Gadis Biasa Menikahi Mafia Tampan

Gadis Biasa Menikahi Mafia Tampan
Hamil


__ADS_3

Ranti meminum air itu dengan perlahan hingga ia rasa cukup melegakan dahaganya.


"Neng tadi mesan bakwan jagungnya ya ?" Tanya penjual tersebut.


"Iya bang."


"Berapa neng."


"Ini bang." Ranti menunjukkan 3 jarinya membuat penjual itu mengangguk paham.


"Tiga biji neng."


"hahaha enggak bang maksud saya tiga puluh." jawab Ranti disertai gelengan kepalanya.


"Kau serius makan sebanyak itu ?"Tanya Rain.


"Iyalah biar puas."


...****************...


"Makanlah dengan pelan-pelan." Pinta Rain saat melihat bagaimana Ranti memakan bakwan jagung yang baru saja tiba itu. Awalnya mereka hanya berencana untuk membeli lalu memakannya di rumah tapi tiba-tiba saja gadis itu berubah dia ingin langsung memakannya di tempat tersebut.


"Kau mawu inhi enak loh." Tawarnya dengan mulut penuh.


"Tidak kamu saja yang makan." Tolak Rain.


"Kau ?" Tanya Ranti kepada Leon yang masih dalam mode menyamar.


"Tidak kau saja yang makan." Jawabnya.


"Oh ya udah."Lanjutnya kembali memakan bakwan jagung tersebut.


"Emm kau sedang menunggu apa ya?" Tanya Rain pada Leon sebab pria itu sama sekali tidak pergi tapi justru memperhatikan Ranti sejak tadi.


"Aku hanya ingin bersantai saja, bosan jika di rumah terus." Jawab Leon.


"Iya di rumah terus tu bosan." Sambung Ranti yang saat ini bibirnya sudah penuh dengan minyak itu.


"Lihatlah dirimu Ran, kalau makan kok suka berantakan hehehe" Rain segera mengambil tissue dari kantongnya lalu mengelap bibir gadis itu.


'SIALAN!!' umpat Leon, pria itu benar-benar menahan emosinya. Saat ini hatinya sedang terbakar dan ingin sekali untuk memotong tangan Rain.


"Eh terima kasih." Ucap Ranti walaupun dia cukup terkejut tapi kan niat Rain baik padanya. Sedangkan Leon semakin panas melihat bagaimana istrinya itu justru berterima kasih dengan pemuda kurang ajar tersebut.


"Sama-sama." Ucap Rain tapi tidak sampai disitu karena gemas laki-laki itu justru mengacak-acak rambut Ranti.


"BUGH."Tinju Leon tepat mendarat pada wajah Rain.


"Akh kau kenapa sih!!!" Rain mulai tersulut emosi.


"Kau tidak apa-apa Rain ?Tanya Ranti yang cukup terkejut dengan tindakan Leon barusan.


"Tadi ada nyamuk dipipimu." Jawab Leon dengan santai.

__ADS_1


"Apa-apaan itu kau kan tidak perlu memukulku dengan kuat." Ujar Rain tidak terima.


"Aku hanya refleks." Jawab Leon lagi.


'Masih untung aku memukulmu jika tidak ada Ranti maka aku akan menghabisimu.' Pikir Leon.


'Apa-apaan sih ni orang buat emosi aja, untung masih ada Ranti.' Batin Rain.


"Sudah sudah jangan ribut oke, aku masih mau makan." Ujar Ranti. Ayolah saat ini ia sedang menikmati makanannya jadi di mohon untuk tidak mengganggunya.


Tak lama kemudian gadis itu telah siap dengan makanannya dan mood Ranti seakan-akan menjadi sangat baik.


"Aku sudah kenyang ayo pulang Rain." Ajak Ranti karena jujur sekarang dia sangat mengantuk.


"Baiklah,hmm tidak mau jalan lagi ?" Tanya Rain.


"Tidak aku mengantuk Hoam." Jawab gadis itu. Jujur saja saat ini matanya sudah tidak tahan lagi.


"Yasudah ayo kita pulang." Rain menggandeng tangan Ranti lalu berjalan pergi meninggalkan Leon yang hanya bisa menahan rasa cemburunya.


"Ingat jangan tidur di jalan nanti kamu jatuh loh."


"Iya." Ranti dengan kuat memegang kemeja Rain.


Leon benar-benar merasa sangat buruk dengan apa yang ia lihat.


"SIALAN !! jika ini berlangsung lebih lama aku benar-benar akan gila." Gumam Leon.


"Terima kasih tuan."Ucapnya dengan senang saat Leon memberikan sejumlah uang padanya. Karena sejujurnya dia tidak menjual apa yang Ranti inginkan tapi Leon menjanjikan sejumlah uang padanya agar dia juga menjual apa yang Ranti inginkan.


Beberapa saat pria itu telah tiba di mansion miliknya dengan wajah datarnya tanpa senyuman sedikitpun.


"Selamat datang tuan."Sapa para pelayan.


"Panggil Amelie ke ruangan ku." Pintanya.


Pelayan tersebut hanya mengangguk patuh walaupun jujur ia tidak suka jika tuannya itu lebih dengan nona Amelie.


Sesampainya di ruangan tersebut tampak pria itu menatap dengan tajam seperti ada sesuatu yang sangat mengganjal hatinya.


"Pria sialan itu."


"Klek." Pintu terbuka menampilkan sosok Amelie disana.


"Kenapa ?" Tanya gadis itu.


"Sudah tau siapa orangnya?" tanyanya.


"belum ada sisi terang." Jawabnya.


"Kapan ?" Tanyanya.


"Ayolah Leon kau kenapa sih, dia sangat pintar hingga sangat sulit untuk menangkapnya tapi sepertinya sebentar lagu dia akan melakukan sesuatu yang besar. Dan pastinya karena berpikir akulah orang yang berarti untukmu maka dia pasti akan menculik ku."Jelasnya.

__ADS_1


"Merepotkan."


"Kau harus sabar Leon, ayolah dimana Leon yang tenang dan juga pintar itu."


"Kau benar, aku harus tenang untuk memancing mereka keluar." Gumam Leon.


"Ting." Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Leon, mendadak senyuman terukir di bibir indahnya.


"Akhirnya permainan di mulai." Ujarnya terlihat bahagia.


"Amelie susah tau kan maksudku, bersiap-siaplah untuk kemungkinan terburuk dan ya panggil Martin dan juga Alexia kita harus siap dengan semua kemungkinan."


"Baik."Jawabnya dengan patuh.


Setelah itu tampak Amelie pergi meninggalkan ruangan tersebut lalu memasuki kamarnya.


"Doakan aku Ranti." Pintanya.


Di lain sisi Ranti telah tiba di tempat Intan, ia segera memasuki kamarnya tapi entah kenapa saat ini jantungnya berdetak dua kali lebih cepat.


"Apakah aku harus mengetesnya ? bagaimana jika positif apa yang harus aku lakukan ?" Pikirnya dengan menggenggam Testpack yang ia beli di apotik. Pada saat perjalanan pulang tadi ia sempat meminta Rain untuk mampir ke apotek dengan alasan membeli obat sakit perut tapi sebenarnya ia membeli Testpack. Entahlah gadis itu hanya terus terbayang ucapan Rain tadi.


"Ya sudah coba aja," Akhirnya gadis itu pergi ke kamar mandi setelah selesai ia segera menutup matanya merasa takut.


"Kumohon negatif...." Pintanya.


"HA!" Gadis itu bingung berekspresi seperti apa kala melihat 2 garis yang terpampang disana.


"A-aku hamil." Gumamnya ada perasaan senang tapi ada juga perasaan sedih disana.


"Hiks, hiks bagaimana ini hiks, hiks."Gadis itu memikirkan bagaimana anaknya kelak dengan kondisi orang tuanya saat ini.


"Tok,tok,tok Ran Ran." Suara Intan terdengar jelas.


"Intan ?" Ranti dengan cepat menyembunyikan alat itu dan menghapus air matanya.


"Ran kamu sibuk nggak ?"Tanya intan.


"Kenapa Tan ?"Tanya Ranti yang sudah mencuci muka lalu menemui temannya itu.


"Kamu habis nangis Ran ? kamu sakit ?" Tanya Intan yang tampak panik."


"Aku nggak apa-apa cuman kelilipan aja tadi." Jawab Ranti.


"oke lah, oh ya Ran kami bisa nemanin aku keluar nggak mau beli sesuatu."Ujar Intan.


"Sesuatu apa ?"


"Hmm itu rahasia Ran." Jawabnya.


"Oh gitu ayo tapi aku siap-siap dulu ya."


"Iya aku tunggu di ruang tamu." Jawabnya dengan senyuman.

__ADS_1


__ADS_2