
Leon tiba-tiba membungkuk lalu menyatukan dahinya dan Ranti. Mata pria itu tampak menahan tangis haru saat melihat Ranti yang ada disisinya.
"Aku sudah memberikan mu kesempatan untuk pergi tapi kau menyia nyiakannya maka kau tidak akan punya kesempatan untuk pergi dari ku, sampai kapanpun kau selalu bersamaku jika suatu saat kau menyesal dengan keputusan mu hari ini maka aku akan mengikatmu." Ucapnya dengan nada Rendahnya.
Ranti meneteskan air matanya lalu tersenyum bahagia.
"Aku tidak akan menyesal." Jawabnya.
...****************...
"Aku bahagia bersamamu." Ucap pria itu dengan senyum lebarnya yang sangat jarang ia tunjukkan itu.
"Aku juga bahagia bisa bersamamu." Balas Ranti yang langsung memeluk pria itu. Sedangkan Leon mendekapnya dengan sangat posesif.
'Terima kasih karena kau telah mengirimkan aku sosok wanita yang sangat mencintaiku sepertinya. Hati yang beku ini seakan-akan mencair dengan cinta yang ia berikan. Aku tidak pernah menyesal bertemu denganmu aku selalu menganggap itu sebuah keberuntungan yang ku punya dan paling berharga dalam hidupku ini.' Pikir pria itu.
"Hmm Leon kita harus segera pergi nanti orang-orang itu datang bagaimana?" Ucap Ranti yang menyadari bahwa mereka sudah cukup lama berpelukkan.
Leon melepas dekapannya dari Ranti lalu menggenggam erat tangan gadis itu.
Ranti yang mendapat perlakuan itu hanya dapat tersenyum malu. Leon benar-benar dapat membuat hatinya meleleh.
"Kenapa dengan wajahmu? kau kepanasan?" Tanya Leon yang sebenarnya tau jika gadis itu malu karenanya.
"Aku malu." Jawab Ranti sedikit menunduk dengan senyuman tipisnya.
__ADS_1
Leon yang melihat hal tersebut tersenyum senang saat mendapati ekspresi malu-malu yang dikeluarkan oleh gadis itu.
"Lucunya istriku." Ucapnya secara sepontan membuat Ranti ingin terbang dan guling-guling rasanya.
"Ternyata Istrinya aku bisa malu-malu ya." Pria itu sangat suka untuk menggoda Ranti.
"Berhenti Leon..." Ujar Ranti dengan nada rendah.
"Kenapa?" Tanya pria itu dengan wajah polosnya.
"Leonnnnn..." Ujarnya.
"Oke-oke aku berhenti." Jawabnya lalu mengacak surai panjang Ranti.
"Leonn" Ranti sedikit menjerit saat menyadari rambutnya yang memang sudah acak acakan itu bertambah acak acakan dan mengembang karena ulah dari pria itu.
'Dimana suami ku yang dingin beberapa waktu yang lalu.' Pikir Ranti.
"Hei kau pasti bukan Leon. Suamiku itu kulkas 1000 pintu kok berubah jadi manusia jahil sepertimu." Ranti mengomel kepada Leon yang terus mengganggunya itu.
"Mulai sekarang kau akan bertemu Leon yang ini bukan Leon yang dingin itu. Jadi siap-siap lah ingat kita akan bersama untuk seumur hidup." Jawabnya dengan senyum lebarnya.
"Hahaha untung aku cinta." Ranti tertawa puas.
Leon yang melihat gadis itu tertawa tersenyum tipis dengan tatapan mata yang penuh cinta.
__ADS_1
"Apakah kau lelah berjalan sini biar ku gendong." Ucap pria itu yang tiba-tiba berjongkok tepat didepan Ranti."
"Suaminya Ranti kok pengertian sih." Jawab Ranti dengan senyum lebarnya. Lalu gadis itu berjalan kearah Leon dan memeluk pria itu dari belakang.
"Aku senang bisa mengenalmu." Ucapnya yang saat ini berada di punggung Leon.
"Aku juga senang bisa mengenalmu." Jawab pria itu.
"Apakah aku berat?" Tanya Ranti dengan terus memperhatikan wajah pria itu.
"Tidak kau seringan bulu." Jawab Leon dengan senyum tipisnya.
Gadis itu tersenyum tipis kala mendapati jawaban dari pria itu.
"Leon..."
"hmm..."
"Leon..."
"Hmm..."
"Leon..."
"Iya apa..." Jawab Leon dengan nada lembutnya.
__ADS_1
"I Love you." Ujar gadis itu tepat didepan telinga Leon sehingga pria itu dapat mendengarnya dengan jelas.