Gadis Biasa Menikahi Mafia Tampan

Gadis Biasa Menikahi Mafia Tampan
LEON PANIK


__ADS_3

"Itu hanya pistol mainan yang digunakan oleh salah satu hantu jadi-jadian yang menyerupai psikopat. Dia membawa pistol dengan bunyi yang sama dengan aslinya untuk menakuti orang-orang hanya itu saja." Jelasnya dengan sangat tenang sehingga membuat siapapun akan percaya padanya.


"Jika kau tidak percaya tanya saja pada orang disana yang bekerja sebagai pengawas itu." Tunjuk Leon pada seorang yang berdiri tidak jauh dari pintu keluar tersebut.


"Tidak perlu, aku percaya maafkan aku." Gumam gadis itu dengan menundukkan kepalanya.


"Hmm" Hanya itu jawaban yang diberikan oleh Leon.


'Maaf' Gumamnya dalam hati lalu berlalu pergi mendahului Ranti tanpa menggenggam tangan gadis itu.


...****************...


Setelah itu tidak ada percakapan diantara mereka. Leon hanya diam sepanjang jalan dengan melangkah lebih dulu dari pada gadis itu. Sedangkan Ranti dia mengikuti pria itu dengan pelan. Ditatapnya punggung tegap yang ada didepannya itu.


Entah apa yang ia rasakan saat ini tapi satu hal yang Ranti tau betul bahwa pria yang ada didepannya ini hanya pura-pura didepannya.


"Aku mau pulang saja." Ucap gadis itu yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari pria itu.


"Apa lagi sekarang?" Tanyanya dengan sorot mata tajam itu.


"Tidak ada, aku hanya lelah." Ucap gadis itu dengan memalingkan wajahnya enggan menatap pria itu.


"Jika bicara itu lihat lawan bicaramu!" Perintah pria itu.


"Aku sedang tidak ingin." Jawabnya yang membuat pria yang ada dihadapannya itu kembali membelakangi gadis itu.


"Pulang saja jika kau ingin." Ujarnya lalu berjalan meninggalkan gadis itu.


Lama pria itu berjalan tanpa melihat kebelakang hingga mendadak ia menghentikan langkah kakinya. Dengan cepat lelaki itu membalikkan badannya. Namun ia tidak dapat menemukan apa yang dicarinya.

__ADS_1


"Sial! benar-benar gila." Gumamnya lalu dengan cepat kembali ke tempat dimana ia dan Ranti berkelahi tadi.


Gadis itu tidak ada disana hanya segerombolan orang yang lalu lalang saja membuat pria itu benar-benar panik. Wajahnya yang datar itu menunjukkan ekspresi khawatir yang benar-benar dalam. Keringat mulai membasahi wajahnya disertai dengan jantungnya yang terus berdebar kencang.


"RANTI!!" Pria itu berteriak dengan berlari kecil diantara kerumunan tersebut.


"RANTI!!" Panggilnya lagi tanpa mempedulikan orang-orang yang mulai melirik kearahnya.


Langkah kaki pria tersebut terhenti lalu dengan ceoat ia mengambil benda pipih dari kantong jaketnya itu.


"Halo Martin cari keberadaan Ranti sekarang juga!" Perintahanya.


"Tapi bos tadi anda memerintahakan saya untuk memburu Daniel yang telah berkhianat kepada anda." Jawab Martin diujung sana.


"Aku tidak perduli, sekarang yang harus kau lakukan hanya mencari Ranti. Aku tidak mau tau!" Ucapnya dengan aura membunuh itu.


Setelah mengatakan hal tersebut Leon langsung menutup ponselnya tanpa mempedulikan jawaban apa yang diberikan oleh Martin. Saat ini yang terpenting adalah mencari gadis itu.


FLASHBACK ON


"Pulang saja jika kau ingin." Ujarnya lalu berjalan meninggalkan gadis itu.


Ranti menatap punggung itu dengan kesal tapi ia masih mencoba untuk mengikuti Leon walaupun saat ini ia sedang marah tapi dia juga tidak berani pulang sendiri apalagi setelah berbagai macam kejadian yang menimpanya di masa lalu. Mengingatnya saja ranti sudah takut apalagi merasakannya lagi benar-benar akan membuatnya gila.


Matanya terus menelusuri tempat yang sangat ramai itu lalu tanpa disengaja matanya tertuju pada seorang pria yang tengah menggandeng wanita cantik bersamanya.


'Dia mirip sekali dengan Ojan apa jangan-jangan dia bapaknya lagi.' Pikir gadis itu tanpa menyadari bahwa Leon yang telah hilang dari hadapannya itu.


"Eh dimana dia?" Gumamnya saat tidak dapat menemukan pria datar itu.

__ADS_1


"Mampus aku, apa yang harus aku lakukan mana ponsel nggak bawak aduh. Uangpun nggak punya, Jadi bagaimana aku pulang." Lanjutnya lalu sejenak senyuman terukir dari bibir mungilnya itu saat melihat pria yang sangat mirip dengan anak yang ditolongnya beberapa hari yang lalu itu.


"Aku punya ide, bagaimana jika menyelidiki orang itu apakah memiliki hubungan darah atau tidak dengan anak itu. Jika memang ada maka aku bisa nebeng dengannya saat ia akan menjemput anaknya kan? Hehehe aku memang pintar." Gumamnya lalu tertawa sendiri itu.


FLASHBACK END


"Apakah dia benar-benar orang tua ojan tapi masak anaknya hilang dia masih sempat main ke pasar malam kan nggak masuk akal." Ranti terus mengikuti pria tersebut walaupun ada banyak keraguan yang muncul dihatinya.


"Bagaimana jika kita main itu, aku pinginnn." Ucap gadis yang bersama dengan pria yang diduga Ranti sebagai ayah dari ojan itu.


"Iya sayang apapun yang kamu mau pasti aku turutin." Jawab pria itu dengan senyum lembutnya.


Ranti yang terus memperhatikan mereka mulai merasa geram oleh dua sejoli itu. Tingkah mereka sungguh membuat gadis itu muak bagaimana tidak muak pada saat ini ia harus melihat kemesraan mereka berdua bahkan tapi Ranti melihat dua sejoli ini berciuman.


'Tidak tau tempat dan juga situasi menjijikkan.' Pikirnya sepanjang jalan. Jika ia tau akan begini maka sudah jelas Ranti lebih memilih untuk jalan kaki saja pulangnya dari pada harus melihat dua sejoli ini. Namun, apa yang dapat dikata nasi sudah menjadi bubur.


"Sayang kapan kita nikahnya?" Tanya wanita tersebut dengan nada manjanya dan jangan lupa wanita itu terus memeluk tangan dari pria itu.


'Wow belum menikah ternyata.' Ranti sedikit terkejut dengan pertanyaan dari gadis itu.


"Kita akan segera menikah sayang tapi sebelum itu mas harus mencari cara untuk menceraikan istri mas.' Ucapnya masih dengan senyum lembutnya.


'Gilak!! laki orang ternyata. Jika dia benar-benar ada hubungannya dengan Ojan maka aku tidak akan membiarkan dia membawanya.' Pikir gadis itu dengan ekspresi yang sangat-sangat kesal. Lebih parah dari pada saat ia berdebat dengan Leon tadi.


"Hmm kamu selalu bilang begitu, kemarin kamu bilang tunggu Fauzan sudah besar dan mengerti tapi sekarang tunggu cerai dengan istri kamu, kalian kan juga udah pisah rumah jadi kalian juga nggak ada hubungan hanya surat negara saja yang belum." Gadis tersebut marah dengan suara yang sedikit besar. Sehingga beberapa pengunjung disana menatap heran pada wanita itu.


"Iss pelakor gila!" Umpat Ranti yang sudah tidak tertahankan itu. Karena jarak mereka yang dekat wanita itu tentunya dapat mendengar umpatan Ranti yang sudah jelas ditujukan padanya.


"Apa kau bilang! akan kurobek mulutmu itu!" Ancam wanita itu dengan menunjuk Ranti menggunakan jari telunjuknya.

__ADS_1


Ranti yang memang sudah muak pun menatap malas pada wanita itu.


"Aku bilang PELAKOR GILA!" Terang Ranti dengan menatap malas pada wanita yang ada didepannya ini.


__ADS_2