Gadis Biasa Menikahi Mafia Tampan

Gadis Biasa Menikahi Mafia Tampan
Bohong Terus...


__ADS_3

"Kau ternyata memang ti-tidak me-miliki ha-hati ba-bahkan kau re-rela me-mengorbankan ga-dis itu hahaha uhuk uhuk." Ucapnya dengan kesadaran yang menipis tersebut.


Tidak ada perkataan dari Leon ia hanya berjalan mendekat kearah laki-laki itu lalu mengarahkan pistol tersebut kearah kepala pria itu.


Pria itu menatap nanar kearah Leon yang berada dihadapannya itu.


"Ka-kau Mo-monster."


"Door" tembakan itu tepat mengenai dahi pria tersebut hingga membuat bola mata pria itu sedikit keluar.


"Aku tidak peduli." Gumam pria tersebut lalu pergi begitu saja.


...****************...


Pria tersebut melangkahkan kakinya kearah ruangan dimana Ranti berada saat ini. Dibukanya lemari tempat dimana gadis itu berada.


"Krek" Bunyi lemari yang dibuka dengan cepat oleh laki-laki tersebut.


"Huh.." Leon menghembuskan nafasnya kasar saat melihat gadis tersebut yang masih meringkuk didalam lemari itu dengan posisi tangan yang menutup kedua telinganya itu.


"Ini aku." Ucap laki-laki itu dengan tatapan yang terus menatap gadis tersebut.


"Le-leon kau sudah kembali." Ucapnya dengan sedikit tergagap tersebut.


"Iya..ini aku." Jelas pria itu


Ranti dengan cepat menutup dan membuka kembali kelopak matanya.


"Hiks leonn..." Tangisnya sambil memeluk pria itu dengan erat.


"Aku takut...aku takut kau terluka huaaa. Ta-tadi banyak sekali suara tembakan hiks. Aku benar-benar takut kau terluka." Ucapnya dengan air mata yang terus mengalir itu.


Lelaki itu ikut membalas pelukan yang diberikan oleh gadis tersebut. Untung saja Leon bukan merupakan orang yang bisa ditipu dengan mudah.


Sejenak ingatannya kembali mengingat kejadian beberapa saat tadi. Saat dimana suara teriakan gadis itu terdengar jelas di telinganya. Untunglah Leon dapat dengan cepat menyadari keanehan dari hal tersebut.


"Sudah jangan menangis...nanti jelek loh." Ucapnya membuat Ranti segera menghentikan tangisannya.


"Hiks kau jahat" Seru gadis tersebut sambil memukul dada pria itu.


"Iya..." Jawabnya sambil mengelus surai panjang itu.

__ADS_1


Pria tersebut kembali mendekap tubuh kecil itu dengan penuh rasa lega.


Namun tiba-tiba matanya berubah menjadi tajam saat menyadari satu hal yang mengganjal tersebut.


"Aku mau pulang..." Pinta gadis itu yang memang sudah terlihat lelah itu.


"Hmm mau beli jajan dulu?" Tanya pria itu.


"Hmm mau..." Cicitnya pelan karena malu itu.


"Baiklah ayo keluar dan beli apapun yang kau mau." Ajaknya kepada Ranti. Gadis itu langsung tersenyum cerah dan berjalan menuju pintu keluar tersebut.


"Jangan lewat pintu itu, kita lewat pintu itu saja." Ajak pria itu yang langsung menarik Ranti untuk melalui pintu yang lain diruangan itu.


"Tapi... nanti kita nyasar lagi." Ragunya.


"Tidak percayalah padaku, hanya padaku." Jawab pria itu dengan menatap gadis kecil yang ada didepannya itu.


"Baiklah." Gadis tersebut menjawab dengan disertai anggukkan kepalanya.


"Gadis pintar." Puji Leon untuk pertama kalinya terhadap gadis itu. Ranti yang mendengar pujian itu otomatis merasakan panas diseluruh wajahnya.


"Kau sakit?" Tanya laki-laki tersebut dengan meletakkan telapak tangannya tepat didahi gadis itu.


"A-aku ba-baik hanya panas saja, ya hanya panas saja." Elaknya.


Leon yang mendengar hal itu hanya tersenyum tipis. Jujur saja sebenarnya ia juga merasakan apa yang dirasakan oleh gadis itu namun laki-laki itu sangat pandai dalam menyembunyikan ekspresinya.


"Oh baiklah jika begitu mari pergi." Ajaknya dengan menggenggam tangan mungil itu.


Sesampainya diluar Ranti segera melihat sekelilingnya. Masih tampak ramai seperti sebelum mereka memasuki rumah hantu itu.


Tapi tak lama gadis itu segera merubah ekspresinya seperti menyadari sesuatu yang penting. Langkah kakinya terhenti begitu pula dengan Leon yang menggenggam tangannya ikut berhenti.


"Kenapa?" tanyanya dengan menaikkan alisnya.


Tidak ada jawaban dari gadis itu hanya keheningan yang dirasakan disana padahal pada saat ini mereka sedang berada di keramaian.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanyanya dengan menatap tajam kearah laki-laki didepannya itu.


"Maksudnya?."Leon mengerutkan alisnya tampak berpikir maksud dari gadis itu.

__ADS_1


"Darah siapa di lengan jaketmu itu?" Tanya Ranti tampak menyelidiki.


Leon melirik kearah tangannya yang menggenggam gadis tersebut. Tepatnya pada bagian lengan jaketnya itu. Disana terdapat noda darah yang tidak terlalu jelas dan itu hanya sedikit.


'Sial! Padahal warna jaket ini gelap kenapa dia masih menyadarinya.' Pikir leon. Bagaimana ia tidak habis pikir jaket yang ia gunakan saat ini berwarna hitam dan tentunya noda darah hampir tidak terlihat.


"Itu bukan darah." Elaknya.


Ranti tersenyum tipis saat mendengar jawaban yang dikeluarkan oleh pria itu. Perlahan gadis itu melepaskan genggaman tangan mereka membuat Leon kembali mengerutkan dahinya. Ranti mengangkat tangannya tepat didepan Leon. Sejenak ada perasaan terkejut yang ditampilkan oleh pria itu namun dengan cepat ekspresi itu kembali datar.


"Jadi jika itu bukan darah maka noda yang ada di telapak tanganku ini apa?" tanyanya sambil menunjukkan jari jempolnya yang terdapat noda darah yang mengering itu.


Tidak ada jawaban yang diberikan oleh pemuda itu ia hanya diam tanpa menjawab pertanyaan dari Ranti.


"Sebenarnya kau ini apa? apa yang kau lakukan diluar sana?" Tanyanya dengan mata tajam itu. Ranti benar-benar tidak habis pikir berapa banyak kebohongan yang disembunyikan darinya.


"Jawab! jangan hanya diam berhenti menyembunyikan sesuatu dariku." Ucap gadis tersebut sedikit berteriak untungnya suaranya tidak terdengar oleh orang-orang disana karena suara wahana dan berbagai permainan yang sangat berisik itu.


"Apa jangan-jangan suara tembakan tadi..." Gadis itu menjeda kalimatnya saat ia menyadari sesuatu yang benar-benar tidak pernah ia pikirkan itu.


"Jangan berpikir yang tidak-tidak ini hanya darah hewan." Jawab Leon dengan tenangnya.


"Jangan bohong!" Gadis itu benar-benar merasa dibodohi oleh pria itu.


"Aku tidak bohong." Jawabnya.


"Apa buktinya?"


"Apakah begitu perlunya bukti? apakah kau tau apa perbedaan darah hewan dan manusia? jangan suka membuat asumsi yang tidak-tidak." Jelasnya yang membuat gadis tersebut terdiam.


"Bagaimana dengan suara tembakkan tadi?" kali ini gadis itu benar-benar tidak mau melewatkan apapun.


"Itu hanya pistol mainan yang digunakan oleh salah satu hantu jadi-jadian yang menyerupai psikopat. Dia membawa pistol dengan bunyi yang sama dengan aslinya untuk menakuti orang-orang hanya itu saja." Jelasnya dengan sangat tenang sehingga membuat siapapun akan percaya padanya.


"Jika kau tidak percaya tanya saja pada orang disana yang bekerja sebagai pengawas itu." Tunjuk Leon pada seorang yang berdiri tidak jauh dari pintu keluar tersebut.


"Tidak perlu, aku percaya maafkan aku." Gumam gadis itu dengan menundukkan kepalanya.


"Hmm" Hanya itu jawaban yang diberikan oleh Leon.


'Maaf' Gumamnya dalam hati lalu berlalu pergi mendahului Ranti tanpa menggenggam tangan gadis itu.

__ADS_1


"


__ADS_2