
"Baiklah bagaimana jika kukatakan aku mencintaimu lebih besar dari pada rasa kecewaku jadi ya...aku akan bersamamu lagi pula saat dulu kau menyuruhku pergi aku kan sudah bilang jika aku akan selalu bersamamu kau pikir aku ini orangnya akan mudahnya marah tidak jelas lalu meninggalkanmu, ayolah suamiku tersayang aku ini Ranti istri dari tuan Leon walau kau ke tempat tergelap di dunia ini aku selalu bersamamu dan menjadi lampumu. Walau kau mafia, pencuri, penjahat besar atau apapun itu aku akan selalu berada di sampingmu dan akan berusaha membawaku ke luar dari jalan itu bukan kabur begitu saja meninggalkan mu dalam kegelapan. Ingat satu hal ini saja seumur hidupmu bahwa aku akan di sampingmu sampai kapanpun dan aku akan pergi darimu jika kau yang sudah tidak bahagia bersamaku maka dengan berat hati aku akan pergi mening..." Belum sempat Ranti menyelesaikan ceramah nya tapi pria itu sudah lebih dulu me*umat bibir mungilnya.
"Hmmp." Ranti yang kehabisan nafas mulai mendorong pria tersebut agar menjauh darinya.
"Aku tidak akan memintamu pergi sampai kapanpun." Ujar Leon sebelum kembali mencium Ranti.
'Terimakasih Tuhan kau telah mengirimkannya untukku' Batin Leon.
...****************...
Leon dan Ranti saat ini telah tiba di rumah Leon dengan di sambut oleh para pelayan dan juga Martin.
"Martin setelah ini temui aku di ruangan ku." Ujarnya.
"Baik bos." Jawabnya.
"Aku pergi dulu ke ruangan ku, kamu langsung saja ke kamar untuk beristirahat dan jangan melakukan apapun kecuali tidur dan beristirahat oke." Ujar Leon dengan mengelus pucuk kepala Ranti.
"Ayolah Leon aku ingin berkeliling sebentar, aku ingin melihat taman bungaku. Lagi pula ini masih sore mana ada orang tidur jam segini." Bujuknya.
Leon tersenyum mendengar keluhan dari Ranti yang menurutnya lucu.
"Baiklah kau kuizinkan untuk berkeliling di taman bungamu tapi setelah itu kau harus istirahat dan jangan coba-coba untuk mengeluh dan ya satu lagi aku akan datang menemui sesegera mungkin setelah urusan ku selesai." Ujarnya.
"Iya iyaaaa Tuan Leon." Ujar Ranti lalu berlari kecil untuk menuju ke taman bunganya.
"Jangan lari-lari sayang !!." Leon yang sedikit berteriak karena melihat Ranti yang berlari itu.
Wanita itu tidak menjawab ia hanya langsung berjalan santai dan menunjukkan senyum lebarnya serta jari jempolnya.
Melihat hal tersebut Leon memegang keningnya merasa pusing melihat tingkah istrinya yang tidak memperdulikan kesehatannya.
"Dia benar-benar selalu membuatku khawatir." Gumam nya pelan. Sedangkan Martin yang sedari tadi berada disana hanya bisa tersenyum bahagia melihat bosnya yang sudah berbeda dari dulu. Ya sifatnya masih sama tapi setidaknya dia miliki hal-hal yang membuat hidupnya tidak lagi suram apalagi sifat tuannya itu akan berbeda 180 derajat jika itu berhubungan dengan istrinya itu.
__ADS_1
"Kenapa senyum ha Martin?" Tanyanya dengan dingin saat Ranti yang sudah tidak terlihat lagi.
"Tidak bos saya hanya merasa bahwa semenjak menikah dengan nyonya anda selalu terlihat bahagia." Ujarnya.
"Benarkah ?" Tanyanya
"Ya bos Anda terlihat sangat bahagia." Jawabnya dengan pelan.
Tidak ada lagi perbincangan mengenai hal tersebut Leon hanya terus berjalan menuju kearah ruangannya yang tanpa Martin ketahui bahwa bosnya itu telah tersenyum sepanjang jalan.
Sesampainya di dalam ruangan Leon langsung mendudukkan dirinya di kursi kebesarannya.
"Martin, Bagaimana ? apakah ada yang mencurahkan di mansion semenjak aku yang tidak kembali untuk beberapa hari yang lalu?Tanyanya.
"Semua tampak berjalan seperti biasanya bos bahkan tidak ada yang berubah." Ujar Martin.
"Begitukah ? bagaimana dengan anak itu ?" Tanyanya lagi.
"anak itu hanya bermain seperti biasa bersama pelayan dan terus mencari keberadaan nyonya." Jawabnya.
"Apakah nyonya juga mesti saya selidiki juga bos?" Tanyanya.
"Lakukan jika ingin nyawamu ku ambil saat ini juga." Ancamnya.
"Tadi katanya semua orang tanpa terkecuali gimana sih kok jadi laki-laki plin plan." Gumamnya yang masih dapat di dengar jelas oleh Leon.
"Apa kau bilang?" Tanya Leon dengan kesal.
"Tidak tuan saya tidak mengatakan apapun." Jawabnya.
"Jadi kau ingin mengatakan kalau aku tuli gitu?" Ujarnya.
"Ti-tidak tuan bukan begitu." Jawab Martin dengan gugup.
__ADS_1
"Sudahlah keluar dari ruanganku sekarang aku muak melihatmu." Leon menatap tajam kearah anak buahnya itu yang saat ini hanya dapat menerima nasibnya memilki tuan seperti Leon.
Sesudah Martin keluar dari ruangan tersebut Leon segera menyandarkan tubuhnya. Ia tampak memejamkan matanya.
"Hmm sepertinya aku memang sudah bahagia." Gumamnya.
Setelah itu ia tersenyum tipis mengingat bagaimana tingkah istrinya selama ini. Dengan cepat tangan kanannya memegang dadanya yang berdetak lebih kencang dari biasanya tapi dia menyukai perasaan itu.
"Sial aku merindukannya." Gumamnya.
Bagi Leon Ranti benar-benar sesuatu yang sangat berharga wanita itu berhasil membuat Leon jatuh cinta berkali-kali padanya Sedangkan Ranti saat ini tengah mengelilingi taman dengan di temani Nia yang selalu mengikutinya.
"Nyonya jangan duduk di rumput nanti baju anda bisa kotor dan tuan pasti akan mengamuk" Ujarnya yang panik melihat Ranti yang tiba-tiba saja duduk di sela-sela bunga itu.
"Ayolah dia tidak akan marah jika dia marah maka aku juga akan marah padanya hehehe." Ujar Ranti yang tampak bercanda. Sebenarnya jika boleh jujur di dalam lubuk hati Ranti tentunya dia juga sangat takut dengan Leon tapi dia percaya bahwa laki-laki itu mencintainya sehingga tidak mungkin melukainya walaupun Ranti sendiri tidak tau bagaimana besarnya rasa cinta Leon untuknya.
"Ya sudahlah Nia bisa tolong bantu aku memetik bunga-bunga ini aku mau membuat mahkota bunga bagaimana?"Tanyanya.
"Biar saya aja yang buat nyonya." Ujar Nia.
Ranti menggeleng kan kepalanya" Aku akan mengerjakan ini sendiri Nia kau buatlah juga untuk dirimu sendiri Nia." Ujarnya.
"Saya tidak berani nyonya." Jawab Nia dengan menunduk patuh bagaimana bisa dia berani menggunakan bunga kesayangan nyonyanya ini hanya untuk keperluan pribadinya saja bisa-bisa ketika ia membuat mahkota itu kepalanya akan di penggal dengan Tuannya yakni Leon.
"Buatlah, aku tidak mau hanya sibuk sendiri." Ajak Ranti yang sudah menggeser tempat duduknya agar Nia dapat duduk disampingnya.
"Sa-saya tidak berani nyonya."Jawabnya dengan gugup.
"Huh ini perintah jika kau melawan maka akan kuhukum kau." Ancam Ranti karena dia tidak memiliki cara lagi untuk membujuk gadis itu.
"Baik nyonya saya akan duduk maafkan saya."Ujarnya.
Setelah itu mereka akhirnya mulai membuat mahkota bunga lalu setelah selesai Ranti meletakkan mahkota bunga itu di atas kepalanya.
__ADS_1
"Anda benar-benar cantik nyonya."Pujinya.