
"Tidak Martin ini seperti luka di pukul, siapa yang memukulmu? Aku akan membalasnya untukmu." Ujar gadis itu dengan nada yang menggebu-gebu.
'Glek.'Martin hanya dapat meneguk ludah kasar saat Leon menatapnya dengan penuh hawa membunuh seolah olah mengatakan.
'Kau akan kubunuh jika berani membocorkan nya pada Ranti.'
"Ti-tidak nyonya ini hanya luka ringan maklum anak muda." Jawabnya yang dengan cepat mendapatkan anggukkan paham dari Ranti.
...****************...
"Apakah makanannya enak ?" Tanya Leon dengan senyum merekah kepada gadis itu.
"Hmm enak aku suka." Jawabnya dengan terus menyantap makanan yang telah disediakan untuknya itu.
"Oh ya Leon apakah bisnismu sudah selesai disini?" Tanya gadis itu.
"Tinggal sedikit lagi sepertinya." Jawab pria itu dengan mengelus surai panjang milik Ranti.
"Kau tidak makan?" Tanya nya kala melihat pria itu yang hanya menatapnya tanpa berniat untuk makan sama sekali.
"Aku sudah kenyang." Jawabnya dengan lembut bahkan para pengawal disana membulatkan matanya saat melihat bos mereka yang berbanding terbalik dengan sikap aslinya.
__ADS_1
'Sepertinya tuan harus segera di periksa.' Pikir anak buahnya yang berjaga disana.
"Ayolah makan ini benar-benar enak."
"Aaa buka mulutmu." Perintah gadis itu yang sudah meletakkan sendoknya tepat di depan mulut pria tersebut."
Karena tidak ada pilihan Leon segera menyantap makanan tersebut dengan senyum tipisnya.
"Enak kan?" tanya Ranti.
"Iya aku menyukainya." Jawabnya sambil menatap intens pada gadis itu.
Tak lama Martin datang kedalam ruangan itu dan langsung membisikkan sesuatu kepada Leon setelah memberi isyarat terlebih dahulu.
"i-iya .." Jawabnya dengan memegang dahinya yang baru saja di kecup oleh Leon.
Setelah itu Leonpun berlalu pergi keluar dari ruangan tersebut. Martin yang menyaksikan kedua sejoli itu hanya dapat menarik nafasnya dengan dalam.
'Nasib-nasib jadi asisten orang bucin.' Pikirnya.
Setelah keluar dari ruangan itu ekspresi dan tingkah Leon langsung berubah seratus persen.
__ADS_1
"Berani sekali mereka." Ucapnya dengan nada dingin dan hawa membunuh yang pekat.
'Jika didepan nyonya seperti kucing jika tidak ada nyonya berubah d h jadi singa galak.' Pikir Martin yang menyadari betul tingkah laku dari bosnya itu.
"Bos jadi apa yang akan kita lakukan sekarang? mereka mengancam jika dalam waktu lima belas menit tidak memberikan kekuasaan anda maka seluruh bom yang bahkan kita tidak tau dimana tempatnya itu akan mereka ledakkan." Ujar Martin yang kali ini tampak serius.
"Sialan! Mereka benar-benar ingin melawanku.' Ucap pria itu dengan senyum mematikannya.
"Cepat ke tempat Alexia dan katakan padanya harus menemukan semua bom itu dalam waktu lima menit maka akan ku hukum kalian semua." Ucapannya lalu berlalu pergi ke sebuah ruangan khusus untuknya.
Dengan cepat tangan pria itu mengotak ngatik laptop yang ada didepannya. Hingga sepuluh menit kemudian ia telah berhasil menemukan titik pengendali semua bom itu.
Tak lama Alexia dan Martin telah tiba disana dengan nafas yang sedikit ngos-ngosan.
"Bos kami sudah menemukan dimana tempat bom itu dan kami juga telah mengirim tim kita untuk menjinakkannya." Ucap Martin.
"Alexia pergi ke jalan x dekat rumah yang kubuat untuk Ranti disana terdapat orang yang memegang kendali atas bom itu kalian harus bisa membawanya hidup-hidup kepada ku." Perintahnya.
"Baik bos." Jawab mereka serentak
"Jadi apa yang akan kita lakukan selanjutnya bos?" Tanya Martin.
__ADS_1
Tidak ada jawaban dari pria iyu itu ia hanya menarik sedikit ujung bibirnya.