
"Klek" pintu kamar mandi terbuka dan menampilkan Leon dengan rambut basahnya dan juga hanya handuk yang melilit di bagian bawahnya. Walaupun sudah sering melihat tapi Ranti benar-benar tidak bisa jika tidak malu.
"Pagi sayang." sapanya dengan senyuman ketika melihat Ranti yang sudah duduk bersandar di atas kasur dengan tangan kanannya yang menahan selimut untuk menutupi dadanya.
"Cup." Leon mengecup kening Ranti memberikan seluruh kasih sayang.
"Aku lapar." Rengek Ranti.
"Aku sudah tau jadi aku sudah menyuruh pelayan untuk membedakan makan untukmu itu dia diatas meja." Ujar Leon menunjuk meja yang ada di ruangan tersebut.
Tanpa mengatakan apapun Leon langsung berjalan dan mengambil piring yang berisi nasi goreng tersebut karena Leon tau betul jika istrinya ini tidak bisa sarapan hanya dengan Roti seperti dirinya. Bagi Ranti makan ya berarti makan nasi jika roti itu hanya cemilan.
"Aku akan menyuapimu aaa." Leon mengarahkan makanan di depannya yang membuat Ranti membuka mulutnya.
...****************...
Begitulah pagi hari dua pasangan yang sangat bahagia itu sedangkan di tempat lain tampaknya laki-laki itu tengah memiliki rencananya sendiri.
"Reno, mari kita mulai permainan yang sesungguhnya, dan lihat apakah kali ini dia masih bisa selamat atau tidak hahaha." Tawanya tampak menggema seperti orang gila yang terobsesi.
"Semua sudah di atur tuan ,dan bagaimana dengan istrinya apa yang akan kita lakukan padanya." Reno tampak bertanya pada lelaki jangkung dengan balutan pakaian hitam dan karena cahaya tidak terlalu masuki ruangan itu sehingga hanya bagian bibirnya saja yang terlihat.
"Tak,tak,tak." Laki-laki itu mengetuk pelan meja dengan jari telunjuk dan tengahnya perlahan.
"Tentu saja habisi." Jawabnya dengan senyum manisnya tapi tidak dengan sikapnya.
"Baik tuan akan saya lakukan dan siapkan semuanya agar tidak ada yang tertinggal." Jawab Reno lalu pergi dari ruangan itu dengan wajah dinginnya.
Sedangkan di kediaman Leon telah di hebohkan dengan kedatangan seorang tamu. Tamu ini merupakan sosok gadis cantik dengan senyuman cerianya yang dapat menghangatkan siapapun.
'Kenapa semua orang tampak terkejut ? siapa dia?" Pikir Ranti yang saat ini tengah duduk di ruang tamu tepat di samping Leon yang sedari tadi hanya diam saja.
"Di...dia bagaimana bisa?" Martin yang tampak sangat terkejut dengan kehadiran gadis cantik ini bahkan Ranti yang perempuan saja seakan-akan terhipnotis dengan pesona gadis ini. Belum lagi dengan sikap Leon yang tampak aneh laki-laki tampan itu hanya diam bahkan saat ini Ranti terkejut saat pria itu melepaskan tautan tangan mereka.
__ADS_1
"Leon aku kembali." Ujarnya dengan senang. Ranti hanya bisa menautkan kedua alisnya berpikir keras.
'Dia memanggil Leon dng akrab, kenapa ini ? siapa gadis ini?' Ranti benar-benar merasa tidak enak di hatinya. Entahlah ia merasa kedatangan perempuan tidak baik.
"Bagaimana itu bisa? apa benar kamu Amelie?" Tanya Leon setelah sekian lama.
'Amelie?' Batin Ranti. Entahlah apakah dia saat ini salah jika merasa sakit hati jika suaminya seakan-akan kenal dan dekat dengan perempuan yang ada di depannya ini.
"Aku sungguh Amelie Leon percayalah padaku, aku tidak mati aku berhasil selamat." Ujarnya.
"Tapi bagaimana bisa jelas-jelas saat itu aku melihatmu jatuh dari tebing itu. Tidak mungkin aku salah dan saat itu aku..." Leon tampak ragu untuk mengatakannya.
Mendengar Leon yang lagi-lagi tampak sangat dekat dengan wanita itu membuat hati Ranti terasa sedikit sakit.
"Tidak Leon aku tidak mati, saat itu aku di tolong oleh orang-orang disana dan beberapa tahun aku mengalami amnesia hingga aku tidak bisa mengingat mu dan barulah beberapa hari yang lalu karena sebuah insiden aku mendapatkan kembali ingatan ku. Aku sungguh, tetap hanya ingin bersamamu dan tidak ingin meninggalkan mu." Ujarnya.
"Deg." Ranti rasanya akan terkena serangan jantung kedua matanya membulat mendengar cerita dari perempuan di depannya.
'Apa maksudnya dengan bersamamu dan tidak ingin meninggalkanmu?' Ranti kali ini menatap Leon seakan-akan mengisyaratkan agar laki-laki itu dapat menjelaskan apa yang terjadi padanya.
"Nanti akan kujelaskan,." Gumamnya yang hanya dapat di dengar oleh Ranti.
"Jadi kembalilah ke kamar mu dulu ya." Pintanya tapi menurut Ranti dari nadanya laki-laki ini bukan memintanya tapi MEMERINTAHNYA.
Ranti sama sekali tidak ingin memperpanjang hal tersebut ia memilih untuk kembali ke kamarnya. Menurutnya ia harus tetap percaya pada suaminya itu bahwa siapapun wanita itu suaminya pasti akan tetap mencintainya.
Tapi apa yang dapat dikata hati seorang wanita itu tidak mudah untuk ditenangkan. sudah berulang kali dia selalu menanamkan agar tetap percaya dengan pria itu tapi apa yang dapat dibuat rasa cemburu itu terus menyerangnya.
"Siapa wanita itu? apa dia mantan Leon atau..." Ranti tampak menjeda kalimatnya.
"Atau kekasih masalalunya ? astaga lagipula kenapa dia menyuruhku pergi sih ?" Ranti tampak kesal.
"Tok,tok,tok." Suara pintu yang di ketuk, Ranti tampak menoleh kearah sumber suara.
__ADS_1
"Siapa?" Tanyanya yang saat ini tengah duduk diatas kasur dengan memeluk bantal yang ada di sana.
"Ini saya Nia nyonya." Ujar Nia yang ada di luar.
"Masuklah." Ujar Ranti.
mendengar hal tersebut Nia segera masuk dengan sebuah nampan di tangannya.
"Ini makan siang anda nyonya." Ujarnya dengan tersenyum.
Ranti tampak bingung ia tampak mengerutkan dahinya dan menyipitkan matanya.
"Kenapa?" Tanya Ranti.
"Itu nyonya tuan yang memerintahkan saya untuk mengantar makan siang untuk anda." Jelasnya.
"Aku tidak sakit, kenapa aku harus makan di kamar?" Ranti benar-benar bingung dengan semua ini.
"Sa-saya tidak tau nyonya." Ujarnya dengan takut.
"Maafkan aku sedikit berteriak padamu." Ranti merasa bersalah kenapa ia malah kesal dengan Nia yang hanya melakukan pekerjaannya.
"Saya tidak apa-apa nyonya." Nia tersenyum dengan menatap Ranti.
"Baiklah aku akan memakannya." Ranti memakan makanan itu dengan Nia yang masih berada disana.
"Kenapa kau tidak pergi Nia? apa ada yang ingin di sampaikan lagi?" Tanya Ranti yang saat ini tengah menyantap makanannya. Toh untuk mencemaskan Leon dia membutuhkan tenaga.
"Itu nyonya, tuan meminta saya untuk terus berada disini agar dan menjaga anda agar tidak keluar dari kamar ini." Ujarnya yang membuat Ranti langsung menghentikan suapannya.
Ia menatap Nia menggunakan ujung matanya. Apa maksud Nia sebenarnya ada apa ini, pertanyaan itu muncul bagaikan film di kepalanya.
"Siapa yang menyuruh ?" Tanyanya yang sudah berhenti untuk memakan makanan di depannya itu.
__ADS_1
"Tuan nyonya." Ranti benar-benar ingin berlari dan menemui pria itu. Apalagi maksudnya sekarang mencoba mengurungnya saat ada perempuan lain di rumahnya. Wow sungguh luar biasa.