
"Akhh..."
"BRAKK.."
"BRAKK.."
Leon melempar semua benda-benda yang ada di meja makan itu. Lalu tak lama ia mulai menutup matanya dengan tangan kirinya sedangkan tangan kanannya telah berlumuran darah.
"Sial, ini alasanku tidak ingin kau berada disampingku, tapi kenapa kau sangat keras kepala." Gumamnya dengan sanagt pelan.
Air mata tampak mengalir dari matanya yang saat ini tengah ditutupi nya dengan tangan itu.
...****************...
"Cepat cari diseluruh penjuru pulau ini!! Bahkan ke lobang semut sekalipun !!" Perintah Martin dengan tegas kepada anak buahnya.
"Baik." Jawab mereka serentak dan mulai pergi mencari Ranti yang hilang entah kemana itu.
Setelah mengatakan hal tersebut Martin lalu mengusap wajahnya dengan kasar. Sungguh banyak sekali hal yang terjadi akhir-akhir ini.
"Kenapa permasalahan ini semakin bertambah." Ujarnya.
"MARTIN!!" Teriak Leon yang saat ini telah berada di belakang pria itu.
"I-iya bos." Jawabnya dengan ragu.
__ADS_1
"KENAPA KAU MASIH BERADA DISINI!!" geramnya.
"I-itu bos saya tadi.."
"TADI APA !" Potong Leon yang sudah dipenuhi oleh amarah itu.
"I-iya bos saya mau pergi sekarang." Ucanya lalu melarikan diri begitu saja.
'Ya Tuhan kenapa nasibku begini.' Pikir pria itu dengan berlari menjauhi pria itu. Tentu saja ia tidak ingin mendapatkan bogem dari pria itu.
Leon menatap Martin dengan tatapan kesal dan marah yang sudah tidak dapat ditahannya.
"Dimana kau berada Ranti..." Gumamnya dengan menatap langit senja itu.
"Ini..." Gumamnya.
Dengan cepat pria itu mengambil mobil yang terparkir disana lalu melakukannya dengan kekuatan penuh menuju ke arah dimana asal helikopter itu berada.
"Mereka!!" Geramnya.
Di tempat lain seperti perintah, Alexia pergi untuk menangkap orang yang sudah diperintahkan oleh Leon tersebut.
"Keluar kau! aku tau kau ada disini." Ujar gadis itu dengan santainya.
Tidak ada jawaban apapun yang ia terima, hanya ada keheningan seperti tidak ada orang disana.
__ADS_1
"Aku akan benar-benar membunuhmu dengan kejam jika kau masih terus bersembunyi." Ancam gadis itu.
"Ais sial!" Umpatnya kala mendapati bahwa tidak ada sama sekali orang disana.
Dengan perlahan gadis itu berjalan menyusuri pohon-pohon yang tampak besar itu.
'Tidak mungkin bos salah dalam memberikan informasi padaku.'Pikirnya karena ia tau betul bagaimana kehebatan dari Leon.
Seorang pria dengan topi hitam yang menutupi wajahnya tampak keluar dari tempat persembunyiannya ia tepat berada dibelakang Alexia tanpa gadis itu sadari. Perlahan pria itu mulai mengamankan posisinya dan mengambil sebuah pistol dari kantong jaketnya. Tangannya ia naikkan tepat mengarah ke kepala Alexia. Senyuman tipis tampak walaupun pria itu menggunakan topi untuk menutupi wajahnya.
Karena insting yang kuat dengan cepat gadis itu membalik badannya dan langsung disuguhi dengan pistol yang tepat mengarah kepadanya.
"Permainan kita akan selesai." Gumam pria itu dengan sombongnya.
Di tempat lain saat ini Martin dan anak buah yang lainnya tengah mengejar sosok pria yang di yakini telah menculik Ranti itu.
"Cepat kejar dia!" Pinta pria itu.
"Door" Martin menembakkan peluru tepat mengenai betis pria itu membuatnya jatuh tersungkur dengan karung yang tampak berisi Manusia terjatuh begitu saja.
"Cepat selamatkan nyonya!" Perintah Martin.
Mereka dengan cepat membuka ikatan karung tersebut namun dengan cepat mereka membulatkan matanya karena terkejut.
"Sial kita ditipu!" Umpat pria itu saat melihat bukan Ranti yang berada di dalam situ melainkan hanya seorang pelayan biasa.
__ADS_1