
Hingga akhirnya mereka tiba di mansion baru milik Leon karena ia berharap akan ada kisah baru di antara ia dan juga Ranti.
"Klek." Tidak ada siapapun disana, tempat itu sangat gelap kala Ranti memasuki Ruangan tersebut.
"Kemana semua orang ?" Tanya Ranti karena susah jelas tempat seluas ini harus di urus oleh beberapa
Tidak ada jawaban dari Leon.
"Jawab aku Leon." Pintanya.
"hidupkan saja lampunya lalu kita bicara kembali."
"hmm baiklah." Ujar gadis itu lalu melangkah menghidupkan. lampu tersebut.
"SURPRISE !!"ujar orang-orang disitu membuat Ranti benar-benar bingung harus apa .
...****************...
Ranti tampak terkejut dengan kehadiran orang-orang yang ada di sana, bagaimana bisa di tempat itu sudah ada Rina dan juga Atika.
"Ka-kalian, bagaimana bisa ?" Tanya Ranti dengan gugup.
"Oh ayolah,kau telah merahasiakan hal penting dari kami,"Ujar Rina dengan tampang kecewa yang di buat-buat olehnya.
"A-aku tidak..."
"Jangan panik Ran, kami sudah tau semuanya kok, suamimu yang galak itu telah menjelaskan pada kami tentang bagaimana hubungan kalian." Jelas Atika.
"Maksudnya..." Ranti benar-benar masih bingung dengan apa yang ia alami.
"Maksudnya, kami telah mengetahui bahwa kau telah menikah dan apa sebabnya serta kelakuan intan dan lain-lain."
"Ha!....a-aku benar-benar minta maaf." Ranti benar-benar merasa tidak enak hati pada kedua sahabat baiknya itu.
"Tidak apa-apa kami sudah memaafkanmu, jadi jangan terlalu merasa bersalah oke ?" Rina dengan nada lembutnya.
"Terimakasih aku sangat menyayangi kalian," Ujar Ranti lalu memeluk dua sahabat baiknya itu.
"Oh ya aku punya kejutan lagi, tapi kali ini kita harus ke ruang makan." Pinta Leon lalu menggenggam tangan gadis itu.
__ADS_1
"Lagi ?" Tanyanya.
"Iya...kamu akan menyukainya." Ujar laki-laki itu lalu tersenyum manis padanya.
"Ehemmm kami masih disini loh hehehe." Ujar Rina yang sudah mulai bosan menjadi obat nyamuk.
Mereka akhirnya tiba di ruang makan, saat sampai disana Ranti benar-benar tidak bisa menahan air matanya.
"Apakah ini nyata ?" Ujarnya dengan menatap Leon.
"Tentu saja." Jawabnya dengan sangat lembut.
"Ranti... ayo makan nak.." Pinta pria paruh baya itu.
"Iya Kak sini makan, kami udah lapar ni." ajak anak laki-laki.
"Ini semua masakan ibu loh masak kamu nggak mau makan,"
"ka-kalian ti-tidak marah?" Tanya Ranti.
"Huh... awalnya mamak dengan bapak kecewa sama kamu tapi ya mau bagaimana lagi toh ini sudah takdir kamu juga sudah besar dan yang terpenting kalian sudah menikah dan tidak melakukan zinah. Ya walaupun bapak agak kecewa karena bapak nggak bisa jadi wali kamu." Ujarnya dengan wajah yang kecewa.
"Maaf pak hiks... Ranti benar-benar minta maaf hiks."
"Jangan nangis Ran, bapak dengan mamak nggak suka kalau kamu sedih." Ujar ibu Ranti yang langsung menghampiri Ranti dan memeluknya erat. adik dan sang ayah pun ikut menghampiri lalu keluarga kecil itu tampak dalam keadaan haru karena apa yang terjadi.
"Ma-maafin Ranti. ya....hiks,hiks maaf hikss."
"Cup, cup cup sudah jangan menangis kan kamu lagi hamil tidak boleh terlalu sedih nanti cucu mamak ikut sedih loh."
Ranti dengan cepat mengangguk dan menghapus jejak air mata yang masih tersisa itu.
"Iya sayang tenanglah..." Ujar Leon yang langsung membawa istri kecilnya itu kedalam dekapannya.
"Ayo makan mamak, kakak, Abang ipar...aku udah laparrrr." Ujar anak kecil yang bernama raka itu.
"iya iya ayo makan anggap aja rumah sendiri." Ujar ayah Ranti yang membuat semua orang disitu tersenyum bahagia.
"Rina, intan kalian juga oh ya Martin dan juga Amelie juga harus ikut makan." Ajak Ranti yang disetujui oleh mereka
__ADS_1
Akhirnya mereka makan dalam suasana canda dan tawa. Mereka tampak bahagia begitu pula dengan Leon yang sedari tadi terus tersenyum.
'Siapa sangka dalam hidup ini aku bisa mendapatkan kebahagiaan seperti ini. Dulu aku tidak pernah berpikir untuk mendapatkan semua ini namun sekarang aku justru mendapatkannya. Semua ini karena nya...sosok gadis tangguh yang menarikku dari kegelapan dan membawaku ke tempat ini. Dalam hidup ini untuk pertama kalinya aku merasa beruntung karena telah dilahirkan. I love you Rantii' Batin Leon dengan menatap wajah ceria dari wanita itu.
"Hei kenapa ?" Tanya Ranti.
"Tidak ada, aku hanya ingin bertanya ?" Ujarnya masih dengan senyuman yang melekat dibibir merahnya.
"Apa ?" Tanya Ranti.
"Hmm nanti saja." Ujar Leon membuat Ranti harus menelan rasa penasarannya.
Hingga akhirnya kali ini mereka hanya tinggal berdua, saat ini pria itu membawa Ranti membawanya ke taman bunga tempat yang sangat di sukai wanita itu.
"Hmm sudah lama aku tidak kesini." Ujarnya dengan berjalan dan menggandeng tangan milik pria itu.
"Yaaa sudah sangat lama, apa kau tau kenapa aku tidak menanam bunga Daisy kesukaan mu untuk membuatmu bahagia." Ujarnya membuat Ranti menatap penasaran pada pria tampan yang tampak sangat tampan dengan rambut yang tertiup angin.
"Kenapa ?"
"Itu karena aku ingat permintaan mu dulu, kamu pernah minta untuk dibiarkan menanam bunga Daisy disini jadi aku tidak ingin mengambil hal itu darimu." Ujarnya.
"Kamu mengingatnya dengan jelas ya." Ujar Ranti dengan santai dan bahagia walaupun rasanya ia sangat ingin guling-guling karena sangat bahagia.
"Oh ya tadi aku ingin menanyakan sesuatu padamu, tapi aku mohon kamu jawab dengan sejujurnya oke" ujarnya dengan serius.
"i-iya..." Ranti sedikit gugup. Bisa saja kan pertanyaan ini lebih susah dari pertanyaan pada saat ujian nasional.
"Apa kamu bahagia ?
Mendengar hal tersebut Ranti menghela nafas panjang.
"Bagaimana aku bisa menjelaskan nya, emmm...." Muka Leon tampak tegang mendengar hal tersebut.
"Begini saja, jika aku bisa kembali ke masa lalu maka aku tetap akan mengambil pilihan yang sama. aku sangat bahagia bisa bersamamu Leon. kau adalah semangat ku, kau nafasku. Aku mencintaimu bahkan lebih dalam dari yang kau pikirkan. Aku sangat bahagia dan sangat mencintai mu suamiku." Ujarnya dengan menatap manik hitam milik pria itu.
"Terimakasih kasih, aku juga sangat bahagia dan sangat-sangat mencintaimu istriku..."
"Cup." Pria itu mengecup kening Ranti dengan penuh cinta sedangkan Ranti memejamkan matanya merasakan kehangatan yang diberikan padanya.
__ADS_1
Setelah itu mereka menatap senja dengan duduk di kursi taman tersebut. Dengan Leon yang terus mengelus perutnya yang tampak datar lalu menciumnya sesekali.
'Siapa sangka aku akan mendapatkan hal ini ,dulu di tempat ini aku berjanji untuk membuat pria ini jatuh cinta padaku dan saat ini itu terkabulkan. Aku sangat bahagia...aku sangat berterimakasih terutama pada diriku sendiri yang telah bertahan hingga saat ini. Dan pria ini aku harap kita akan selalu bersama selamanya.' pikirnya dengan bahagia.