah jalanan yang tidak terlalu ramai kendaraan itu.


Sedangkan di tempat lain, Ranti saat ini sudah sembuh dan mulai beraktivitas. Kegiatan yang ia lakukan semenjak sembuh adalah membantu Asih yang berjualan kue keliling itu.


" Ibu Ranti ikut ibuk ya, Ranti bosan di rumah terus. Ranti juga ingin bantu ibu jualan." Ucap gadis itu yang tampak telah siap.


"Kamu baru sembuh Ranti, nanti saja jika kamu memang udah sembuh total." Tolak Asih karena merasa gadis tersebut masih tampak lemah.


"Tapi Ranti sudah sehat Bu, Ranti mohon ya Bu,boleh ya Bu please.... nanti Ranti bantu teriak deh." Gadis itu menyatukan kedua telapak tangannya memohon.


"Baiklah ...tapi ingat jika kamu lelah maka bilang sama ibuk ya..." pasrah Asih namun dengan syarat kepada Ranti.


"Iya..iya bu" ucap gadis itu dengan senang. Baru beberapa hari ia tinggal bersama dengan Asih dan ranti tau betul jika Wanita paruh baya adalah seseorang dengan hati yang baik. Sedangkan Asih sudah menganggap Ranti seperti anaknya sendiri karena memang wanita paruh baya tersebut tidak memiliki anak bersama almarhum suaminya. Namun walaupun tidak memiliki anak selama pernikahan mereka, Cinta Asih dan juga sang suami tidak pernah memudar. Perpisahan yang mereka alami saat inipun murni karena maut yang memisahkan.


"Kue,kue ,ibuk,bapak kuenya....enak lohh...." Teriak Ranti dengan tangan yang membawa box kue tersebut.

__ADS_1


"Mbak bli kue nya ya sepuluh ribu" ucap seorang wanita yang menghampiri mereka.


Dengan telaten Ranti segera memberikan apa yang di pesan wanita tersebut. Tidak lupa senyuman manis yang selalu ia tampilkan membuat kesan ramah di sana.


"Ibuk cukup liat aja ya, kali ini Ranti yang akan mengurus semuanya." ucapnya kepada Asih yang menatap kearahnya.


"Kamu jangan terlalu lelah Ran" Wanita tersebut sedikit khawatir melihat wajah Ranti yang terlihat kembali pucat tersebut.


"Kita pulang saja ya Ran,kamu sepertinya sudah lelah." Ajak Asih.


"Tidak apa buk" Ranti mencoba meyakinkan sehingga membuat Asuh hanya bisa pasrah mengikuti keinginan gadis tersebut.


"Baiklah jika itu keinginan kamu"


Ranti dan Asih sudah berjalan dan untungnya barang dagangan mereka sudah habis dan kedua wanita beda usia tersebut dapat pulang dengan cepat.


"Alhamdulillah habis Bu hehe ini pasti karena Ranti yang teriak-teriak nih makanya habis." Ucap gadis tersebut dengan bangga.


"Iya kamu benar Ran, kamu itu seperti penglaris hehehe" Sahut asih.


"Bruak"


"Akh.." Jerit Asih saat seorang pria dengan jaket hitam dan topi yang mengambil uang hasil penjualan mereka.


"Ibu tidak apa-apa? Ada yang sakit?atau apa?ibu tidak apa-apa kan?" Panik Ranti yang juga ikut terkejut saat melihat Asih yang di sorong kebelakang oleh Pencopet itu.


"Ibu tidak apa-apa Ran hanya uang hasil jualan aja yang diambilnya tadi" Jawab wanita tersebut dengan muka yang sedih. Bagaimana tidak sedih hanya itu yang mereka punya.


"Ibu tunggu disini ya Ranti akan mengejar orang itu." Setelah mengucapkan kalimat tersebut gadis kecil itu langsung berlari meninggalkan Asih yang mencoba untuk mencegahnya.


"Bagaimana jika dia terluka." panik Asih saat melihat punggung Ranti yang semakin menjauh.


"Ranti!Ranti!Ranti!" teriak Asih berharap gadis tersebut mendengarnya.

__ADS_1


Sedangkan saat ini Leon mendadak menghentikan laju mobilnya saat mendengar seseorang menyebutkan nama gadis yang tengah ia cari saat ini.


"Ranti" Gumamnya pelan langsung keluar dari dalam mobil. Dahinya sedikit berkerut saat melihat seorang wanita paruh baya yang terlihat khawatir tersebut.


Netra hitamnya kembali menyelidik di sekitar tempat tersebut namun ia tidak mendapati sosok yang di carinya.


'Mungkin orang yang berbeda' pikirnya lalu akan segera berlalu pergi menuju mobilnya.


Langkah kaki Leon terhenti saat mendapati wanita paruh baya tersebut yang menahan tangannya.


"To-tolong anak ku di-dia tadi mengejar copet kearah sana dan aku khawatir jika saja ia terluka." Ucap Asih yang terlihat panik.


"Itu bukan urusanku, anak anda pasti bisa mengatasinya itu hanyalah seorang copet." Jawab Leon dengan nada tak acuhnya.


Asih terus menahan tangan Leon agar tidak pergi. Bagaimanapun tempat ini memang sedikit sepi sehingga memang jarang sekali orang melewati jalan tersebut. Oleh sebab itu hanya Leon lah yang dapat ia mintai tolong saat ini.


"Aku sibuk mencari seseorang yang penting juga. Jadi aku minta maaf tidak bisa membantumu saat ini." Ucap Leon dengan melepaskan cekalan wanita paruh baya tersebut.


Saat pria tersebut ingin memasuki mobil mewahnya Asih kembali berteriak dengan pasrah.


"dia hanyalah seorang gadis kecil, tidak mungkin bisa menangkap copet itu" teriaknya.


Sedangkan di tempat lain Ranti telah berhasil menyusul copet tersebut. Nafasnya mulai terengah engah tapi gadis tersebut tidak mau menyerah.


'Aku harus bisa mendapatkan uang ibuk apapun yang terjadi' pikirnya.


Akhirnya copet tersebut berhenti lalu menatap Ranti yang sedari tadi terus mengejarnya.


"Kau sudah terjebak jadi kau tidak bisa kabur lagi, serahkan uang itu ha...ha...ha" ancam gadis tersebut dengan nafas yang tidak beraturan.


"Hahaha bukan aku yang terjebak tapi kau" Ucapnya denga tatapan licik kearah Ranti.


"Apa maks-" ucapannya terpotong saat melihat empat laki-laki yang muncul dari gang tersebut.

__ADS_1


'Hadeh..' pikir Ranti mengutuk kesialannya yang tiada batas itu.


__ADS_2