Gadis Biasa Menikahi Mafia Tampan

Gadis Biasa Menikahi Mafia Tampan
Jangan pikirkan aku !!


__ADS_3

Gadis tersebut lalu berlalu memandang langit yang sangat indah itu.


"Kuharap bisa menjadi salah satu bintang di sana." Gumamnya pelan lalu mengecup pelan hidung pria itu.


"Selamat tinggal singa galak" ucapnya lalu mulai berjalan mundur kearah tebing yang hanya berjarak beberapa langkah darinya itu.


...****************...


Di tempat lain saat ini Martin dan Alexia sedang mencari Leon. Martin tampak menghubungi anak buahnya saat mendapati tidak ada siapapun dalam koordinat yang dikirimkan oleh tuannya itu.


"Seperti ada bekas perkelahian disini. Tapi...apa mungkin bos kalah semudah itu." Gumamnya pelan.


"Drrt,Drtt..." Suara ponsel Martin yang berbunyi.


"Halo Alexia apa kau sudah menemukan posisi bos sekarang ?" Tanya Martin kepada Alexia yang berada di ujung panggilan tersebut.


Alexia menjelaskan tentang apa saja yang telah ia dapatkan dari penyidikannya.


"Baiklah aku akan ke sana untuk memeriksanya jika saja bos memang di bawa ke sana." Setelah mengatakan hal tersebut Leon menutup panggilan tersebut. Dengan tegas laki-laki itu berjalan kearah mobilnya yang di ikuti oleh beberapa mobil lagi di belakangnya yang merupakan anak buah dari Leon.


Jalanan yang gelap tidak menghalangi Martin untuk pergi menuju ke tempat Leon berada. Namun di pertengahan perjalanan mobil mereka di hadang oleh beberapa mobil hitam lainnya.


Melihat hal tersebut dengan segera Martin menginjak rem guna memberhentikan mobilnya agar tidak menabrak mobil yang tiba-tiba berhenti di depannya itu.


"Bren***k " umpat pria itu dengan kasar.


Tanpa menunggu aba-aba Leon segera menarik pelatuk pistolnya dan terjadilah baku tembak diantara mereka.


"DOOR"


"DOOR"


Mereka terus memberikan serangan satu sama lain. Tentunya dari hal itu kelompok Martin lebih unggul namun mereka masih membutuhkan beberapa waktu untuk membereskan mereka yang mengganggu jalannya.


Di sisi lain seorang pria jangkung masih seperti biasa bermain catur akan tetapi hanya ia seorang yang menggerakkan bidak putih maupun hitam.

__ADS_1


"Tak" Sebuah pion kuda ia jalankan.


"Skak" gumamnya pelan dengan memperhatikan raja dari pion hitam yang tampak hampir tersudut itu.


"Kena kau Leon." Gumamnya pelan dengan senyum manis yang ia tampilkan di wajah tampannya itu.


Di bagian sisi tebing yang lain lima orang laki-laki itu hanya menatap Ranti dan Leon dengan ekspresi yang berbeda. Di empat orang terlihat ada sedikit raut bersalah yang mereka tampilkan walaupun itu hanya sedikit. Berbeda dengan satu orang lagi yang terdapat bekas codet di wajahnya itu. Pria itu justru tersenyum senang mengetahui rencananya akan berjalan sukses sebentar lagi.


"Hei iwan, bagaimana jika suatu hari kebenaran ini terungkap ?" Tanya salah satu dari mereka.


"Itu tidak akan terjadi karena saksi kita hanya si gadis gila itu. jika dia mati, maka semua barang bukti akan menghilang bersamanya." Ucap lelaki itu dengan santai.


"Kau yang bertanggung jawab untuk ini Iwan kami tidak akan mengikuti mu lagi setelah ini. Kami hanya pencuri bukan pembunuh." lanjut salah satu mereka yang hendak pergi dari tempat itu. Tentunya hal tersebut di ikuti oleh tiga orang lainnya.


"Kalian memang pengecut. maka pergilah tapi jangan meminta sepeserpun dariku nanti.!!" Geram pria tersebut saat melihat keempat temannya yang malah pergi meninggalkannya.


Iwan masih setia menunggu agar wanita itu melompat dan segera rencananya akan berhasil.


"Dasar gadis pembuat ulah. Sampai kapan aku harus menunggunya cih..." Ucapnya dengan kesal.


"Aku mencintaimu Leon..." Gumamnya pelan dengan menjatuhkan tubuhnya kebelakang secara perlahan.


"Plak.." Suara tangannya yang di pegang oleh seseorang agar ia tidak jatuh.


"Bugh.." Ranti di tarik hingga menabrak sebuah benda keras yang ia sendiripun tidak tau apa itu.


Ranti membuka matanya perlahan dan hanya ada pemandangan dada bidang seorang laki-laki dihadapannya.


"Le-leon" ucapnya sedikit bergetar. Laki -laki itu memeluk Ranti dengan erat seakan-akan tidak akan membiarkan gadis itu pergi walau hanya satu sentimeter pun.


Ranti mencoba untuk melepaskan dekapan Leon karena ia benar-benar tidak bisa bernafas. Tapi ia dapat merasakan tubuh laki-laki tersebut yang gemetar saat memeluknya.


"Le-leon apa kau sakit? apa yang sakit ? lepas dulu aku akan memeriksa mu sebentar." minta gadis dengan berusaha untuk lepas dari dekapan pria itu.


"BODOH !! JANGAN PIKIRKAN AKU !! BAGAIMANA JIKA AKU TERLAMBAT SEDIKIT SAJA? KAU AKAN ..." Teriak Leon dengan matanya yang tajam sambil melepaskan dekapannya dari gadis itu.. Namun, kedua tangannya ia letakkan tepat di ke dua bahu gadis tersebut. Ranti yang melihat Leon yang tampak mencemarkannya justru tersenyum bahagia dengan air mata yang begitu saja turun ke pipi putihnya itu.

__ADS_1


"A-aku minta maaf,aku tidak bermaksud untuk berteriak padamu. Aku hanya khawatir padamu." Ucap pria itu dengan wajah paniknya yang tidak pernah Ranti lihat sebelumnya.


"Tidak aku hanya bahagia bisa melihatmu". Ucap Ranti dengan memeluk pria di depannya itu.


"Aku berhutang karena kau telah menyelamatkanku kali ini." Gumamnya tepat di telinga Leon. Sedangkan pria itu tidak mengatakan apapun. Ia hanya membalas pelukan Ranti dengan meletakkan tangannya melingkar di tubuh gadis kecil itu.


Laki-laki itu menghirup aroma gadis yang telah menjadi istrinya itu. Ia bahkan enggan untuk melepaskan gadis itu lagi. Laki-laki yang tidak pernah merasakan takut itu kali ini benar-benar merasakan hal itu. Jantungnya serasa akan berhenti ketika mengingat kejadian tadi. Untung saja ia dapat tersadar tepat pada waktunya.


FLASHBACK ON


Angin laut terus saja menerpa beserta ombak yang terus menabrak batu karang akibat angin yang mendorongnya. Suasana khas yang akan dialami jika berada di dekat laut. Begitu pula dengan pria yang saat ini mulai membuka matanya.


Netra mata hitam tajam itu sedikit menyipit saat melihat tempat yang sama sekali tidak di kenali nya.


'Sial di mana aku.' Pikirnya tanpa bergerak sedikitpun karena merasakan bagian tengkuknya yang masih terasa cukup sakit itu.


'Akan ku bunuh mereka semua termasuk gadis gila itu.' pikirnya lagi. Hingga matanya mulai tertuju pada sosok gadis yang berada di tepi tebing dengan menutup matanya.


"Gadis gila itu" Gumamnya pelan dengan melihat kearah gadis tersebut yang wajahnya masih tidak dapat dilihat jelas oleh Leon. Karena rambut gadis tersebut yang masih menutup wajah gadis itu.


'dia sepertinya ingin bunuh diri, tapi baguslah aku tidak perlu lagi menguru-" Pikirnya yang terpotong.


"Wushhh.." Angin kali ini berhembus cukup kencang membuat Leon dapat melihat dengan jelas wajah gadis itu di bawah sinar bulan.


"Deg.."


"Deg.."


"Ranti." Gumamnya pelan dengan dadanya yang terasa sangat sesak saat melihat bahwa gadis itu adalah istri kecil yang ia cari beberapa hari ini.


Namun hanya hitungan beberapa detik gadis tersebut telah menjatuhkan dirinya menuju lautan ganas di bawahnya.


Entah mendapat kekuatan dari mana Leon yang awalnya tidak peduli langsung berlari cepat kearah gadis tersebut. Laki-laki tersebut tidak mempedulikan rasa sakit yang masih melanda bagian kepalanya. Hingga akhirnya ia berhasil mendapatkan gadis itu.


FLASHBACK OFF

__ADS_1


__ADS_2