
Ranti yang melihat pria itu merasa kasihan melihat bagaimana keadaan suaminya itu.
"Baik aku akan membiarkan mu untuk bicara dan menjelaskannya tapi aku sedang tidak ingin berbicara denganmu sekarang aku ingin menenangkan diriku sendiri. Dan juga aku tidak mau melihatmu hingga besok." Jawab Ranti lalu pergi meninggalkan pria itu.
"Sial bagaimana ini aku tidak akan kehilangannya kan? Ranti harus terus bersamaku. Dia tidak boleh meninggalkan ku. Tidak boleh!." Ucap Leon saat melihat Ranti yang sudah keluar dari kamar mereka.
...****************...
Ranti berjalan dengan cepat menuju taman yang selalu menjadi tempat ternyamannya saat pikiran gadis itu tengah kalut seperti saat ini.
"Huh tenanglah Ranti, kau tidak boleh terlalu emosional." Ujarnya pada dirinya sendiri.
Sedangkan di tempat lain Alexia dan Martin tengah dalam perjalanan pulang untuk mengobati luka mereka dan juga untuk melaporkan apa yang terjadi pada Leon.
"Kupikir kau mati tadi?." Ucap Alexia yang terlihat hanya sedikit peduli itu.
"Tidak akan mudah untukku mati Xia." Jawab Martin dengan tingkah konyolnya yang sangat berbeda jauh dengan ekspresinya pada saat menghabisi orang-orang itu.
"Berhentilah bermain-main Martin, kau hanya punya satu nyawa ingat itu!." Alexia tampak kesal kepada gadis itu.
"Siapa yang bilang jika nyawaku 3? tidak ada bukan?." Sanggahnya.
__ADS_1
"Sudah berapa lama penyakit gilamu itu semakin parah?." Tanya Alexia yang tampak kesal itu.
"Itu bukan urusanmu." Kali ini Martin tampak dingin kembali.
Alexia melirik kearah pria yang berada disampingnya itu namun sesekali ia masih melihat jalanan yang didepan. Tidak ada yang terucap lagi dari wanita itu lalu dengan sengaja ia mulai melajukan mobil tersebut dengan kecepatan yang sangat tinggi.
"Kau tidak takut?" Tanya gadis itu.
"Ini terlalu lambat." Ujar Martin dengan ekspresi tidak pedulinya.
"Ciiittt." Suara ban mobil yang direm secara mendadak oleh Alexia.
"Brukk."
"Wah xia kau benar-benar gila apa kau ingin membunuh perjaka sepertiku." Ucapnya dengan ekspresi konyolnya itu.
"Kau kembali rupanya."Ucap Alexia dengan senyuman tipisnya.
"Kembali bagaimana ? apa maksudmu? aku kan disini terus bersamamu." Jawabnya dengan ekspresi konyol yang sangat identik dengan pria itu.
"Diamlah atau kutinggal kau disini." Ancam gadis itu.
__ADS_1
"Iya iya..." Jawab Martin dengan paksa.
kembali pada Leon yang saat ini terus merengek kepada ranti . Laki-laki yang merupakan mafia terkenal itu sedang memohon seperti anak kecil kepada sang istri.
"Sayaaaaaaaang sudah dong marahnyaaaa.Ujarnya dengan terus menggoyangkan badan Ranti.
"Sayaaaaaaaang aku benar-benar minta maaf ya sayang. Aku akan kasih tau kamu semuanya please maafin aku ya." Pintanya kembali.
Namun Ranti sama sekali tidak merespon pria itu. Wanita itu benar-benar menganggap bahwa Leon hanyalah angin lalu walaupun sebenarnya dia sedang menahan tawa saat ini.
"Apaan sih pergi sana." Ketusnya.
"Sayaaang..."Rengeknya yang sudah menangis itu.
Ranti tidak menggubris sedikitpun dia terus tidak peduli dengan apa yang dilakukan oleh suami tampannya itu. Lagipula wajah laki-laki tampan sedang menangis cukup baik untuk dinikmati.
"Sayang hiks maafin aku ya jangan kayak gini, aku benar-benar menyesal bagaimana jika kita baikan." Bujuknya lagi.
"Huhh" Ranti menghela nafas panjang sebelum akhirnya mengatakan sesuatu pada pria itu.
"Aku akan memaafkanmu tapi dengan syarat kamu harus mau mengabulkan semua keinginanku bagaimana?." Tawar gadis itu.
__ADS_1
"yes, I will do anything as long as you want to forgive me even if I die willingly." ucap pria itu dengan semangat.
"Jangan pakai bahasa Inggris Bambang, aku nggak tau artinya." Ujar Ranti dengan kesal.