Gadis Biasa Menikahi Mafia Tampan

Gadis Biasa Menikahi Mafia Tampan
Perjuangan


__ADS_3

"BUGH"


"Leon!!"


"Bos !".


Teriak mereka saat Dion yang justru menendang pria tersebut hingga tersungkur sedangkan Leon hanya menerima tanpa melawan sedikitpun.


"Ti-tidak hiks a-aku mohon ber-berhenti,....hiks kumohon." Ujar Ranti.


"BUGH"


"BUGH"


"BUGH"


Dion bukan berhenti tapi justru terus memukuli Leon dengan membabi buta. sedangkan saat ini pria itu sudah babak belur dengan luka di wajahnya yang terlihat jelas.


"Hahaha aku sangat senang.".


...****************...


Leon sudah tampak lemas dengan segala pukulan yang ia terima. Rasanya seluruh tubuhnya benar-benar sakit akibat pukulan tersebut.


"Uhuk" Leon memuntahkan darah segar begitu saja membuat Ranti benar-benar panik.


'Aku harus melakukan sesuatu jika tidak Leon akan mati.c Pikirnya.


Gadis itu melihat kearah pria besar yang saat ini memegang kuat tangannya. Tapi satu hal yang pasti pria itu sama sekali tidak memegang senjata apapun.


'Aku harus bisa.'


Ranti kembali melihat kearah Leon yang tampak tak berdaya karena dirinya.


"BUGH" Ranti menendang bagian vital milik laki-laki itu hingga ia meringis kesakitan.


Semua orang tampak kaget dengan apa yang dilakukan oleh Ranti.


"AGHK." teriak laki-laki itu yang refleks melepaskan Ranti sedangkan gadis itu sudah melarikan diri. Melihat hal tersebut Martin dengan Amelia segera menyerang. Hingga terjadilah baku tembak diantara mereka.


"DOOR"


"DOOR"


"DOOR"


"Sialan!!" Umpat Dion dengan kesal.


"Akan kuhabisi kau disini." Ujarnya mengarahkan pistol kearah Leon yang sudah tidak berdaya. Leon benar-benar tidak punya tenaga untuk berdiri saja ia sudah tidak memiliki tenaga.


"Tidak!!" Ranti dengan cepat berlari lalu memeluk erat pria tersebut.


"Minggir Ranti!! cepat lari! kumohon." Pinta Leon mencoba mendorong tubuh gadis itu untuk menjauh darinya.


"Tidak, hiks aku akan selalu bersamamu Leon hiks. Aku akan melindungi mu selamanya." Ujarnya sebelum berdiri lalu merentangkan telapak tangannya tepat menghadap Dion.


"Hahaha aku suka dengan drama ini." Ujarnya dengan senang.


"Ti-tidak Ranti, ku-kumohon !! Ranti!!" Ujar Leon yang terus berusaha untuk berdiri namun ia terus terjatuh.

__ADS_1


Sedangkan di tempat lain Alexia tampak berhadapan dengan Reno sedangkan Martin yang masih berhadapan dengan Alexia sedangkan pria tadi sudah lama di kalahkan oleh Martin. Sedangkan Intan sudah melarikan diri sejak tadi.


"Kau penghianat MENJIJIKAN Alexia!! aku menyesal pernah menjadi rekanmu." Ujar martin


"Terserah padamu aku tidak perduli." Jawab gadis itu.


"Door." Alexia menembak kearah Martin dan itu berhasil mengenai dada pria itu hingga darah mengalir dari sana.


"AKH"


"Hahaha kau bukan lawan ku Martin, dengan sifat konyolmu itu aku jauh lebih unggul darimu." Ujarnya dengan nada sombong.


"Padahal bos sangat baik padamu, Tapi kau justru mengkhianatinya. Jika aku tau kau akan mengkhianati kami maka aku lebih baik membunuhmu pada saat itu dari pada menyelamatkan mu. Biarkan saja kau di jual ke rumah bordil. "Ujar Martin dengan sangat marah.


"Baguslah jika kau menyesal, aku juga muak dengan kalian. Aku tidak bisa hanya terus jadi anak buahnya. Aku ingin memiliki kekuasaan yang besar hingga semua orang takut padaku. Tapi dengan Leon aku hanya terus menjadi anak buahnya saja." Jelasnya. Lalu berjalan mendekat kearah Martin yang mulai pucat dan lemas akibat luka di dadanya.


"Aku akan membuat kematian mu terasa cepat Martin oleh karena itu nikmatilah." Gadis itu sudah memegang pistol untuk menembak kepala Martin tapi bukan takut justru laki-laki itu tersenyum.


"Kau yang akan mati bukan aku." Jawabnya dengan nada mengancam yang tampak berbeda jauh dengan sikap Martin .


"Kau ?" Tanya Alexia yang cukup terkejut.


"BUGH"


"JLEB." Pisau menancap tepat di jantung gadis itu.


"Kau layak mati," Ujarnya dengan nada dingin.


Alexia memuntahkan darah segar dari mulutnya lalu tersenyum putus asa menatap pria itu.


"Aku membencimu." Ujarnya dengan tatapan menghina.


"DOOR"


"DOOR"


"DOOR"


Martin menembak kearah kepala gadis itu hingga beberapa kali. Dan akhirnya begitulah akhir Alexia di tangan Martin. Siapa sangka persahabatan mereka akan berakhir seperti ini.


"Brugh" Martin langsung jatuh pingsan begitu saja.


sedangkan Amelie sedang melawan Reno. Baku tembak terdengar jelas tampak kekuatan mereka dan keahlian juga hampir sama sehingga sangat sulit untuk menentukan pemenang.


"Kau lumayan juga." Ujar Reno.


"Terimakasih atas pujiannya." Jawabnya.


"DOOR"


"DOOR"


"DOOR"


peluru sama-sama mengenai mereka dengan Amelie yang terkena di bagian perutnya sedangkan Reno pada bagian bahunya.


"Ugh" Rintihan Amelie saat itu ketika peluru mengenai perutnya.


"Hahaha sepertinya pemenang susah dapat kita ketahui sekarang." Ujar pria itu.

__ADS_1


"Sialan!!" Umpatnya.


"Ini tembakkan terakhir dan setelah itu kau akan mati.x Ujarnya.


"DOOR." Peluru mengarah ke Amelie. Perempuan itu menatap tajam kearah peluru tersebut.


'Kau bisa Amelie.'


Amelia dengan cepat menghindar dengan cara kebelakang lalu dengan cepat kembali berdiri dan


"DOOR"


Satu timah panas langsung bersarang ke dahi Reno. Pria itu tidak siap untuk menghindar sehingga peluru itu tepat membuat nyawanya melayang.


"Syukurlah." Ujarnya dengan lega lalu segera memegang perutnya yang tampak mengeluarkan banyak darah. Matanya menelusuri ruangan yang sudah kacau itu. Ia melihat bagaimana Alexia yang sudah terkapar dilantai dan juga Martin juga dalam keadaan yang sama.


"Uhuk."


Gadis itu lalu terduduk di lantai dengan darah yang terus keluar.


Tapi sebelum itu ia menendang kearah Leon dan juga Ranti yang masih dalam keadaan bahaya.


"Aku ti-tidak boleh tidur dulu me..." Belum sempat gadis itu melanjutkan ucapannya tapi ia lebih dahulu tidak sadarkan diri.


Sedangkan keadaan Ranti dan juga Leon sudah dalam kondisi yang sangat mendesak.


"Pergi Ranti !!pergi !!" Pinta Leon dengan putus asa.


"Aku akan biarkan kalian mengobrol sebentar sebelum aku menghabisi kalian." Ujar Dion dengan senang.


"Aku benar-benar akan membunuhmu Dion, aku akan benar-benar membunuhmu jika kau berani melukainya!!!"


"Oh benarkah?"


"Kalau begitu bagaimana dengan ini."


"DOOR"


"AKH" jerit Ranti saat peluru mengenai bahunya.


"RANTI!!" Air mata ikut turun bersama dengan teriakan itu.


"A-aku tidak apa-apa Leon tenang saja." Ujarnya dengan melihat kebelakang di mana Leon berada.


Pria itu yang masih dalam keadaan tengkurap terus mencoba berdiri tapi tidak bisa.


"Hiks, hiks, dasar bodoh tidak berguna." Ucapnya menyalahkan diri sendiri.


"Leon...jangan sedih.Aku tidak apa-apa." Ujar Ranti.


"DOOR"


"Akh" Ranti kembali meringis saat kakinya harus menjadi sasaran tembak bagi Dion. Tentunya hal itu membuat dirinya jatuh terduduk.


"Ran-Ranti...hiks" Ujar Leon yang sudah tidak sanggup melihat kearah gadis itu.


Tapi Ranti dengan sekuat tenaga menyeret tubuhnya hingga darah yang mengalir di kakinya mengotori lantai yang ia lewati.


Gadis itu menyentuh dan mengelus rambut hitam milik pria tersebut dengan tangannya yang berlumuran darah.

__ADS_1


Leon yang merasa ada yang mengelus rambutnya segera menatap kearah sumbernya. Dapat ia jelas wajah pucat gadis itu yang terus tersenyum padanya. Mata hitam milik gadis itu yang menatap cinta padanya.


__ADS_2