
"Aku akan menemanimu ke kamarmu Ran." Ujar wanita itu dengan lembut. Tapi entah mengapa Ranti yang hanya menepis tangan wanita itu justru membuat seakan-akan telah memukul wanita itu dengan kuat.
"AKH." cicitnya.
"RANTI!!" Leon yang melihat hal itu tiba-tiba berteriak kepadanya.
"APA?" Ranti benar-benar tidak terima jika dirinya harus terus disalahkan.
"Kau merasa aku yang bersalah jika aku yang bersalah maka aku akan melakukan ini."
"BRUAK." Ranti dengan kuat mendorong Amelie hingga terjatuh kelantai.
"Amelie?"
"BRUAK" Leon yang tiba-tiba ingin menolong Amelie tanpa sengaja mendorong Ranti hingga gadis itu terjatuh.
"Ran-ranti aku minta maaf." Ujar pria itu tapi justru ia menolong Amelie terlebih dahulu baru datang dan ingin menolongnya. Melihat hal itu Ranti justru tersenyum sinis ia menghapus secara kasar air matanya lalu menatap tajam kearah pria itu.
...****************...
"Hahaha." Ranti tertawa membuat kedua orang itu keheranan.
"Kamu kenapa Ranti ?" Tanya Leon dengan bingung.
"Hahaha ini benar-benar sangat lucu hingga aku rasanya bingung ingin tertawa atau menangis." Ujar Ranti.
"Apa yang lucu ?" Tanya laki-laki itu dengan menatapnya.
"kau tau yang lucu itu adalah kau,aku dan hubungan kita!" Ranti menatap tajam ke arah Leon senyuman sinis menyinari wajahnya.
"Dan aku lebih menertawakan diriku,...aku yang bodoh terlalu berharap padamu, selalu percaya pada mu, aku juga yang bodoh karena tidak pernah sadar bahwa KAU TIDAK PERNAH MENCINTAIKU LEON!." Ranti memegang dadanya yang terasa sesak. Sangat menyakitkan hingga rasanya ia sangat sulit bernafas.
"Kau tidak apa-apa ?" Tanya Leon yang tampak khawatir.
"Berhenti disana! jangan pernah menyentuhku!!." Ujar wanita itu dengan penuh amarah mungkin ini adalah pertama kalinya wanita itu benar-benar marah jika biasanya ia akan terus mengalah dan mencoba untuk bersabar tapi kali ini dia benar-benar kesal hingga rasanya semua yang ia rasakan sangat sakit.
__ADS_1
Mendengar hal tersebut Leon yang mencoba untuk mendekati gadis itu berhenti. Entahlah sorot mata laki-laki itu terlihat juga sangat sakit tapi kenapa dia diam, kenapa dia melakukan itu.
"Aku akan memanggilkan dokter untukmu !"Panik Leon saat melihat Ranti yang terduduk dilantai dengan memegang dadanya. Nafas gadis itu tidak teratur.
"Hiks huh, huh hiks sa-sakit hiks ." Gadis itu terus mencoba untuk menghirup udara tapi sangat susah.
"AMELIE!! PERGI PANGGIL DOKTER!!." ujar Leon dengan panik.
"Uhh me-menjauh da-dariku hiks uh." Ranti benar-benar tidak ingin disentuh sedikitpun dengan Leon.
Tanpa menghiraukan ucapan dari Ranti Leon dengan sigap menggendong gadis itu dan membawanya keatas kasur.
"Cobalah bernafas perlahan..." Ujarnya dengan terus memegang telapak tangan Ranti yang mulai dingin.
"Huh hiks, hiks, hiks, Ti-tidak bisa...hiks," Ujar Ranti yang sudah tidak tau lagi harus berbuat apa.
"AGH SIAL, KEMANA DOKTER ITU KENAPA.DIA SANGAT LAMA, Tenanglah sayang hiks kumohon coba untuk bernafas perlahan..." Ujar Leon dia benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa, dia hanya bisa terus melihat Ranti yang merasakan kesakitan.
"Leon! ini dia dokter!!." Ujar Amelie. Ranti walaupun sedang sakit tapi dia masih dapat melihat jelas jika wanita itu juga khawatir.
"Ranti! sayang! kumohon!." Ia hanya bisa mendengar suara itu sayup-sayup terdengar di telinganya.
❤️
❤️
❤️
Sedangkan saat ini Martin sudah tidak Melakukan pencarian lagi pada Ranti dikarenakan kabar dari bawahannya jika wanita itu telah di temukan.
"Ada apa dengan bos? ada apa ini?" Ujarnya dengan terus berpikir tentang masalah satu hari ini.
"Amelie ? kenapa dia masih hidup?" Pikir Martin dengan bingung sedangkan pada saat kejadian itu sudah jelas jika ia juga melihat Amelie yang jatuh dari tebing tapi bagaimana bisa wanita itu selamat.
❤️
__ADS_1
❤️
Hari berganti hari tampak sosok gadis yang terbaring lemah dengan alat bantu pernafasan padanya. Ruangan berwarna putih dan bunyi alat menjadi temannya.
"Uhh...Umm" Mata itu perlahan terbuka memperhatikan sekelilingnya mencoba mencari tau dimana dia saat ini.
'Dimana aku? apa rumah sakit lagi ?' Pikirnya saat melihat dinding bangunan dan juga pemandangan yang tidak asing. Bahkan ini sudah keberapa kalinya ia sudah singgah ke tempat ini.
"CKLEK." Pintu terbuka menampilkan sosok perempuan yang tidak asing bagi Ranti.
"Akhirnya, kau sudah sadar Ranti." Ujar gadis itu dengan senyum manisnya.
"Tante, om, Ranti akhirnya sudah sadar," Ujar gadis itu kepada dua orang sosok yang baru saja tiba disana dengan kantong plastik di tangan mereka.
"Benarkah ? syukurlah..." Ujar wanita paruh baya itu.
'Emak? bapak?' Ranti sedikit terkejut dengan adanya kedua orang tuanya dan juga Intan disini.
"Kamu ya Ranti, bukannya ngundang emak ke kota untuk wisuda kamu eh malah buat mamak ke kota gara-gara kamu sakit, udah mamak bilang jangan banyak pikiran, makan teratur lihat sekarang kamu harus di rumah sakit kan." Omel wanita paruh baya itu.
"Sudahlah mak, mungkin Ranti banyak pikiran kan udah mau semester akhir jadi banyak yang mau di pikirin."Ujar pria paruh baya itu menenangkan wanita paruh baya itu.
"Oh ya Ran Rina dengan Atika mereka lagi ada urusan sebentar jadi mereka pergi dulu keluar nah nanti mereka kesini lagi." Ujar Intan.
'Ha,apa yang terjadi? kenapa jadi seperti ini? dimana Leon? ada apa ini sebenarnya...?apa aku hanya mimpi selama ini ? tapi aku yakin itu nyata tidak mungkin mimpi ? apa dia sudah membuang ku?.' Pikir Ranti yang benar-benar bingung.
"Assalamualaikum helloooo ini kami baru datang, iniloh kami berdua beli buah untukmu Ran." Ujar sosok yang baru saja tiba yakni Rina dan juga Atika yang langsung buru-buru kedalam saat menerima pesan singkat dari Intan jika Ranti telah bangun.
"A-aku..." Gadis itu mencoba untuk membuka alat bantu pernafasannya karena dia sangat ingin berbicara sekarang. Banyak sekali hal yang ingin gadis itu ketahui.
"Eh jangan dibuka Ranti, dokter belum mengizinkanmu untuk membuka itu alat. Nanti kalau kamu kenapa-kenapa bagaimana?" Ujar wanita paruh baya itu dengan cemas.
"Iya Ranti kau tidak tau betapa paniknya aku saat tetanggamu menelpon dan katanya ia menemukan mu tidak sadarkan diri di kosan kamu. Hampir aja kamu jadi mayat makanya udah berapa kali aku bilang kalau kamu itu harus ngekos dengan kami aja jadi nggak sendiri dan ada teman kalau kamu sakit. Dari pada gini untung aja tetanggamu baik huhh..." Ujar Intan yang tampak kesal tapi hal itu karena dia khawatir dengan gadis itu.
"Hiks, Hiks, hiks." Tiba-tiba saja Ranti justru menangis.
__ADS_1
'Apa yang sebenarnya terjadi hiks...' Pikirnya.