Gadis Biasa Menikahi Mafia Tampan

Gadis Biasa Menikahi Mafia Tampan
Maaf


__ADS_3

Plak!" Ranti menampar gadis tersebut saat sudah ada tepat didepannya. Sepertinya keahlian menampar Ranti sungguh sangat luar biasa karena sepertinya tamparan itu cukup sakit.


"Aku benar-benar akan membunuhmu!" Pria tersebut mengangkat tangannya lalu mencekik Gadis tersebut dengan kuat.


Ranti benar-benar merasa tidak bisa bernafas matanya menatap orang-orang disana yang sama sekali tidak berniat membantunya.


"Le-lepas!"


Perlahan pandangannya mulai menggelap. Ranti menutup matanya tanpa ia sadari air mata membasahi pipinya.


"BUGH!"


...****************...


Laki-laki itu terhuyung kebelakang saat merasakan pukulan dari seorang pria tampan dan gagah itu. Bahkan wanita-wanita yang ada disana terpukau melihat wajah tampan pria itu.


"HEI KAU, APA KAU TIDAK TAU SIAPA AKU HA!" ujarnya dengan amarah yang menyelimuti dirinya.


"Apakah aku harus tau mengenai hal itu?." Pria tersebut menarik salah satu alisnya menunjukkan bahwa ia sama sekali tidak peduli.


"Uhuk,uhuk,uhuk." Suara Ranti membuat pria tersebut menoleh padanya.


"Kenapa kau bisa ada disini?" Tanyanya dengan tatapan menuntut itu.


"A-aku tadi kehilangan jejakmu makanya aku ..." Ranti menjeda kalimatnya bingung bagaimana menjelaskan kepada pria yang ada didepannya ini.


"Aku apa?" Tanya Leon.


Tidak ada jawaban yang didapatnya dari gadis itu. Sedangkan Ranti hanya berdiam diri dengan memainkan jari-jarinya itu.


"Cepat jawab!" Perintahanya.


"Ce-ceritanya panjang nanti akan lama..." Cicitnya yang semakin pelan. Jujur saja Ranti sangat takut pada pria ini apalagi jika pria ini sedang dalam keadaan emosi seperti pada saat ini.


"Kau berhutang penjelasan padaku." Jawab Leon yang masih terlihat kesal. Bagaimana tidak kesal gadis itu terus saja membuatnya khawatir dan itu rasanya jantungnya seakan-akan terbang melayang. Tidak bisakah gadis itu diam dan menikmati kehidupannya tanpa berjalan kearah bahaya.


Tak lama mata pria itu mulai tertuju pada bekas cekikan yang terpampang jelas di leher gadis itu.

__ADS_1


"Kau!" Geramnya lalu menatap kearah pria yang tadi mencekik Ranti tersebut.


Leon berjalan mendekati pria tersebut lalu dengan cepat memukul pria itu tepat di pipi kiri pria tersebut.


"Bugh."


"HEI APA APAAN KAU ?" tanya pria tersebut yang tidak terima dengan pukulan yang diberikan oleh Leon.


"Apa-apaan kau bilang? Kau sudah berani menyentuh ISTRIKU maka kau harus mati bukan?." Ucapnya dengan senyum dingin itu.


Pria itu meneguk ludahnya kasar saat melihat senyuman yang dikeluarkan oleh pria tersebut.


Leon menarik kerah baju pria tersebut dan mencekik kuat pria tersebut. Sedangkan pria itu mencoba melawan namun tetap saja tenaganya kalah kuat dari pria itu.


"BERHENTI! LEPASKAN DIA." Teriakan dari wanita ular itu saat melihat pria yang bersamanya sedang dalam keadaan bahaya itu.


Leon menatap Wanita itu dengan tatapan membunuh lalu menatap kearah orang-orang yang ada disana.


"Kau berikutnya yang akan kuhabisi." Ancamnya pada gadis itu yang membuat gadis tersebut segera terdiam. Bukan hanya gadis itu namun orang-orang yang ada disana hanya bisa diam tanpa melakukan apapun. Apalagi melihat tatapan tajam dari pria tersebut.


"CUKUP LEON!" kali ini Ranti yang berteriak saat ia melihat pria yang sedang dicekik Leon itu seakan akan sudah mulai lemas.


"Jangan lukai dia lagi, mari kita pulang." Ajak gadis itu sambil menarik tangan laki-laki itu.


Mata yang awalnya penuh amarah itu kembali normal saat merasakan sentuhan dari gadis itu.


"Baiklah mari kita pulang." Jawabnya yang segera menjauhkan tangannya dari pria yang hampir saja tewas itu. Kenapa Leon berani untuk membunuh orang bahkan dimuka umum hal itu disebabkan karena dia sendiripun kebal terhadap hukum. Tidak ada siapapun yang lebih berkuasa darinya.


"Tuan mobil telah siap." Ucap Martin yang memang sedari tadi sudah disana membantu Leon untuk mencari Ranti itu.


Tidak ada jawaban dari pria tersebut sedangkan Ranti hanya tersenyum kecil pada Martin untuk menyapanya.


Didalam mobil suasana menjadi hening tanpa ada satupun diantara mereka yang membuka suara.


"Terimakasih dan maaf sudah merepotkan." Ucap gadis itu dengan tulus.


Tidak ada jawaban yang diberikan oleh pria itu. Ia bahkan tidak ingin menatap Ranti yang saat ini sedang berada didepannya.

__ADS_1


"Aku minta maaf." Gadis itu kembali mengulang Kalimatnya.


Namun kembali tidak ada jawaban dari pria dingin itu.


"Tuan aku minta maaf." Gadis itu tidak mau menyerah dan terus berusaha. Hingga akhirnya Ranti mencoba untuk memegang lengan pria itu untuk membujuknya. Namun Leon dengan cepat menepisnya.


"Jangan menyentuhku walau hanya sedikit." Ucap pria itu dengan nada yang terkesan sangat dingin.


"Maaf." Kata itu keluar begitu saja.


"Aku memang salah, dan aku mengakui hal itu. Tapi tidak bisakah kau jangan marah padaku." Ucapnya dengan senyuman tulusnya masih mencoba membujuk pria tersebut.


"Jangan tersenyum itu memuakkan." Jawab pria itu dengan begitu saja.


"Tidak bisakah kita berdua berbicara dengan baik tanpa harus menyakiti, hanya tinggal dua Minggu kita bersama sebagai suami istri dan setelah itu kita akan menjadi orang asing." Gadis itu tersenyum kecut saat mengingat sisa waktunya bersama pria ini.


"Apa aku salah telah mencintaimu ?" Tanyanya.


"Kau sangat salah karena aku tidak mungkin mencintaimu." Jawab pria itu dengan datar. Tidak ada ekspresi sama sekali yang ditunjukkannya.


"Ternyata begitu, aku terlalu berharap tinggi hahaha. Andai aku tidak mencintaimu maka aku tidak akan sesakit ini bukan? Aku yang bodoh bukan kau yang salah." Ucapnya dengan senyum yang terus terpampang di wajahnya.


"Sebenarnya apa yang harus aku lakukan agar kau juga mencintaiku?" Tanyanya.


"Tidak ada karena tidak mungkin." Laki-laki itu menatap tajam pada gadis yang ada didepannya itu.


"Jika begitu bisakah kau mengabulkan satu permintaanku." Gadis itu menatap harap pada pria yang ada didepannya itu.


Sebagai jawaban Leon hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Aku akan memintanya pada saat ini semua berakhir bagaimana?" Tanyanya.


"Akan aku lakukan sesuai kemauanmu." Jawabnya yang tidak akan pernah diingkarinya. Sebagai balasan Ranti tersenyum bahagia dengan apa yang dijanjikan oleh pria tersebut.


'Kau harus pergi jauh dariku, agar kau bisa bahagia.' Pikir pria itu dengan menatap gadis itu sesekali.


'Maaf.' Ucapnya dalam hati saat melihat Ranti yang meneteskan air mata sambil menatap keluar jendela mobil. Ingin rasanya ia memeluk gadis itu namun apa yang dapat dikata semua itu mustahil untuk ia lakukan.

__ADS_1


Setelah sampai di rumah Leon mereka berdua hanya saling diam dengan pikiran masing-masing. Leon sesekali melirik kerah Ranti yang hanya menunduk dengan air mata yang masih mengalir namun coba ia sembunyikan itu.


'Rasanya benar-benar sakit...' Gadis itu memegang erat dadanya saat setelah ia tiba dikamar.


__ADS_2