Gadis Biasa Menikahi Mafia Tampan

Gadis Biasa Menikahi Mafia Tampan
Mari pergi


__ADS_3

"Ranti." Gumamnya pelan dengan dadanya yang terasa sangat sesak saat melihat bahwa gadis itu adalah istri kecil yang ia cari beberapa hari ini.


Namun hanya hitungan beberapa detik gadis tersebut telah menjatuhkan dirinya menuju lautan ganas di bawahnya.


Entah mendapat kekuatan dari mana Leon yang awalnya tidak peduli langsung berlari cepat kearah gadis tersebut. Laki-laki tersebut tidak mempedulikan rasa sakit yang masih melanda bagian kepalanya. Hingga akhirnya ia berhasil mendapatkan gadis itu.


FLASHBACK OFF


...****************...


"Le-leon lepas...a-aku tidak bisa bernafas." Gadis tersebut sedikit terengah-engah saat tangan kekar lelaki tersebut yang memeluknya dengan erat.


"A_aku benar-benar akan mati jika saja dia tidak melepaskannya." Cicitnya yang masih dapat di dengar oleh Leon.


"Kenapa kau bisa ada disini?" Tanyanya dengan tatapan tajam kearah Ranti.


"I-itu ..." Gadis itu sedikit bingung dengan apa yang harus ia sampaikan. Karena temperamen pria di depannya ini seperti sangat buruk.


"WUSH...." Angin kencang kembali tertiup sepertinya akan ada badai di tempat ini pada saat ini.


"Kita pulang dulu ! Tapi nanti kau harus menceritakan semuanya!" Perintahnya yang langsung menggandeng tangan gadis tersebut.


"Akh... Pelan-pelan hiks" Gadis tersebut meneteskan air matanya saat merasakan sakit pada bagian kakinya.


Leon yang mendengar hal tersebut langsung membalik badannya. Dapat ia lihat luka-luka kecil yang ada di tubuh gadis itu. Pria tampan itu menarik pelan dagu gadis tersebut agar menatapnya.


Tangannya yang sempurna itu menyingkirkan rambut ranti yang menghalanginya wajahnya.


Tatapan matanya mendadak tajam saat melihat beberapa luka yang ada di wajah gadis tersebut. Emosinya sungguh sudah diambang batas.


'Aku akan benar-benar membunuh lalu menguliti mereka semua.' pikirnya dengan tatapan tajam yang di arahkan kepada Ranti.


'kenapa dia menatapku dengan seperti itu, apa dia juga ingin membunuhku ?'pikiran negatif mulai menghantui gadis tersebut. Secara reflek ia menjauhkan tubuhnya dari pria tersebut.


Leon yang menyadari hal itu menaikkan satu alisnya tidak mengerti.

__ADS_1


'Ada apa lagi dengannya.?' Pikir pria itu


"Kau kenapa menjauh ?" tanya pria itu yang tampak bingung.


"Badanku kotor. Jadi aku tidak akan mendekatimu." Ucap gadis tersebut dengan sedikit berteriak.


Leon yang tidak mengerti kembali menaikkan sebelah alisnya.


"Apa maksudnya?"


"Aku tau kau penggila kebersihan kan ? jadi kau tidak suka dengan sesuatu yang terlihat tidak higenis. Dan saat ini aku sedang dalam keadaan seperti gembel. Jadi,Lebih baik kita jaga jarak saja ya ..." Tawarnya. Ranti benar-benar sangat tau jika laki-laki di depannya ini pencinta kebersihan. Ia bisa sangat emosi jika terkena debu sedikit saja.


"Sudah bicaranya ?" tanyanya dengan tangan yang ia masukkan ke saku celananya itu.


Gadis tersebut mengangguk cepat mengiyakan pertanyaan dari pria itu.


'Seperti tupai' pikir pria tersebut yang tanpa disadari oleh Ranti ada sedikit senyuman disana.


"Akh.." Gadis itu menjerit kaget saat sebuah tangan besar menggendongnya. Dengan cepat gadis tersebut memeluk erat leher Leon karena keterkejutannya.


"Berisik" Gumam lelaki itu namun dengan senyuman di wajahnya.


'Jadi mereka menggunakan mobilku ?' pikirnya dengan tatapan membunuh. Leon benar-benar sangat membenci orang-orang yang telah melakukan hal tersebut padanya dan juga Ranti.


Jujur saja jika tidak sedang bersama Ranti pada saat ini. Sudah jelas laki-laki dingin tersebut telah membunuh orang yang saat ini sedang mengintainya di balik pohon yang tak jauh dari Leon.


"Sial, rencana ku gagal total, kenapa bisa laki-laki itu begitu cepat sadarnya. Kenapa perhitunganku bisa salah begini ?" Gumamnya pelan dari balik pohon besar yang tak jauh dari Leon berada saat ini.


Iwan memantau Leon yang saat ini sedang menggendong gadis gadis yang dianggap gila oleh laki-laki tersebut.


Hingga mata tajam Leon yang menatap kearahnya dengan tatapan membunuh. Iwan yang kaget pun kembali menyembunyikan dirinya dibalik pohon besar tersebut.


"Tatapan pria itu bukan tatapan orang biasa. Bahkan itu tatapan yang dikeluarkan oleh orang-orang yang terbiasa membunuh seperti bos dulu." Ucapnya dengan memikirkan bosnya dulu pada saat ia masih menjadi mafia.


"Tidak dia pasti hanya pengusaha biasa." gumamnya untuk meyakinkan dirinya yang saat ini telah berkeringat dingin itu.

__ADS_1


"Apa yang kau lihat ?" tanya Ranti yang juga ikut menatap kearah pohon besar tersebut. Mendadak tengkuknya menjadi dingin.


'Jangan-jangan ada penunggu lagi disini.'Pikirnya asal lalu menenggelamkan wajahnya tepat di dada laki-laki itu.


"Ada apa denganmu ?"


"A-ayo ki-kita pulang, tempat ini angker kayaknya." Ucapnya dengan wajah yang masih ia sembunyikan di dada bidang pria tersebut. Bukan hanya itu, gadis itu juga terus menggerakkan kepalanya mencari kehangatan disana.


"Sialan!" Gumam pria itu dengan pelan. Namun hal tersebut masih dapat di dengar oleh gadis yang masih menggerakkan kepalanya mencari kehangatan itu.


'Akh...gadis gila, apa kau tidak bisa berpikir aku bisa menyerangnya disini.' Pikir pria itu sambil menahan sesuatu dari dalam dirinya.


"Berhenti melakukan itu ! dan diam lah !jangan bergerak atau aku akan menyerang mu!" Ancamnya kepada Ranti yang langsung menghentikan aktivitasnya.


"Baiklah, maaf... tapi jangan menyerang ku ya..." Ranti bergumam pelan dengan memajukan bibirnya.


Melihat hal tersebut Leon dengan cepat menutup matanya.Setelahnya, pria itu dengan cepat memasukkan Ranti ke dalam mobilnya. Lalu pria itu menutup pintu dengan sedikit kuat.


"Kaget aku ... kenapa dia?" Tanya Ranti di dalam mobil. Sedangkan Leon malah masih diluar mobil dengan kembali menutup matanya.


"Apa dia sakit?" Tanya wanita tersebut pada dirinya sendiri yang tentunya tidak dapat menemukan jawabannya.


Sedangkan di luar mobil Leon sedang menahan sesuatu yang berdiri namun bukan keadilan itu. Sedangkan Ranti hanya dapat melihat punggung dari pria itu.Hingga akhirnya matanya terpejam rapat karena rasa kantuknya yang tidak tertahan.Tak lama pria itu menghembuskan nafas kasarnya saat merasa bahwa ia telah dapat menahan hasratnya itu.


"Aku tidak akan pernah melakukannya pada gadis konyol itu." Matanya kembali datar seperti biasa.


Setelah menenangkan diri, akhirnya pria tersebut memasukkan tubuhnya ke dalam mobil yang terdapat Ranti di dalamnya.


Sejenak di tatapnya wajah sendu dari gadis yang berada di sampingnya itu. Gadis tersebut saat ini sudah tertidur dengan lelap.


Leon yang melihat gadis tersebut tertidur tanpa sadar menatap dengan intens pada gadis yang telah menjadi istrinya itu.


Tangannya menyentuh pelan wajah gadis itu. Mulai alisnya, hidungnya, pipinya, dan akhirnya perhatiannya teralih terhadap bibir mungil dari gadis tersebut.


"Bagaimana rasanya" Gumamnya pelan dengan jarinya yang masih berada di atas bibir Ranti..

__ADS_1


Wajahnya perlahan mendekat ke arah gadis tersebut. Entah mengapa Leon sangat ingin merasakannya.


"Cup" Kecupan singkat ia berikan ke kening gadis itu. Untung saja saat ini dirinya masih memiliki sedikit kesadaran. Itulah yang dipikirkan Leon.


__ADS_2