Gadis Biasa Menikahi Mafia Tampan

Gadis Biasa Menikahi Mafia Tampan
Tidak berperasaan


__ADS_3

"Intan ?" Ranti dengan cepat menyembunyikan alat itu dan menghapus air matanya.


"Ran kamu sibuk nggak ?"Tanya intan.


"Kenapa Tan ?"Tanya Ranti yang sudah mencuci muka lalu menemui temannya itu.


"Kamu habis nangis Ran ? kamu sakit ?" Tanya Intan yang tampak panik."


"Aku nggak apa-apa cuman kelilipan aja tadi." Jawab Ranti.


"oke lah, oh ya Ran kami bisa nemanin aku keluar nggak mau beli sesuatu."Ujar Intan.


"Sesuatu apa ?"


"Hmm itu rahasia Ran." Jawabnya.


"Oh gitu ayo tapi aku siap-siap dulu ya."


"Iya aku tunggu di ruang tamu." Jawabnya dengan senyuman.


...****************...


Hari semakin malam dan jalanan sudah sangat terlihat sepi akan tetapi dua wanita itu tidak kunjung menemukan apa yang mereka cari.


"Tan, emang kamu nyari apasih, nggak bisa besok aja ya kita lanjut nyarinya soalnya ini udah malam loh Tan." Ujar Ranti membujuk sahabat baiknya itu.


"Tidak Ran kita harus menemukan barang itu sekarang karena aku akan menggunakannya untuk besok pagi." Jawab gadis itu.


"Kau ingin beli baju ?" Tanyanya.


"Tidak bukan Itu." Jawabnya.


"Jadi apa ?"


"Sesuatu yang sangat penting."


"Baiklah mari kita cari lagi, jika menurut mu itu penting."


Mereka terus mencari sedangkan Ranti hanya bisa terus menahan rasa kantuknya yang sangat luar biasa itu.


Di tempat lain suasana tampak mencekam. Bagaimana tidak mencekam suara tembakkan terdengar jelas kesana kemari. Banyak orang-orang yang sudah tumbang sedangkan pria tampan itu tampak masih santai menghabisi orang-orang yang mencoba untuk membunuhnya.


'Kita akan lihat siapa pelaku sebenarnya.' Pikir laki-laki itu.

__ADS_1


Sedangkan di tempat lain tampak seorang pria berjalan mengendap memasuki sebuah kamar dimana di dalamnya terdapat sosok wanita yang sangat ketakutan.


"Ha akhirnya tugasku akan selesai." Ujarnya dengan senyuman tipis saat melihat apa yang sudah dia cari.


"Pergi kau ! aku tidak mengenal mu !!" Teriaknya saat laki-laki itu akan mendekat padanya.


"Kau akan menjadi awal mula kehancuran king." Ujar Reno. Ya laki-laki itu adalah Reno yang diperintahkan untuk menangkap Amelie demi rencana bosnya itu.


"Apa-apaan kau." Amelie tampak sangat ketakutan bahkan ia tampak akan menangis.


"Hmm kau akan tau jika rencana sudah di jalankan." Jawabnya dengan tersenyum menakutkan.


"Apa maksudnya ?" Tanyanya.


Pria itu mengeluarkan sebuah pistol dari kantong jasnya lalu mengarahkan kearah Amelie.


"Ini jawabannya." Ujarnya dengan senyum liciknya.


Di tempat lain saat ini tampak Leon tengah sibuk mengarahkan pistolnya kearah musuh yang memasuki mansionnya.


"DOOR."


"DOOR"


"DOOR"


"Alexia, segera bawa para pelayan ini untuk bersembunyi di tempat yang aman!" Pinta Leon pada gadis itu yang tidak jauh darinya.


"Baik bos akan saya lakukan." Jawabnya dengan cepat.


"Bos mari kita lihat berapa orang yang akan anda dapatkan." Gurau Martin di saat genting itu.


"Aku bisa menghabisi mereka sendirian." Ujar Leon yang tampak datar. Bagi orang lain mungkin yang di katakan Leon ini hanyalah candaan tapi pada kenyataannya Leon memang dapat menghabisi mereka semua sendirian.


"Jangan bos, nanti saya tidak ada kerjaan." Jawab Martin.


"Door" Tembakkan Leon yang tepat mengenai orang yang menyerangnya sehingga orang tersebut meninggal di tempat.


"Jika begitu maka cepatlah." Ujar Leon.


"Iya iya bos akan saya lakukan." Jawabnya sebelum dengan mudah menembak orang-orang yang terus menyerang mereka.


"Door." Leon sedikit lengah hingga hampir saja peluru mengenai kepalanya.

__ADS_1


"Bos Anda kenapa sih."


Tidak ada jawaban dari pria tersebut ia hanya terdiam tanpa mengatakan apapun.


"Door"


"Door" Saat ini jumlah musuh mereka tampak hanya tinggal 5 orang saja dari puluhan orang tadinya. Banyak sekali darah dan juga mayat-mayat orang-orang yg mereka habisi. Sedangkan 5 orang itu juga tampak terluka di bagian kaki dan juga bahu mereka. Sedangkan dua orang itu tampak masih rapi tanpa kurang sedikit pun. Sebenarnya untuk Martin ada sedikit goresan di bahunya akibat peluru tapi untuk Leon dia masih sangat terlihat rapi perbedaannya hanya pada kancing kemejanya yang sudah terbuka hingga hampir menampakkan dadanya.


Martin sejenak melihat kearah Leon yang tampak begitu saja ekspresinya tanpa perubahan sedikitpun. Sebenarnya Martin juga pembunuh dan membunuh itu sudah seperti kegiatan sehari-harinya tapi bagaimanapun pasti ada sedikit rasa aneh jika membunuh seseorang berbeda jauh dengan Leon yang sama sekali tidak memiliki emosi terhadap hal itu.


"Aku masih sangat jauh darinya." Gumam Martin.


Leon masih sibuk membidik dan menghindar hingga akhirnya.


"DOOR" Tembakan terakhir membuat musuhnya tidak tersisa sama sekali.


"Akhirnya huh." Ujar Martin yang tampak menghela nafas.


"Bos jadi Sekaa bagaimana ?" Tanya Martin yang tampak penasaran.


Tidak ada jawaban dari pria itu dia hanya terus memperhatikan sekitarnya tanpa ada beban sedikitpun.


"Bos apakah anda baik-baik saja." Tanya Martin yang tampak bingung.


'Apakah dia menyesal telah membunuh mereka semua, syukurlah ternyata bos ku ini masih punya hati nurani. Ini sepertinya harus di catat di dalam buku sejarah kehidupan manusia.' Pikir Martin yang membuat dirinya tersenyum sendiri.


"Bos tenang saja ini memnag ganjaran bagi mereka, anda sendirikan tau jika kita tidak menghabisi mereka maka kita yang akan di habisi jadi anda tidak perlu merasa bersalah kita hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk mereka, dan saya yakin mereka juga tidak sepenuhnya orang jahat bisa saja kan mereka hanya dipaksa untuk melakukan hal ini sungguh nasib yang malang." Jedanya lalu Martin entah mendapatkan keberanian dari mana memegang pundak Leon untuk menguatkan laki-laki itu.


Tapi pada saat ia meletakkannya justru ia mendapat tatapan tajam dari Leon.


"Lepaskan tanganmu." Ujarnya dengan dingin.


"Bos saya tau anda tertekan tapi tenang saya akan selalu ada di sisi nada jadi anda tidak perlu merasa bersalah pada kema." Belum sempat Martin menjelaskan tapi sudah dipotong terlebih dahulu oleh Leon.


"Sudah ? simpan saja omong kosong mu itu Martin."Ujar Leon dengan tegas.


"Ha ? jadi tadi kenapa anda tampak seperti bersalah dan sedih." Tanya Martin kebingungan jelas-jelas pria itu tadi menampilkan ekspresi bersalah.


"Huh ,Martin ini bukan urusanmu." Jawabnya lalu berjalan kearah tangga yang ada disana.


"Jadi apa yang membuatmu menyesal." Gumam Martin yang tampak sangat bingung.


'Sialan !! sepertinya jika Ranti sudah kembali aku harus pindah mansion, gara-gara banyak orang mati disini rumah ini pasti akan berbeda dan itu membuat Rantiku tidak nyaman. Dasar sampah sialan !! kenapa mereka harus mati di rumah ku.' Pikirnya yang tampak kesal padahal banyak sekali kenangan di rumah itu tapi karena banyak sekali yang ia bunuh disana pastinya itu tidak baik untuk istrinya nanti.

__ADS_1


__ADS_2