
"Apa permintaan mu tuan Leon ?"Kali ini Ranti kembali memanggilnya dengan embel-embel tuan lagi.
"Tidak ada" Bohongnya. Ranti yang percaya begitu saja dengan patuh menganggukkan kepalanya mengerti.
"Kau sendiri apa yang kau minta?" kali ini pria tersebut yang bertanya.
"Hmm aku berdoa agar orang yang menjadi suamiku saat ini selalu bahagia." Jawabnya dengan tenang. Bagi Ranti untuk apa menyembunyikannya toh Leon juga sudah tau jika dia menyukainya.
"Baguslah jadi dia akan memiliki cukup kebahagiaan untuk diberikan kepadamu" Gumam laki-laki itu dengan pelan.
...****************...
"ini sudah larut malam lebih baik kita pulang dan beristirahat."Ajak pria tersebut.
"Ini baru 30 menit bagaimana bisa secepat itu hmm" Ranti melirik kearah Leon yang berada di belakangnya itu.
"Tapi ini sudah malam" Pria tersebut masih dengan argumentnya.
"Ayolah tuan Leon ini bahkan baru jam delapan malam. Anak SD saja masih bermain jam segini. Masak aku yang sudah besar begini tidak boleh." Ranti masih mencoba membujuk laki-laki itu.
Leon menatap sekelilingnya memang ada beberapa orang anak yang juga sedang berkeliling taman tersebut bersama orang tua mereka.
'Orang tua gila mana yang membiarkan anaknya selarut ini berada di luar cih.' Laki-laki tersebut menatap kesal pada seluruh pengunjung yang ada disana.
Jika tau begini lebih baik tadi dia tidak mendengarkan permintaan Ranti yang memintanya pergi ke taman kota untuk melihat bintang dan tetap saja melihat bintang dari taman yang ada di rumahnya. Toh yang dirumahnya jauh lebih indah.
"Baiklah perpanjangan 15 menit setelah itu kita pulang." perintahnya walau harus mengalah.
"30 menit ya" Ranti masih mencoba untuk tawar menawar.
"15 menit atau pulang sekarang." Jawab Leon dengan tegas.
__ADS_1
"Iya iya 15 menit menyebalkan" Ranti mengerucutkan bibirnya karena kesal dengan pria tersebut.
Setelah perdebatan tersebut lewat dua orang pasangan muda mudi yang saat ini sedang memakan gula kapas bewarna merah muda ditangannya. Ranti melirik tidak berkedip pada gula kapas itu.
"Kau mau ?" tanya Leon saat melihat gadis tersebut menatap menginginkan pada makanan yang di bawa oleh dua muda mudi tadi.
"ti-tidak aku tidak mau kok." Ranti merasa malu jika Leon mengetahui bagaimana ekspresinya saat melihat gula kapas tadi.
"Jangan bohong, kau mau kan tadi saja kulihat kau ngiler tuh."mendengar hal itu sontak membuat Ranti segera mengelap ujung bibirnya.
'Kering tidak ada air liur kok, dia...'Gadis itu langsung menatap tajam kearah Leon yang sudah menipunya.
"Jangan menatapku seperti itu, nanti kau tambah jatuh cinta lagi." ejeknya.
"ishh" Ranti benar-benar tidak habis pikir bagaimana mungkin ia memiliki perasaan pada pria ini. kecuali wajahnya yang memiliki nilai sempurna tapi akhlaknya di bawah nol.
"Tunggu disini aku akan belikan benda itu untukmu atau kau seharusnya ikut saja." Leon bertanya pada Ranti karena jujur ia khawatir jika gadis tersebut kenapa napa saat ia sedang membeli gula kapas itu.
"Aku tinggal mau lihat bintang disini saja." gadis tersebut menolak untuk ikut dengan Leon. Walau berat namun pria tersebut akhirnya meninggalkan gadis tersebut dan pergi untuk membeli gula kapas sendirian.
Ranti menutup matanya lalu merasakan angin sejuk yang menerpa wajahnya. Rasanya benar-benar segar belum lagi kunang-kunang itu juga masih banyak bahkan bertambah banyak disana.
Tapi pandangannya tak lama mengarah kepada sosok anak laki-laki yang tidak jauh darinya. Anak itu berusia sekitar 4 tahunan berjalan sendirian disana. Hingga datang seorang laki-laki yang mencoba memberikan anak kecil tersebut permen yang mendapatkan penolakan dari anak kecil itu.
Ranti terus memperhatikan bagaimana laki-laki itu terus memaksa anak tersebut untuk ikut dengannya namun anak kecil itu terus menolak dak menangis. Melihat kejadian tersebut hanya satu kata yang terpikirkan oleh Ranti.
'Penculikkan.'
Gadis tersebut mulai berdiri dengan sekuat tenaganya lalu berjalan kearah pria dan anak tersebut. Pria itu tampak mulai menarik tangan anak itu dan membawanya pergi dari sana. Namun dengan cepat Ranti menarik tangan satunya dari anak itu.
"Kau mau bawa dia kemana?"tanya gadis itu dengan tatapan tajamnya.
__ADS_1
"Dia adalah keponakanku jadi orang luar sepertimu jangan ikut campur."Jawabnya dengan menatap kearah Ranti.
"Hei jika memang begitu aku akan bertanya ke anak ini dulu. Tidak mungkin kan dia tidak mengenali pamannya sendiri kecuali kau berbohong."
"Dek apakah om ini emng o om adeknya ya ?" tanya Ranti kepada anak kecil itu yang menangis dengan tersedu sedu itu.
"aaaa hiks ojan nggak kenal om ini KK hiks, om ini maksa ojak terus hiks." anak kecil tersebut masih menangis karena ketakutan.
"kau dengar sendiri kan kau bukan omnya jadi lepaskan tanganmu itu." ucap Ranti dengan nada mengancam.
"Hahaha kalau pun kau tau memang kau bisa apa? kau hanya gadis kecil biasa dan kulihat kau juga laku jika kujual." Ucapnya tidak tau malu.
"Mimpi kau " Ranti menarik nafasnya lalu berteriak dengan kuat.
"To--" belum sempat Ranti berteriak namun sebuah tangan besar telah menutup mulutnya agar tidak berteriak.
Ranti menatap tajam orang yang telah menutup mulutnya yakni seorang laki-laki yang merupakan teman dari penculik itu.
'Sial kok dua.' Kali ini Ranti benar-benar kecewa dengan tingkat keberuntungannya jelas jelas baru kemarin ia bisa merasakan bagaimana hampir mati tapi sekarang sepertinya ia harus merasakannya lagi.
"Hmm,hmm" Gadis itu terus berontak dalam bekapan pria tersebut. Melihat Ranti yang terus melawannya membuat laki-laki tersebut berencana membuat gadis itu dengan cara memukul tengkuknya.
Anak kecil itu terus menangis terutama saat melihat salah satu orang tersebut yang mengangkat nya dengan paksa. Ranti yang melihat pria itu begitu kasar kepada anak kecil.
"DIAM !! ayo ikut kami."Paksa pria tersebut yang mulai kesal dengan tingkah gadis itu.
Ranti dengan sekuat tenaga mendorong pria tersebut untuk melepaskannya hingga akhirnya ia dapat melepaskan diri walaupun harus mendaratkan bokongnya diatas rumput tersebut.
"Aw!" Gadis itu berteriak kecil saat merasa bagian belakangnya yang cukup sakit itu.
"Kau benar-benar gadis kurang ajar akan kami jual kau ke rumah bordil pasti banyak yang suka dengan gadis menantang sepertimu ini hahaha."Pria tersebut tertawa kerasa saat mengatakannya.
__ADS_1
"Maka sebelum itu kau yang akan ku kuliti." Suara datar terdengar dari sosok pria yang saat ini penuh dengan hawa membunuh itu.
'Mati aku' Ranti merasa bahwa Leon pasti akan menghukumnya dengan berat kali ini.