
"Alexia pergi ke jalan x dekat rumah yang kubuat untuk Ranti disana terdapat orang yang memegang kendali atas bom itu kalian harus bisa membawanya hidup-hidup kepada ku." Perintahnya.
"Baik bos." Jawab mereka serentak
"Jadi apa yang akan kita lakukan selanjutnya bos?" Tanya Martin.
Tidak ada jawaban dari pria iyu itu ia hanya menarik sedikit ujung bibirnya.
...****************...
Di ruang makan Ranti makan dengan senang hingga akhirnya piring didepannya telah kosong.
"Glek" Gadis itupun meminum minuman yang telah disediakan untuknya.
"Hmm legahnya." Ucapnya.
Tak lama tiba-tiba saja ruangan itu menjadi sangat ramai dan betul saja seorang berjas yang tidak dikenalnya datang menghampiri nya.
"Nyonya anda harus ikut saya sekarang." Ucapnya.
"Aku tidak mau." Jawab gadis itu dengan cepat.
"Tapi maaf saya tidak membutuhkan pendapat anda."
__ADS_1
Ranti akan berteriak namun kepalanya tiba-tiba saja merasa sangat pusing.
"Apa yang kau...?" Gumamnya sebelum benar-benar tertidur.
"Misi sukses, siapkan helikopter di tempat kita setujui." Ujar pria itu.
"Taklama ia mengambil sebuah troli yang lumayan besar lalu mendudukkan gadis itu tepat disana. Agar tidak ketahuan pria itu menutupinya dengan kain panjang.
Tanpa orang lain ketahui bahwa pada saat itu Ranti telah di bawa pergi dengan muda oleh pria tersebut.
Leon yang sudah menyelesaikan urusannya mencoba berdiri dan pergi namun sebelum laki-laki itu beranjak pengawalnya tiba-tiba saja masuk tanpa meminta izin terlebih dahulu.
"Kenapa kau sangat berani untuk masuk ke ruanganku tanpa izin terlebih dahulu." Ujarnya dengan tatapan membunuh itu.
"Brak" Leon memukul keras meja itu saat mendengar bahwa ini menyangkut istrinya.
"Nyonya menghilang tuan, kami sudah mencarinya tapi kami tidak dapat menemukan nya dimanapun." Ujarnya dengan cepat.
Mendengar hal itu Leon segera pergi dari dalam ruangan tersebut tentunya dengan amarah yang sudah tidak bisa di tahannya.
"Sialan!!" Umpatnya kala mendapati ruang makan yang telah kosong itu.
Dengan cepat pria itu memeriksa semua yang ada disana lalu matanya berpaku pada gelas dengan air yang sudah setengah itu.
__ADS_1
"Benar-benar mereka ingin mencari mati." Ujar pria itu kala menyadari ada obat yang sudah diletakkan pada air di dalam gelas itu.
"Martin!!Gel MERTINNNN" teriakan Leon menggema disana hingga martin yang agak jauh dari sana dapat mendengar suara itu.
"Ada apa tuan?" tanya pria itu dengan buru-buru.
"CEPAT !PERINTAHKAN SEMUA ANAK BUAH YANG TIDAK BERGUNA ITU UNTUK MENCARI ISTRIKU!! SEKARANG!"perintahnya dengan sangat jelas.
"Jika ada sehelai rambut saja yang hilang maka aku akan membuat perhitungan pada kalian!!" Geramnya.
"Baik bos saya akan mencari nyonya dengan. secepat mungkin." Jawabnya dengan cepat.
Setelah mengatakan hal tersebut Martin dengan cepat meninggalkan Leon dari pada ia yang akan menjadi bulan-bulanan tuannya itu.
"Akhh..."
"BRAKK.."
"BRAKK.."
Leon melempar semua benda-benda yang ada di meja makan itu. Lalu tak lama ia mulai menutup matanya dengan tangan kirinya sedangkan tangan kanannya telah berlumuran darah.
"Sial, ini alasanku tidak ingin kau berada disampingku, tapi kenapa kau sangat keras kepala." Gumamnya dengan sanagt pelan.
__ADS_1
Air mata tampak mengalir dari matanya yang saat ini tengah ditutupi nya dengan tangan itu.