Gadis Biasa Menikahi Mafia Tampan

Gadis Biasa Menikahi Mafia Tampan
Nah baru ditinggal sebentar udah gitu


__ADS_3

" Dia orang lain dan kami memang tidak saling mengenal dan tidak akan pernah mengenal" Ucapnya tegas lalu berjalan dengan tegap melewati Leon menuju pintu keluar.


Saat ini hujan deras masih terjadi di luar.Namun, gadis tersebut tidak mempedulikannya. Langkah kakinya terus menuntunnya untuk semakin menjauh dari tempat dimana ia merasa hatinya sangat sakit.


"Hiks, Hiks, Hiks sa-sakit ini sungguh sakit... hiks, hiks, hiks." Rintihnya di bawah hujan yang semakin mengguyur basah tubuhnya.


...****************...


"Martin apa kau sudah menemukannya?" Tanya Leon menatap tajam kearah Martin.


" Maaf bos hujan terlalu deras sehingga sulit untuk melakukan pencarian bos." Jawab Martin.


" Ya karena hujan deras kalian harus menemukannya secepat mungkin, dan juga bagaimana ia bisa berada di kantor ha! bukankah sudah ku perintahkan untuknya tetap di rumah." ucap Leon dengan emosi yang di tahannya.


" Menurut mereka yang berjaga di kediaman anda juga tidak menyadari jika nyonya telah melarikan diri dan pergi ke kantor bos." Jawab pria yang dari tadi terkena amukkan dari Leon.


Leon mengusap wajahnya dengan kasar lalu melonggarkan dasinya yang terasa sesak sekarang.


" Dasar gadis nekat " Gumamnya pelan dengan terus melihat kearah hujan yang tidak menunjukkan tanda-tanda akan reda tersebut.


Sedangkan saat ini Ranti tengah terbaring di atas ranjang. Wajahnya yang biasanya yang terlihat bahagia dan merona kini hanya menampilkan wajah pucat dan tenang.


" hiks, hiks, hiks" Rintih nya dalam keadaan yang masih terlelap.


Seorang wanita paruh baya mencoba untuk terus mengusap kepala gadis tersebut agar dapat tertidur dengan nyaman. Hingga beberapa saat Ranti menghentikan rintihannya dan terlelap dalam tidurnya.


" Sebenarnya apa yang terjadi padamu nak" Gumam wanita paruh baya itu.


FLASHBACK ON


Ranti masih terus berjalan sambil membekap tubuhnya yang terasa beku karena kedinginan. Ia menatap jalanan yang sepi tanpa ada seorangpun disana. Ranti benar-benar bingung mau melangkahkan kakinya kemana sebab ia sendiripun tidak tau di mana ia berada sekarang.


Pandangannya mulai terasa kabur bercampur dengan tubuhnya yang seakan-akan telah kehabisan tenaga. Ranti memandang kearah langit yang masih kelabu tersebut.

__ADS_1


" Ku Harap tidak pernah bertemu dengannya" Gumamnya pelan lalu perlahan tubuh itu tumbang. Ranti pingsan dengan hujan yang terus mengguyur tubuhnya.


Saat ini seorang wanita paru baya yang sedang berjalan dengan belanjaan di tangannya. Asih tidak menyangka bahwa hujan benar-benar awet seperti hari ini. Namun apalah daya ia harus keluar di saat hujan seperti ini hanya untuk membeli bahan-bahan untuk keperluannya berjualan besok pagi.


Hari yang mulai gelap di sertai dengan petir yang menggelegar membuat wanita tua itu cukup takut di tambah jalan yang biasa rame itu terlihat tidak ada orang sama sekali.


Hingga mata tuanya melihat sosok gadis yang tengah terbaring dengan keadaan tengkurap di tepi jalan.


"Astaghfirullah" Ucap wanita tersebut cukup terkejut. Ia berpikir bisa saja itu merupakan korban pembunuhan.


Walaupun takut akan tetapi wanita tua itu tetap berjalan mendekat kearah Ranti yang masih tergeletak disana.


" Dia masih hidup " Ucap wanita tua itu ketika memeriksa keadaan gadis itu. Senyuman lega terpampang jelas di wajahnya saat mengetahui hal tersebut.


" Nak,nak ayo bangun " ucapnya sedikit berteriak karena hujan.


Tidak ada respon dari Ranti, gadis tersebut masih tetap menutup matanya. Hingga akhirnya wanita tua itu segera mencari bantuan dan membawa Ranti ke rumahnya.


FLASHBACK OFF


"Aku di mana?" Gumamnya kecil dengan melihat keberbagai arah. Tangganya reflek memegang keningnya yang terasa sedikit basah tersebut. Benar saja di keningnya tertempel sebuah handuk kecil yang digunakan untuk mengkompresnya tadi.


"Akhirnya kau sadar juga nak, ibu sungguh khawatir karena kau lama sekali membuka matamu." Ucap Asih yang baru saja memasuki ruangan tersebut.


"Anda siapa ?" Tanya Ranti sedikit bingung karena ia memang tidak mengenal wanita paruh baya itu.


"Aku Bu Asih yang sudah menemukan kamu di jalan kemarin malam." Ucap Asih menjelaskan.


Mendengar hal tersebut perlahan Ranti mulai mengingat kejadian kemarin dan hal itu tentunya membuatnya sedih. Namun, dilain sisi ia juga bersyukur karena Asih telah menyelamatkannya.


"Terimakasih buk Karena telah menyelamatkan Ranti" Ucap Ranti dengan senyum tulus di wajahnya.


"Sama-sama nak" balas Asih yang juga menampilkan senyum tulusnya.

__ADS_1


"Ranti tidak tau harus berbuat apa untuk membalas ibuk," ucapnya dengan tertunduk malu.


"Kamu tidak perlu merasa sungkan sepeti itu, ibu juga senang sudah bisa berguna untuk orang lain". jawab Asih sambil mengelus pelan rambut Ranti.


"Makasih sekali lagi buk" Ucap Ranti yang masih merasa tidak nyaman.


"Sudah jangan dipikirkan masalah itu, sekarang yang harus kamu pikirkan adalah istirahat yang cukup agar cepat sembuh." Asih menaikkan selimut Ranti sebatas dada lalu mengganti kain kompres yang berada di kening gadis itu.


Ranti yang diperlakukan seperti itu dengan cepat menutup matanya dan segera kembali terlelap karena jujur saja ia merasa masih sangat lemah untuk saat ini.


Sedangkan saat ini Leon tengah dalam keadaan kacau sudah satu hari lebih Ranti menghilang biasanya ia bisa menangkap gadis tersebut hanya dalam kurun waktu beberapa jam. Namun sekarang, anak buahnya benar-benar kehilangan jejak gadis tersebut.


"Kemana perginya dia ?" Gumam lelaki tersebut sambil terus meminum wine yang telah habis berapa botol tersebut.


"Drrt,drrt,drrt" dering ponselnya membuat pria tampan tersebut menghentikan aktivitasnya.


"Apakah sudah ketemu?" Tanya Leon dengan wajah datarnya.


"Belum bos, saya ingin menyampaikan bahwa ada yang perlu anda lihat dari rekaman cctv di kantor kemarin tuan." Sahut Martin di ujung telpon sana.


"Baiklah kirim padaku" Ucap Leon lalu memutuskan sambungan telpon tersebut.


Tak lama Vidio tersebut diterimanya. Dengan cepat jarinya memutar Vidio tersebut dan dapat dilihat dengan jelas bagaimana pertengkaran antara Ranti dengan karyawan kantornya.


Mata pria tersebut memperhatikan bagaimana beraninya gadis tersebut berkelahi dengan tiga karyawannya itu. Awalnya senyuman tipis menghiasi wajahnya ketika melihat bahwa Ranti lebih unggul dalam perdebatan tersebut.


Namun, senyum itu menghilang saat melihat salah satu wanita yang mendorong Ranti hingga gadis tersebut tersungkur kedepan. Belum lagi ketika melihat Ranti yang di tampar oleh mereka. Walaupun gadis kecil tersebut dapat membalasnya, sungguh Leon benar-benar ingin memotong tangan wanita yang telah menampar gadis kecil itu.


Dengan sigap Leon mengambil ponselnya dan langsung menghubungi seseorang.


"Habisi ketiga wanita yang telah melukainya, tapi ingat jangan berikan kematian yang mudah untuk mereka!" perintahnya pada Martin yang berada di ujung telpon tersebut.


Tidak menunggu jawaban dari Martin Leon segera memutuskan kembali sambungan tersebut. Langkah kakinya membawa pria tersebut menuju kearah kamarnya dan juga Ranti.

__ADS_1


Matanya yang tajam terlihat sendu saat menatap rungan yang saat ini kosong tersebut. Biasanya ia akan menemui Ranti yang sedang tertidur atau mungkin sedang melakukan aktivitas lainnya. Gadis tersebut biasanya akan selalu tersenyum saat melihat ia memasuki kamar. Namun sekarang hanya ada suasana sepi dan hening di sana.


"Kapan kau akan kembali". Gumam lelaki itu dengan pelan.


__ADS_2