Gadis Biasa Menikahi Mafia Tampan

Gadis Biasa Menikahi Mafia Tampan
Hujan


__ADS_3

Kau harus pergi jauh dariku, agar kau bisa bahagia.' Pikir pria itu dengan menatap gadis itu sesekali.


'Maaf.' Ucapnya dalam hati saat melihat Ranti yang meneteskan air mata sambil menatap keluar jendela mobil. Ingin rasanya ia memeluk gadis itu namun apa yang dapat dikata semua itu mustahil untuk ia lakukan.


Setelah sampai di rumah Leon mereka berdua hanya saling diam dengan pikiran masing-masing. Leon sesekali melirik kerah Ranti yang hanya menunduk dengan air mata yang masih mengalir namun coba ia sembunyikan itu.


'Rasanya benar-benar sakit...' Gadis itu memegang erat dadanya saat setelah ia tiba dikamar.


...****************...


"Hiks,Hiks Hiks..." Isaknya dengan bersandar didinding itu. Tak lama gadis itu mulai terduduk dengan menenggelamkan kepalanya diantara kedua lututnya itu.


Leon yang ingin memasuki kamar melihat bagaimana gadis itu terisak dengan sangat menyayat hati.


"Ini adalah caraku untuk mencintaimu Ranti, caraku adalah tidak membawamu kedalam bahaya. Aku ingin kau bisa hidup dengan bahagia seperti orang lain. Kehidupanku terlalu sulit untuk kau hadapi." Ingin sekali rasanya Leon mengatakan hal itu pada gadis itu namun ia dapat menahan hal itu.


Leon menyandarkan dirinya di dinding depan kamar tanpa hendak pergi sedikitpun.


"Aku akan menemanimu dalam sedihmu." Gumamnya yang bersandar didinding itu.


"Hiks,hiks,hiks..." Isakkan gadis itu yang masih terdengar ditelinga pria tersebut.


Tak lama suara isakkan itu mulai berhenti karena gadis itu mulai terlelap dalam tidurnya. Leon dengan perlahan melangkahkan kakinya kearah Ranti yang tertidur dalam posisi duduk itu bahkan air mata pun masih berada di wajahnya. Perlahan tangan pria itu mengusap air mata yang masih ada disana.


Leon mengelus pelan wajah itu lalu perlahan ia mulai membawa tubuh gadis itu menuju kearah kasur yang ada disana.


Setelah tiba didekat ranjang itu Leon segera meletakkan tubuh kecil itu diatas ranjang dengan sangat perlahan karena takut membangunkan gadis itu.

__ADS_1


Dengan telaten pria itu menaikkan selimut hingga sebatas dada gadis itu. Setelah itu ia duduk dilantai dengan menatap sendu kearah gadis itu yang masih tertidur tersebut.


"Andai kau tau bahwa aku sangat-sangat mencintaimu. Aku sangat ingin kau selalu bahagia sayang. Bahkan aku dapat mengatakan bahwa aku mencintaimu lebih dari apapun. Namun, aku sadar bahwa kau akan terus dalam keadaan bahaya jika bersamaku. Kau tau betapa bahagianya aku saat tau kau juga mencintaiku rasanya aku benar-benar merasa sangat bahagia. Tapi aku tidak bisa terus bersamamu kan semua akan menyulitkan mu. Asal kau bahagia maka aku juga akan bahagia walau aku harus melepaskanmu istriku." Ucapnya dengan terus mengelus wajah gadis itu.


"Aku harus melepaskanmu tapi aku ingin kita selalu bersama..." Tanpa disadari air mata mengalir begitu saja.


Leon kembali terdiam sambil menatap gadis itu. Tapi ia harus terlihat kuat agar gadis ini bisa dengan mudah pergi darinya.


Keesokan harinya Ranti merasakan sinar matahari yang mulai menerpa wajahnya. Perlahan mata itu terbuka lalu mulai menelusuri ruangan dimana ia terbangun itu.


"Kenapa aku ada diatas kasur? Bukankah tadi malam aku menangis dipojokkan itu."


"Ais paling aku tidur berjalan." Lanjutnya yang tidak mau memikirkan hal-hal berat lainnya.


"Lebih baik aku mandi lalu melihat bunga di taman." Pikirnya lalu beranjak menuju ke kamar mandi.


"Sepertinya impianku untuk menanam bunga daisy disini hanya tinggal angan-angan." Gumamnya dengan raut kesedihan yang tampak dari matanya.


"Aku tidak boleh lemah, aku harus semangat, aku harus bisa kembali ke kehidupanku yang dulu." Lanjutnya deng senyum yang berpatri di bibirnya itu.


Gadis itu benar-benar sudah pasrah dengan apa yang akan dihadapinya sekarang. Terutama pada hubungannya dan Leon sepertinya mereka tidak berjodoh.


"Ternyata aku gagal membuatnya jatuh cinta padaku." Gumamnya dengan senyum kecut.


Langit yang cerah mendadak berubah menjadi mendung dan hujan mulai membasahi tempat itu. Rantipun segera meninggalkan taman dan berlari menuju kearah rumah kaca yang tidak jauh dari sana.


"Hujannya deras." Gumamnya saat melihat hujan yang turun dengan derasnya itu.

__ADS_1


Lama gadis itu menunggu disana menunggu agar hujan segera reda dan ia dapat kedalam rumah tanpa harus basah kuyup.


"Lama sekali atau aku terobos aja ya. Dari pada disini sendirian." Pikirnya.


Gadis itu mulai melangkahkan dirinya untuk pergi kedalam rumah dengan secepat mungkin yang dia bisa.


Namun, karena hujan yang memang deras Ranti sudah basah kuyup sebelum sampai kedalam. Akhirnya gadis itu memutuskan untuk berlari dan berjalan santai. Untuk apa susah payah berlari toh bajunya sudah basah pikir gadis itu.


"Tidak buruk juga jika dibawah hujan seperti ini." Gumamnya lalu memejamkan matanya dibawah guyuran hujan itu. Wajahnya ia arahkan keatas agar dapat merasakan hujan yang mengenai wajahnya dan itu sungguh membuatnya terlena.


Hingga gadis itu tidak dapat merasakan hujan mengenai tubuhnya. Dengan perlahan gadis itu membuka matanya dan yang dapat dilihatnya hanya benda hitam yang Ranti ketahui sebuah payung itu. Tapi siapa yang memegangnya, Gadis itu dengan cepat melihat keatas si pemegang payung. Disana telah berdiri seorang pria tampan dengan kemeja hitam dan juga celana hitam menatapnya.


"Kenapa?" Tanya Ranti sambil menatap bingung kearah pria yang hanya menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan itu.


"Iya, iya mari kita masuk." Ucap gadis itu lalu beranjak pergi dari sana. Karena gadis itu berpikir pasti pria yang ada didepannya ini marah padanya.


"TAP." Tangan Ranti di cekal oleh pria itu. Lalu tanpa aba-aba laki-laki itu melepaskan payung tersebut dan memeluk Ranti dibawah derasnya hujan.


Ranti terdiam tanpa bisa mengatakan satu hal pun. Dia benar-benar tidak mengerti dengan apa yang terjadi.


Hujan turun semakin deras mengguyur dua insan yang saat ini tengah berpelukan itu. Mereka sudah sama-sama basah namun tidak ada satu katapun yang keluar dari bibir mereka.


Siapa sangka di bawah hujan itu sekali lagi pria tersebut meneteskan air matanya. Sedangkan Rantipun juga sama namun hanya hujan yang tau akan hal itu.


'Aku tidak bisa hidup tanpanya, apakah aku haru egois?aku tidak mau kehilangannya.' Pikir leon dengan terus memeluk tubuh gadis itu.


'Kenapa semuanya menjadi begitu sulit, kenapa dia memberiku harapan? bagaimana aku dapat melupakan dirimu Leon jika kau seperti ini."

__ADS_1


Mereka terus terdiam dengan pikiran mereka masing-masing . Sama-sama tidak ingin berpisah namun mereka memang harus berpisah karena suatu hal. Namun, apakah mereka dapat mengatasi hal tersebut dan terus bersama atau malah sebaliknya?.


__ADS_2