Gadis Biasa Menikahi Mafia Tampan

Gadis Biasa Menikahi Mafia Tampan
Pergi atau tidak


__ADS_3

"Apa kau juga menyukai ku ?" Tanya anak kecil itu dengan tatapan yang tak bisa di jelaskan.


"Tentu saja aku sangat menyukaimu."


"Syukurlah, jika begitu maka kembalilah ke tempatnya" Ujarnya.


"Ketempat siapa ?Tanya Ranti bingung. Karena jujur saja di tempat itu dia sama sekali tidak mengingat apapun begitu pula dengan identitasnya.


"Dengan dia orang yang kau cintai dan dia juga mencintaimu."


"Mencintai ?aku tidak tau orang itu." Ujarnya.


"Kau memilikinya...jadi pergilah dari sini untuk bertemu dengannya."


"Aku harus pergi kearah mana ?" Tanyanya yang tampak bingun.


"Kau hanya perlu pergi ke papa ku..."


...****************...


Angin sejuk tiba-tiba saja terhembus kearah Ranti yang membuatnya memejamkan mata menghindari debu yang bisa saja memasuki matanya.


"Kemana dia?" Tanya Ranti yang sedikit kebingungan.


Anak kecil itu tiba-tiba menghilang hanya tersisa mahkota bunga Daisy yang ada di kepalanya.


Ranti mengambil mahkota yang ada di atas kepalanya lalu memperhatikan dengan seksama.


"Ini, aku seperti pernah melihatnya tapi dimana ?" Tanyanya yang tampak bingung.


Mendadak sebuah ingatan memasuki kepalanya.


...----------------...


"Sudah siap cantik kan?" Tanya Ranti dengan mahkota bunga yang sudah jadi di tangannya. Ia tersenyum puas memperlihatkan hasil karyanya kepada Leon yang hanya menatapnya tanpa berkedip.


"Iya cantik." Jawabnya tapi kata cantik itu sepertinya bukan untuk mahkota bunga itu tetapi pada sosok yang membuatnya.


"Hmm jika begitu maka aku akan memberikan ini padamu hehe." Ujarnya dengan senang.

__ADS_1


"Jadi yang ingin kuberikan padaku adalah ini." Ungkap Leon dengan senyuman.


"Iya aku ingin memberikan ini. Apa kamu tidak suka ?" Tanyanya yang tampak kecewa.


"Aku suka tolong pakai kan ya." pintanya. Mendengar hal tersebut Ranti mengangguk senang ia lalu sedikit meninggi kan tubuhnya dan mendekatkan tubuhnya kepada pria itu. Hingga saat ini kepala Leon sejajar dengan dadanya.


...----------------...


Ranti memegang kepalanya yang terasa benar-benar sakit.


"Leon."


"Suami."


"Hamil"


"Intan."


Kata-kata itu terus terlontar dari bibirnya hingga akhirnya gadis itu membuka matanya. Tatapan itu berubah menjadi sendu seperti baru saja kehilangan sesuatu yang berharga.


"A-apa aku sudah mati?"


"Ranti ayo kita pergi." Ajak seorang wanita tua dengan senyum di bibirnya.


"Kau ?" Ranti terkejut saat melihat sosok itu.


"Hei ini aku cucuku tersayang. ini nenek."


"Nenek ?"


"Iya ini aku akhirnya aku bisa bertemu dengan cucuku yang manis ini, mari kita pergi nenek sudah menunjukkan tempat yang bagus untukmu." ujar wanita itu memegang tangan Ranti dengan lembut. Ranti benar-benar senang hingga ia meneteskan air mata bahagia ketika melihat sosok itu.


"Maaf nek tapi Ranti belum bisa ikut nenek." Tolaknya.


"Tapi sayang kau lebih baik tetap disini, kau hanya akan sendirian jika kau bangun, temanmu telah mengkhianati mu , orang tuamu yang tidak tau tentang kondisimu saat ini tentang kau yang sudah menikah, jika mereka tau pasti mereka akan sangat-sangat kecewa padaku dan belum lagi suamimu yang sudah memiliki wanita lain. Dia bahkan tidak perduli denganmu lagi, dia telah membuangmu setelah kau sudah tidak bermanfaat lagi baginya.Kau hanya mainan baginya sayang." Ujarnya dengan mengelus pundak gadis itu.


"Ti-tidak dia tidak membuangku saat kejadian itu dia bahkan rela berkorban untuk ku."Ujar Ranti dengan pasti.


"Apa kau tidak paham juga dia melakukan itu hanya demi keuntungannya. Seperti biasa itu hanya rencananya saja, kau ingat saja sudah berapa kali dia membohongi dan membodohimu. Sudah sering kali kan ? jadi jangan percaya lagi padanya jika kau ingin hidup bahagia." Bujuknya.

__ADS_1


Sedangkan di tempat lain saat ini tampak keadaan sangat kacau saat tiba-tiba saja kondisi Ranti semakin memburuk, detak jantung gadis itu tiba-tiba berhenti membuat dokter menanganinya.


"Ranti...kumohon hikss." ujar Leon yang putus asa yang saat ini juga ada di ruangan tersebut.


"Tiiiiiiiittt" Garis lurus terpampang jelas di monitor tersebut membuat jantung Leon sekian ikut berhenti.


"Ti-tidak ti-dak ini tidak mungkin akh....hiks tidak jangan kumohon hiks Akhhh .....aku benci diriku hiks "Ujarnya yang saat ini telah terduduk dilantai dengan histeris.


Dokter yang menangani Ranti hanya bisa menghembuskan nafas kasar karena ia tidak dapat menyelamatkan nyawa wanita itu.


Mendengar keributan di dalam membuat Martin dan Amelie ke dalam ruangan itu. Tapi yang mereka dapati hanya Leon yang tadinya histeris kini hanya terdiam namun air mata terus menetes dari pelupuk matanya.


"Bos..." panggil Martin dengan pelan. Ia benar-benar kasian melihat bagaimana sorot mata yang biasanya terlihat dingin dan juga mengancam kini berubah menjadi kosong seakan-akan dunianya baru saja meninggalkannya.


"Bos, apa anda tidak ingin melihat nyonya?Tanya Martin membuat Pria langsung berdiri dengan tubuhnya yang gemetar. Hatinya semakin sakit saat melihat bagaimana kini gadis itu telah melepas semua alat bantu yang biasanya dikenakan untuk membantu menopang hidup gadis itu.


"Ke- kenapa kalian melepas itu semua ha !! dia masih hidup kalian tidak bisa melakukan ini padanya!! dia masih hidup !!"


"Bosss".


"Leonnn"


"Lepaskan aku !! LEPASKAN! LEPASKAN !! RANTIKU MASIH HIDUP!!" Pintanya saat Martin yang terus menahannya agar tidak memasangkan alat-alat itu pada Ranti yang sudah pucat itu.


"BOS!"


Martin benar-benar berteriak pada pria itu berharap agar pria itu dapat sadar dan tidak melakukan hal gila.


"BUGH." Leon yang memang lebih unggul dari Martin dengan cepat memukul Martin hingga tersungkur.


"Sayang hiks ayo bangun hiks... me-mereka bilang bahwa kau sudah pergi hiks me-mereka sangat bodoh jelas-jelas kau masih akan menua bersamaku. ki-kita hiks akan memiliki banyak anak dan kita akan hidup sampai tua bersama hiks kumohon jangan tinggalkan aku hiks...." Ujarnya dengan memeluk tubuh itu.


Sedangkan di tempat Ranti ia saat ini sedang mengikuti nenek itu menyebrangi sungai yang sangat indah dengan perahu yang juga indah.


"Sebentar lagi kita akan sampai dan kau akan bahagia selamanya." Ujar nenek itu dengan bahagia.


Ranti tidka menjawab sepanjang jalan ia benar-benar merasa berat seperti ada sesuatu yang membuatnya merasa berat untuk pergi.


Dia akhirnya melirik kearah taman bunga Daisy yang tadi ia tempati. Tiba-tiba saja angin berhembus kuat membuat gadis itu melihat kearah bayangannya yang ada di atas air. Sejenak Ranti terdiam saat melihat bayangan itu.

__ADS_1


"Nenek...maaf" Ujarnya lalu melompat kedalam sungai tersebut.


__ADS_2