
"kamu hanya perlu mengatakan hal itu padaku suami mu maka aku akan membereskannya." Leon benar-benar mengeluarkan aura mafianya.
"Ba-baiklah aku akan melakukannya." Jawab Ranti.
"Good girl." Pujinya dengan senyuman.
"Cup" Pria itu mengecup bibir Ranti.
"Cup." Kemudian pipinya dengan lembut.
"Tidurlah aku akan disini menemanimu." pintanya.
Mendengar hal tersebut Ranti tersenyum lalu mengangguk paham. Ia memang merasa mengantuk karena efek obat yang ia konsumsi tadi.
"Mimpi indah sayang."
Setelah Ranti terlelap Leon segera berdiri dan keluar dari ruangan tersebut. Ekspresinya tampak berubah 180 derajat. Sekarang sosoknya tampak ganas dan di takuti tanpa ada kesan lembut sedikitpun.
"cklek" Leon membuka pintu kamar Ranti dan menutup nya dengan pelan.
"Martin hubungin Alexia dan datang kembali menemuiku di ruang kerja baruku di tempat ini. Dan juga siapkan 10 anggota yang hebat dan terpercaya untuk berjaga di sini ! Perintahnya lalu berjalan pergi meninggalkan Martin.
"Apa yang akan di lakukan bos kali ini ? aku bahkan tidak dapat menebaknya." Gumamnya
...****************...
Didalam ruangan tersebut telah ada Leon, Martin, dan juga Alexia. Mereka masih dalam keadaan hening karena Leon yang masih tidak mengatakan apapun.
"Semua yang terjadi akhir-akhir ini benar-benar aneh." Ujar Leon.
"Maksud anda bos bagaimana sih." Martin yang memang selalu saja tidak berpikiran luas itu.
"Kenapa hal-hal berbahaya selalu terjadi pada Ranti seolah-olah dia memang sudah di targetkan sejak awal." Jelas Leon.
Martin tampak mengingat kejadian-kejadian yang terus mereka alami mulai dari kejadian di pulau lalu paman Leon yang tiba-tiba berani menyerang bosnya itu serta serangan-serangan lainnya seakan-akan terlalu kebetulan jika itu semua terjadi dengan jangka waktu yang lumayan singkat jika tidak ada seseorang dibelakangnya. Dan juga masalah Black Rose kenapa mereka bisa melancarkan aksi nekat ketika Ranti sudah campur tangan padahal jika memang Gisel sejak awal tidak menyukai Intan kenapa tidak dia habisi saja Intan bersama kedua orang tuanya waktu itu.
__ADS_1
"Dan juga James yang sekarang hilang entah kemana begitu pula dengan Darwin. Sedangkan menurut penelitian kalian kemarin jika James yang merencanakan itu." Ujar Leon.
"Iya bos mereka berkata James lah yang memerintahkan mereka." Ujar Alexia.
"Berarti bisa juga kejadian kali ini merupakan ulah dari James." Ujar Martin.
"Iya ini pasti ulah James." Ujar Alexia menanggapi.
Tidak ada tanggapan dari Leon pria itu masih tampak memikirkan sesuatu yang ganjal menurutnya. James memang tidak suka padanya dan selalu ingin bersaing tapi James tidak sepintar itu untuk merencanakan kejadian-kejadian ini.
"Alexia aku perintahkan padamu untuk mencari James dan membawanya padaku dalam kondisi hidup-hidup tapi tidak apa jika kau ingin melukainya asalkan dia masih dapat berkomunikasi." Perintah Leon pada Alexia.
"Martin kau kembali ke Mansion utama dan jaga disana nanti setelah Ranti sudah sehat aku akan kembali. Oh ya satu lagi kau harus perhatikan gerak gerik anak itu." perintahnya pada Martin.
"Baik bos akan saya lakukan." Ujar Martin.
"Oke pergilah." Perintah Leon membuat dua kaki tangannya itu segera pergi meninggalkan ruangan tersebut.
"Aku harus membereskan semuanya agar tidak akan ada kejadian seperti hari ini lagi." Gumamnya dengan tatapan dingin tersebut.
Sedangkan di tempat lain di ruangan yang gelap tersebut seseorang melapor pada pria yang tampak sedang bermain dengan caturnya.
"Bos saya ingin melapor jika saat ini Black Rose telah dihancurkan oleh king dan mereka sudah habis terbunuh yang tersisa hanya tinggal Gisel saja." Ujar seorang laki-laki.
"Hmm padahal lagi seru-serunya tapi dia harus mati, tapi tidak apa jika memang begitu maka semua harus di korbankan agar bisa menangkap raja." Jelasnya dengan terus menjalankan pion tersebut.
"Jadi bagaimana dengan rencana anda bos?" Ujar Reno yang merupakan asisten pribadinya.
"Rencanaku masih sangat baik Reno, Kali ini pasti Leon sudah mulai curiga dan akan lebih waspada. Dan kau tau Reno semakin dia waspada maka akan semakin mudah untuk mempermainkannya." Ujarnya.
"Anda memang sangat luar biasa bos, bagaimana dengan James yang telah anda tangkap." Tanyanya kembali.
"Dia habisi saja, dia susah lama tidak berguna." Ujarnya.
"Baik bos." Jawab Reno dan akan pergi meninggalkan ruangan tersebut tapi belum sempat dia berbalik pria itu kembali memanggilnya.
__ADS_1
"Tunggu dulu sebelum kau menghabisinya maka ceritakan yang sebenarnya padanya agar dia menyesal dengan apa yang telah dia lakukan." Pintanya.
'Huh benar-benar hati bos sudah lama mati.' Pikir Reno yang saat ini tengah menuju kearah tempat dimana James di tahan.
Langkah kaki Reno berhenti di depan sebuah penjara bawah tanah dengan James yang sudah tergeletak lemah.
"Kenapa kau datang kemari apa ingin menyiksaku lagi maka siksalah." Ujar James yang memeng tampak telah penuh luka-luka di sekujur tubuhnya.
"Tidak, aku kemari untuk melepaskan mu dari penderitaan ini dan seharusnya kau bisa bahagia dengan hal ini." Ujarnya.
"Akhirnya kalian membunuhku ketika kalian sudah tidak butuh lagi." Ujarnya.
"Tapi sebelum itu aku ingin menceritakan sebuah kisah padamu dan pasti kau akan sangat tertarik mendengarnya." Ujar Reno.
James sama sekali tidak perduli dan dia memang tidak tertarik dengan hal tersebut.
"Nama kisah ini adalah kematian Masha adik sepupu James yang manis." Ujarnya dan langsung membuat James menatap marah kepadanya.
"Apa maksudmu ?" Tanya James yang tampak marah.
"Apa ya lebih baik ku ceritakan saja." Jawabnya dan mulai menceritakan tentang apa yang ingin dia sampaikan.
# Beberapa tahun yang lalu.
"Kak James, apakah kak James sayang dengan Masha soalny kak Darwin sama sekali tidak perduli dia selalu saja cuek dengan Masha." Ujar seorang gadis dengan seragam SMA nya.
"Tentu saja dong kak James sangat menyayangimu." Ujar James dengan mengelus rambut gadis itu.
"Kak James memang yang paling baik." Ucapnya sembari memeluk kuat James.
Semua berjalan baik-baik saja di keluarga Robert dengan senyuman Masha yang terus menyinari rumah itu. Sedangkan James juga sering berkunjung ke sana.
"Siapa yang datang itu kak ? dia sangat tampan, benar-benar seperti artis tidak bahkan lebih tampan dari artis manapun." Tanya gadis itu yang tampak terpesona dengan Leon yang kala itu sedang mengunjungi kediaman Robert yang merupakan pamannya.
"Dia Leonardo kau jangan dekat-dekat dengannya karena dia sangat berbahaya bahkan dia sering membunuh orang." Peringat James kepada gadis itu karena dia tau betul siapa Leon.
__ADS_1
"Oke deh kak." Ujarnya.
Mendengar hal tersebut James tersenyum lega karena gadis kecil itu mau mendengarkannya tapi siapa sangka gadis itu ternyata tidak mendengarkannya sama sekali dan diam-diam menyukai Leon sedangkan Leon selalu cuek padanya.