Gadis Biasa Menikahi Mafia Tampan

Gadis Biasa Menikahi Mafia Tampan
Koma ?


__ADS_3

"Hiks, a-apa aku tidak pantas bahagia?"


"Kau pantas bahagia Leon, kau sangat pantas. Jadi sekarang tenangkan dirimu mari kita lihat Istrimu itu." Ujar Darwin. Sepertinya Darwin harus mengalah bagaimana pun dia harus mempertemukan Leon dengan Ranti dan mungkin saja itu dapat menghibur laki-laki itu.


"Baiklah." Jawab Leon dengan cepat.


'Kenapa Ekspresi nya cepat sekali berubah, ayolah dimana Leon yang cengeng tadi padahal dia sangat menyedihkan tadi tapi sekarang dia kembali membuat orang yang terlihat menyedihkan. Dasar psikopat gila.' Pikir Darwin dengan seluruh akal sehatnya.


"Cepatlah carikan aku kursi roda!!" Pintanya tidak sabaran.


'Oh ya tuhannn' Pikir Darwin dengan kesal.


...****************...


Di ruangan lain tampak seorang gadis yang terus menatap kearah jendela rumah sakit itu.


"Akhirnya semuanya berakhir..." Gumamnya pelan.


Gadis itu terus memandang kearah langit yang tampak kurang bersahabat. padahal ini masih pagi hari tapi cuaca yang mendung membuat seakan-akan sudah memasuki magrib. Angin bertiup dengan kencang bahkan kilat dapat terlihat jelas.


"Sepertinya anda sangat menyukai langit." Ujar seorang perawat yang baru saja tiba itu.


"Ya begitulah, aku menyukainya tapi aku juga tidak menyukainya." Ujarnya membuat perawat itu terdiam sejenak.


"Sepertinya saya selalu saja tidak memahami anda nona." Ujarnya.


"ya begitulah, oh ya bagaimana keadaan Leon apakah dia sudah bangun." Tanya gadis itu yang tampak sedikit penasaran.


"Oh tuan sudah bangun, baru saja tapi setelah itu dia langsung pergi menemui istrinya." Jawab perawat tersebut.


"Hmm sepertinya dia sangat mencintainya." Ujar Amelie dengan kembali melihat kearah langit itu.


"Saya rasa juga begitu,." Setelah itu tidak ada lagi percakapan diantara mereka.


sedangkan disisi lainnya Martin juga telah membuka matanya. Tapi tidak seperti kamar Amelie justru di kamar Martin pria itu tampak heboh.

__ADS_1


"Hah, kau memintaku untuk berdiam disini, kau gila ha? aku harus melihat bosku!! Aku tidak bisa jauh darinya!!" Ujarnya dengan dokter yang mencoba untuk menghentikan pria itu.


"Anda masih butuh perawatan, jika anda bergerak bisa saja luka anda kembali terbuka dan itu akan berbahaya." Nasihat pria yang memakai seragam dokter itu.


"Suka-suka aku lah memangnya kenapa ha ? kau tidak boleh mengaturku yang boleh mengaturku hanya bosku." Ujarnya dengan sedikit berteriak. Yup itulah sifat Martin yang memang sedikit gila.


"Baiklah saya akan mengizinkan anda tapi saya akan menyuntik anda dengan penahan nyeri bagaimana?" Tanyanya.


"Oke silahkan saja." Jawabnya tanpa berpikir panjang.


Akhirnya dokter menyuntikkan cairan itu padanya namun mendadak Martin merasakan tubuhnya yang seakan sangat lemas dan ia juga sangat mengantuk.


"Kauuu" Ujarnya dengan menatap tajam dokter itu.


"Siaaaalan..." Ujarnya sebelum akhirnya tertidur.


"Huhh lebih baik begini saja..." Dokter itu tampak lega lalu setelah memperbaiki posisi Martin diapun pergi meninggalkan ruangan kamar itu.


Sedangkan disisi lain Leon telah tiba di ruangan tempat Ranti di rawat.


"Kita tidak boleh masuk." Cegah Darwin saat laki-laki itu yang memaksa untuk masuk.


"Kau pikir ini cafe gitu yang dengan sesuka hati bisa kau datangi lalu bersantai disana."


"Apa maksudmu?"


"Oh ayolah Leon apakah kau jadi bodoh karena di hajar oleh Dion. Ini ICU kau pikir kita bisa seenaknya masuk. Jangan memaksa ini demi kebaikan istrimu."


"Aku akan masuk bagaimana pun caranya." Ujarnya dengan nada dingin membuat Darwin hanya mampu menggelengkan kepalanya frustasi.


"Dokter bagaimana kondisi istri saya?" Tanya Leon pada dokter wanita yang baru saja keluar dari ruangan Ranti itu.


"Huhh kondisinya belum ada kemajuan,kita belum bisa memastikan bagaimana kedepannya tapi jika dia bisa sadar maka ia akan keluar dari masa kritisnya."Jelasnya.


"Kau harus menyelamatkan dia bagaimana pun caranya!"

__ADS_1


"Maaf tuan, saya juga berusaha semaksimal mungkin tapi saya bukan tuhan yang dapat memberikan nyawa." Ujarnya.


"Sialan, aku ingin masuk menemuinya."


"Huhh jika saya melarang anda maka itu percuma, jadi saya akan memperbolehkan anda menemuinya dengan satu syarat yakni, hanya boleh ada satu orang yang mengunjungi." Ujarnya.


"Baiklah, Darwin kau tunggu disini."


Akhirnya setelah sekian lama pria itu dapat berjumpa dengan Ranti. Awal masuk ke situ ia sudah merasakan tempat yang sunyi dan juga tertutup. Hanya ada suara mesin yang berbunyi disana. Akhirnya ia dapat melihat sosok gadis yang tampak menutup matanya dengan tenang.


"Sayang..." Panggilnya dengan nada yang sangat lembut.


"Kenapa kamu masih tidur ? banyak yang mau kamu tanyakan bukan ? Ujarnya lalu mengambil dan mencium tangan milik gadis itu.


"Kenapa masih tidur bangun, kamu harus memarahiku bukan, oh ya kita harus merayakan karena akan ada malaikat kecil diantara kita. Hiks Ranti aku tidak sekuat itu, hiks jadi kumohon jangan menghukum ku seperti ini. Hiks, hiks Rantiiii ku mohon bangun....hiks dengarkan ini baik-baik aku akan mengancammu dan kamu harus mendengarkan ku. Ji-jika kamu tidak mau bangun dan bersamaku disini maka aku yang akan pergi ke tempat mu." Pria itu menangis dengan tersedu.


"Hiks, hiks, hiks ayo bangun sayang hiks aku bisa gila jika begini, ja-jangan pergi dariku hiks kumohon jangan...Kita masih banyak bukan maksudku aku masih banyak ingin menunjukkan padamu hiks hiks. Ranti...Sayang aku sudah membeli pulau baru dan membangun rumah seperti yang kau inginkan dengan bunga daisy disana. Pantainya sangat indah, jadi kumohon bangunan dan tetaplah disisiku hiks ki-kita nanti akan melihat anak-anak kita yang berlarian di pantai dan kita akan bergandengan tangan mengelilingi tempat itu. hiks ayolah kumohonn...." Rintihan pria itu terdengar sangat menyakitkan dan penuh luka.


Leon menatap lekat wajah pucat istrinya dengan sangat lekat. Lalu mengelus pelan pipi yang tampak mulai berisi dari pada awal mereka bertemu.


"Tuan, anda harus segera keluar dari ruangan ini waktu kunjungannya sudah berakhir." Ujar dokter itu.


"Aku ingin disini."


"jika anda disini maka anda akan membahayakan dia jadi untuk kebaikan pasien anda diharapkan bisa mengerti."


"Hmm baiklah jika begitu." Ujarnya.


Pria itu tampak ingin pergi namun entah kenapa hatinya sangat berat untuk meninggalkan gadis itu.


"Aku akan kembali besok untuk menemui mu" Ujarnya.


"Cup." Pria itu mengecup singkat kening Ranti.


"dan kamu sayang, jangan nakal dan jaga ibumu ya..." Ujarnya dengan mengelus perut datar Ranti yang sebenarnya sudah sedikit menonjol.

__ADS_1


"Ayo kita kembali ke kamarmu dan beristirahat, dan kau kan tadi mengatakan jika dia adalah perempuan yang hebat jadi dia pasti akan baik-baik saja apalagi dia juga orang yang baik pasti Tuhan akan menolongnya." Darwin yang terus mencoba untuk menghibur pria itu.


'hmm kali ini kau harus membuatnya bahagia Tuhan.'


__ADS_2