
Leon dengan sekuat tenaga berlari kearah Helikopter itu lalu melompat dengan sekuat tenaga tapi ia tidak bisa menjangkaunya. Pria itu terduduk diatas pasir pantai itu dengan keadaan yang kacau bahu kanannya yang terus mengeluarkan darah dan bajunya yang juga berantakan.
"Aku tidak berguna..." Gumamnya dengan menatap sedih kearah Ranti yang terus berteriak memanggil namanya.
"LEON HIKS LEPAS AKU TIDAK MAU IKUT DENGANMU!! LEPAS! LEON...!HIKS" Ranti menangis saat melihat bahwa Leon sama sekali tidak bisa menjangkaunya.
"BUGH" Pria itu memukul tengkuk Ranti menyebabkan gadis itu pingsan seketika.
"Leon maaf..." Gumamnya sebelum menutup mata.
...****************...
Suasana tampak sepi hanya ada suara ombak disana sedangkan Leon ia hanya dapat menatap sedih kearah langit.
"Bos..." Panggil Martin dengan berlari mendekat kearahnya.
Martin meneliti setiap tubuh Leon yang tampak berantakan itu dengan darah yang menetes dari tangannya.
__ADS_1
"Anda terluka saya akan mencarikan dokter. Atau kita kembali saja ke kota." Ujarnya.
"Aku tidak mau kau bisa pergi Martin." Perintahnya dengan nada Rendah itu.
Martin menatap iba pada tuannya itu namun sejenak ia mengingat surat yang ia dapatkan tadi.
"Tuan, saya yakin nyonya pasti akan aman saya bisa menjamin itu." Ujarnya dengan percaya diri agar dapat meyakinkan Leon.
Leon tidak menjawab akan tetapi ia menoleh menghadap ke arah Martin.
"Ini tuan saya menemukan surat." Martin memberikan surat itu kepada Leon.
'Untuk keponakan ku Frederick Leonardo Ze yang sangat nakal, pamanmu ini sangat kasihan kepada istri kontrakmu ini karena memiliki suami seperti batu. Selama ini paman sudah memperhatikan seluruh rencanamu tapi paman ingin melihat bagaimana hubungan kalian selama setahun tapi nyatanya tidak ada kemajuan juga. Jadi dengan berat hati pamanmu ini harus membawa pergi istrimu ini. ya... itung-itung biar dia tau bahwa keluarga suaminya itu ada juga yang baik dan tidak seperti mu. Jadi paman sudah memutuskan akan menjadikan istrimu ini sebagai....Calon istri untuk James adik sepupu mu hahaha. Oh ya akan paman urus tentang perceraian kalian sehingga kau tidak akan susah lagi. Dan satu lagi pamanmu ini akan menepati janji kita tahun lalu, intinya dalam pertarungan ini kau yang menang dan paman yang kalah. Oke cukup sampai sini saja sampai jumpa keponakan imut paman.' Leon meremas dengan kuat surat itu.
"Bajingan Tua itu!!" Geramnya.
Martin dapat merasakan hawa membunuh yang mencengkram dari Leon. Sebenarnya apa yang dipikirkan paman Leon kali ini, sungguh keluarga yang gila.
__ADS_1
"Martin bereskan semua yang disini, aku akan benar-benar menguliti bajingan tua itu kali ini, jika dia berani untuk menikah kan istriku dengan orang lain apalagi bersama bajingan James itu maka aku akan memotong nya dengan tanganku sendiri." Pria itu benar-benar sudah di puncak emosinya.
Setelah itu Leon dengan tegap kembali ke kediamannya untuk mendapatkan perawatan dari luka dibahunya itu.
Hari akhirnya berganti sosok gadis tampak masih tertidur diatas tempat tidur mewah dengan nuansa putih itu.
"ugh"
Matanya perlahan terbuka dan mulai menampilkan manik mata hitam itu.
"Di mana aku?" Tanyanya.
Ranti melihat seluruh ruangan itu tapi ia sama sekali tidak mengenal ruangan ini.
"Aku...Leon? Leon, Leon!" Akhirnya ia sudah menyadari apa yang telah terjadi padanya.
"Kau sudah bangun?" Suara bariton seorang pria terdengar jelas di telinganya.
__ADS_1
Ranti dengan cepat menolehkan kepalanya kearah sumber suara."Kau.." Ucapnya dengan terkejut.