
"A-aku tidak akan membiarkan kalian melukai nya!!" Ucap gadis itu dengan pasti. Namun, karena perbedaan tenaga pria yang tadi kakinya di tahan dengan Ranti dengan cepat melepaskannya. Yakni dengan cara menendang tubuh gadis tersebut.
'Aku akan melakukan segala cara untuk menyelamatkanmu.' pikir gadis itu dengan menyeret tubuhnya yang sudah penuh luka tersebut.
...****************...
Sedangkan di tempat lain, tampak sosok jangkung duduk di tengah tempat yang di dominasi oleh warna hitam. Matanya berwarna coklat dengan rahang tegas yang menawan. Wajah indah yang merupakan anugerah dari sang pencipta.Akan tetapi netra mata itu begitu banyak menyimpan dendam dan kemarahan di sana.
"Jadi sudah sepuluh bulan ya, kupikir awalnya hanya permainan bodohnya saja tapi, sepertinya tidak seperti itu." Senyuman licik terpampang di wajah tampannya.
"Frederick Leonardo Ze... mari kita lihat apa yang akan kau pilih kali ini." Ucapnya pelan lalu menjalankan bidak catur berupa kuda yang berada tepat di hadapannya.
Ranti saat ini mendudukan dirinya di jalan. Ia hanya bisa memperhatikan bagaimana orang-orang itu mencoba membawa Leon entah kemana.
"Hiks,..Hiks, Berhenti menangis Ranti kau harus memikirkan cara untuk menyelamatkannya." Ranti menghapus air matanya dengan kasar. Lalu gadis tersebut berdiri dengan sekuat tenaganya.
"BERHENTI KALIAN!.." Teriaknya dengan tatapan tajam kearah para penjahat itu.
Sontak saja membuat mereka menoleh kearah Ranti. Namun, beberapa detik kemudian mereka kembali tidak perduli.
"KALIAN AKAN BINASA JIKA MELUKAI PRIA ITU. DIA ADALAH SALAH SATU PENGUSAHA SUKSES. WALAUPUN KALIAN BERHASIL MEMBUNUHNYA MAKA ANAK BUAHNYA PASTI AKAN MENCARI KALIAN DAN MENGHABISI KALIAN." Teriak Ranti mencoba meyakinkan para penjahat tersebut.
"Dari mana kau tau ?dan juga jika kami tidak membunuhnya maka dia yang akan melenyapkan kami. Kau diam saja gadis bodoh." Tolak salah satu dari mereka.
"Berhenti semua,aku rasa yang dikatakan gadis tersebut ada benarnya." Sahut salah satu dari mereka.
"Apa yang kau pikirkan Iwan?kau gila?". Sahut seseorang di antara mereka lagi.
Ranti hanya menyaksikan perdebatan diantara para pria itu. Ia sengaja membiarkan keributan di antara mereka berlangsung.
__ADS_1
'Sepertinya aku berhasil.' Pikirnya dengan sedikit tersenyum kecil.
"Aku tidak gila! bagaimana jika kita yang malah celaka jika menghabisinya. Jika tidak dibunuh maka kita akan di penjara karena melenyapkan nyawa seseorang."Ucap pria yang dipanggil Iwan tersebut.
"Jadi maksudmu kita harus melepaskannya begitu saja ?." Tanya salah satu diantara mereka dengan sedikit emosi.
"Tidak, kita tidak perlu melenyapkannya melainkan kita manfaatkan dia, bagaimana?" Ucap Iwan dengan tersenyum licik dak melihat ke arah Ranti.
Teman-temannya yang lain tampak bingung mengapa lelaki bernama Iwan tersebut malah melirik kearah gadis gila itu.
"Aku punya rencana,bagaimana jika kita membuat cerita bahwa kita penyelamatnya sedangkan gadis itu penjahatnya."
Ranti hanya mendengarkan saja tanpa rasa takut sedikitpun. Walau ia tau bahwa mungkin hal ini akan merugikan dirinya.
"Maksudmu?" tanya salah satu diantara mereka.
Laki-laki jangkung dengan kulit hitam disertai dengan bekas codet tersebut berjalan kearah Ranti.
"Diperhatikan dari tadi sepertinya kau ada hubungan dengan pria ini dan kau cukup menyayanginya kan?." Tanyanya dengan senyuman liciknya.
"Itu bukan urusanmu." jawab Ranti dengan ketus.
"Oh jadi begitu. Jika kau memang tidak menyukainya maka kami akan menghabisinya saja." Pria tersebut berbalik kearah Leon yang masih tergeletak di jalan.
"Tidak!! baiklah aku menyayanginya bahkan sangat menyayanginya kau puas!!." Ucap Ranti cepat karena ia tidak ingin sesuatu terjadi pada pria tersebut.
Pria tersebut kembali tersenyum licik lalu berbalik kearah Ranti.
"Baiklah jika begitu kau harus ikut dengan kami bersama pria itu ke suatu tempat, bagimana?"Tanyanya.
__ADS_1
"Baiklah aku akan ikut dengan kalian tapi kau harus berjanji untuk tidak melukainya." Ranti benar-benar tidak memikirkan apa yang akan terjadi padanya.
Mereka akhirnya pergi meninggalkan tempat tersebut menggunakan mobil Leon yang memang masih terparkir di sana.
"Leon bangun, kenapa kau lama sekali tidurnya. Kita harus pergi dari mereka." Bisiknya di telinga lelaki tersebut. Karena pada saat ini mereka sedang berada di dalam mobil tersebut dengan Ranti yang berada disisi lelaki yang masih tidak sadarkan diri itu.
"A-aku mo-mohon sadarlah Leon,Aku takut...." Bisiknya dengan sedikit bergetar. Sebenarnya Ranti takut dengan apa yang akan terjadi padanya. Namun, ia lebih takut lagi jika laki-laki yang saat ini sedang bersandar pada bahunya itu yang akan terluka.
Tak lama kemudian mobil tersebut berhenti tepat di sebuah tebing dengan laut di bawahnya. Bintang-bintang sangat terlihat jelas di tempat tersebut membuat Ranti sedikit terpukau. Andai saja saat ini ia tidak dalam keadaan yang mengerikan sudah pasti gadis tersebut akan senang sekali berada disini.
Mereka terus berjalan hingga akhirnya tiba di tepi tebing tersebut. Walaupun itu malam tapi mereka masih dapat melihat dengan jelas karena sinar bulan yang bersinar sangat terang malam ini.
"Cepat jalannya!!" perintah Iwan dengan mendorong Ranti agar berjalan dengan cepat kedepan. Gadis tersebut hanya menahan sakit dari kakinya yang benar-benar sakit itu.
"Mau apa kalian membawa kami kesini?" Tanyanya yang saat ini sudah berada di ujung tebing itu.
Gadis tersebut terus menatap mereka dengan tatapan tajam di bawah sinar bulan tersebut.
Suara ombak yang menyapu batu tersebut menjadi pengiring dalam negosiasi apa yang akan dilakukan oleh Ranti malam ini. Tapi jujur saja firasatnya memikirkan hal yang tidak baik. Namun, gadis tersebut telah siap untuk menerima apapun.
Mendengar pertanyaan Ranti Iwan kembali tersenyum licik. Sebenarnya laki-laki tersebut dulu merupakan mantan salah satu tangan kanan seorang mafia tapi saat kelompok mereka berjaya mendadak ada rombongan mafia lain yang menyerang mereka. Pada perkelahian tersebut Iwan harus kehilangan seluruh teman-temannya beserta bekas luka yang juga di terimanya. Sehingga saat ini, tentu saja ia juga memiliki banyak sekali rencana jahat di dalam kepalanya.
"Jika kau ingin dia selamat, maka lompat lah kebawah sana!" Laki-laki tersebut menatap Ranti yang sama sekali tidak merespon. Gadis itu hanya diam lalu menutup matanya sejenak lalu kembali membukanya dengan helaan nafas berat.
"Baiklah, tapi sebelum itu kau harus memberi tau apa yang sebenarnya kau rencanakan." Ucap gadis tersebut.
"Baiklah, karena kau juga akan mati maka aku akan memberitahukan kepadamu apa yang telah aku rencanakan hahaha. Jadi intinya kami akan berpura-pura menjadi penyelamat dari laki-laki ini." Iwan melirik kearah Leon yang saat ini masih di papah oleh dua orang temannya itu.
"Maksudnya?" Tanya Ranti yang masih bingung.
__ADS_1
"Kami akan berkata kepadanya jika yang memukul kepalanya tadi adalah kau. Bukan hanya itu untuk meyakinkannya maka kami akan mengatakan bahwa kita ini kerabat dan kau telah lama gila dan sering menyakiti orang.Setelah itu bukankah dia akan memberi kami hadiah hahaha." Tawanya.
"Jika begitu kalian tidak akan menyakitinya kan? dan juga kenapa kalian menghabisiku melainkan bukan memintaku untuk berpura-pura gila?"