
"Aku benar-benar melihatnya percayalah padaku, bahkan aku tidak pernah melihat yang sejelas ini." Ujar Rina kembali.
"Me-memangnya dimana ?" Tanya Ranti dengan serius.
"Tepat di sampingmu," Kali ini jangan tanyakan ekspresi Ranti.
"Itu terjadi kemarin malam, nah kan pada saat itu sorenya si Intan dapat kabar tu kalau kamu masuk rumah sakit. Nah pergilah kami karena khawatir denganmu sedangkan kedua orang tua mu mereka belum tiba karena kan baru dapat kabar juga. Kamu tau sendirilah jaraknya kan lumayan jauh dan sebab itu hanya kami bertiga yang menjagamu tapi si Intan itu dia lupa mengunci rumahnya nah akhirnya karena malam pergilah tu anak dengan Atika ke rumahnya intan dan sialnya lagi ketika mereka ingin kembali justru hujan lebat sehingga mereka tidak dapat kembali ke rumah saki..." Ranti sebenarnya takut tapi karena penasaran dia mendengarkan Rina dengan seksama.
"Terus ?" Tanyanya dengan penasaran
...****************...
Selama mereka bercerita entah kenapa hawa menjadi dingin menurut Ranti hingga gadis itu menarik selimutnya.
"Nah kan mereka tidak bisa kembali jadi aku sendirian yang nemanin kamu disini dan ya aku tidak tau sekitar jam berapa aku terbangun karena perasaan ku ada suara seseorang yang masuk ke dalam ruanganmu, tapi kau tau ? saat aku membuka mata, tempat kamu di rawat ini sudah gelap gulita padahal seingatku aku tidak mematikan lampu sebelum tidur. Nah ! disitulah aku melihatnya sosok bayangan tinggi hitam ihh... karena takut aku segera menarik selimutku dan kau tau ? saat aku membuka mata karena aku tiba-tiba teringat padamu tapi tidak ada siapapun bahkan lampu kamarmu ini sudah hidup kembali." Jelasnya yang membuat Ranti ikut melotot.
"Ihh dan yang lebih parahnya lagi kata mamakmu itu tu bisa jadi gendoruwo ihh aku masih takut jika membayangkannya" Rina tiba-tiba memeluk badannya merasa merinding dengan apa yang ia pikirkan.
"Rin aku takut, kau tidur disampingku disini ya."Ajak Ranti dengan bergeser untuk memberi ruang bagi gadis itu.
"Nggak mau ah, nanti aku bisa saja menyakitimu saat aku tidur." Tolaknya.
"Rina! ayolah..." Ucap Ranti dengan memohon. Membayangkan apa yang di ceritakan gadis itu membuatnya benar-benar bisa gila.
"Baiklah, baiklahhhh." Pasrah Rina yang langsung menempatkan dirinya di samping gadis itu dengan sangat hati-hati.
"Rin jangan tidur sebelum aku tidur ya." Pinta Ranti dengan sangat serius.
"Nggak ah Hoam aku mau tidur aja aku udah ngantuk." Ujar Rina yang memang masih sangat mengantuk itu.
"Rin jangan tidur ihh aku takutttt." Rengek Ranti gadis itu sebenarnya sangat kesal dengan Rina bagaimana tidak kesal lihat saja dengan mudah Rina menceritakan cerita horor padanya yang penakut tapi sekarang gadis itu dengan mudahnya tidur meninggalkannya yang masih terus tersadar dengan ketakutan.
__ADS_1
"Rina.."
"Rin"
"Rin" Benar saja gadis itu sudah terlelap dalam tidurnya hanya dalam hitungan detik meninggalkan Ranti yang ketakutan.
"Tak"
"Tak"
Suara langkah kaki yang terdengar jelas di koridor membuat Ranti dengan cepat memeluk Rina lalu memejamkan matanya.
❤️
❤️
Pagi harinya tampak mereka tengah sibuk berberes karena Ranti yang sudah boleh pulang dan juga kondisinya sudah sangat baik. Bahkan dia bisa berjalan dan berlari kesana-kemari jika dia mau.
"Iya Mak maafin Ranti ya udah bikin repot, udah buat mamak dengan bapak cemas. Seharusnya buat kalian bangga eh malah ngerepotin maaf ya."Ujar Ranti yang tampak sedih.
"Ehh jangan gituloh, sebenarnya Mak dengan bapak mu juga udah rindu dengan mu, nggak apalah anggap aja melepas rindu." Ujar ibu Aminah dengan mengelus pucuk kepala Ranti.
"Mak yok kebawah tuh travelnya udah jemput."Ujar pak Agus yang merupakan bapak Ranti.
"Ayoklah, sekalian kita antar! kan kita juga mau pulang." Ujar Intan.
Akhirnya mereka tiba di depan rumah sakit tersebut dan saat ini mereka kembali lagi berpamitan saat kedua orang tua Ranti akan memasuki mobil tersebut.
"Ingat Ran jaga kesehatanmu, jangan stress bawa santai aja. bapak nggak mau lagi ya kalau kamu sakit lagi bisa jantungan bapak Ran." Ujar pak Agus sedikit bercanda.
"Iya pak Ranti janjiii." Ujarnya dengan senyuman.
__ADS_1
'Bagaimana jika bapak tau kalau Ranti udah nikah pak bahkan udah mau jadi janda.' pikir Ranti dengan sedih.
"Nah kan ini ni mamak malasnya kalau bapak dengan mamak mau pergi kayak gini pasti kamu mau nangis." Ucap Bu Amina sebenarnya, sebagai orang tua dia juga tidak tega meninggalkan anaknya tapi mau bagaimana lagi keadaan yang memaksa mereka.
"Nggak nangis kok hiks." Ranti terus menyeka air mata yang keluar tapi tetap saja tidak mau berhenti. Jujur saja dia selalu seperti ini jika di tinggal seseorang rasanya seperti sangat kehilangan.
"Hahaha ayolah Ran jangan nangis cup cup cup." Ujar Atika yang menggoda sahabatnya itu.
"Ya sudah mamak dengan bapak pergi ya." Ujar Bu Aminah lalu memasuki mobil di susul dengan pak Agus yang memberikan amplop terlebih dahulu kepada Ranti.
"Pak?" Tanya Ranti.
"Uang jajanmu, hemat-hemat ya." Ujar pak Agus lalu masuk ke dalam mabil menyusul buk Amina.
Setelah mobil itu pergi Ranti menggenggam erat amplop yang di berikan bapaknya.
"Hiks, hiks, hiks, huaaaa hiks." Gadis itu menangis sesenggukan dengan di peluk dengan Intan.
"Cup cup tenanglah anak manis." Ujar Intan.
Sedangkan disisi jalan tanpa mereka sadari sedari tadi sosok laki-laki tampan sedang memperhatikan mereka dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada kesedihan dan kerinduan disana. Tapi sedetik kemudian laki-laki itu segera menjalankan mobilnya menjauh dari tempat itu.
Ranti dan teman-temannya akhirnya memutuskan untuk pulang juga kerumah Intan. Setibanya disana mereka mulai membersihkan diri karena tadi di rumah sakit mereka benar-benar tidak sempat mandi.
Setelah bersiap akhirnya mereka telah duduk manis di meja makan dengan makanan yang telah tersedia disana.
"Woahh ini ni yang Kusuka jika ada Ranti, kita tidak perlu lagi makan mie instan." Ujar Rina dengan bahagia. Di karenakan diantara mereka hanya Ranti lah yang bisa memasak sedangkan mereka bertiga ya bisa juga tapi hanya goreng telur dan masak nasi hanya itu saja.
"Iya Ran kaulah penyelamat lambung kami." Timpal Atika dengan terus memasukkan nasi ke dalam mulutnya.
"Ada-ada aja hehehe." Jawab Ranti sebenarnya dalam hati dia sangat menyukai suasana ruang makan yang terbilang cukup bersahaja ini tapi entahlah ingatannya masih tertuju pada saat ia makan bersama dengan Leon.
__ADS_1
"Kamu kenapa Ran ? apa ada yang sakit?."Tanya intan dengan cemas karena melihat temannya itu yang tampak gelisah.