
Ranti menggeleng kan kepalanya" Aku akan mengerjakan ini sendiri Nia kau buatlah juga untuk dirimu sendiri Nia." Ujarnya.
"Saya tidak berani nyonya." Jawab Nia dengan menunduk patuh bagaimana bisa dia berani menggunakan bunga kesayangan nyonyanya ini hanya untuk keperluan pribadinya saja bisa-bisa ketika ia membuat mahkota itu kepalanya akan di penggal dengan Tuannya yakni Leon.
"Buatlah, aku tidak mau hanya sibuk sendiri." Ajak Ranti yang sudah menggeser tempat duduknya agar Nia dapat duduk disampingnya.
"Sa-saya tidak berani nyonya."Jawabnya dengan gugup.
"Huh ini perintah jika kau melawan maka akan kuhukum kau." Ancam Ranti karena dia tidak memiliki cara lagi untuk membujuk gadis itu.
"Baik nyonya saya akan duduk maafkan saya."Ujarnya.
Setelah itu mereka akhirnya mulai membuat mahkota bunga lalu setelah selesai Ranti meletakkan mahkota bunga itu di atas kepalanya.
"Anda benar-benar cantik nyonya."Pujinya.
...****************...
Ranti dengan semangat mulai membuat mahkota bunga lagi.
"Maaf sebelumnya nyonya kenapa anda membuat mahkota bunga lagi, apakah anda ingin memberikannya kepada orang lain." Ujarnya.
"Ya tepat sekali aku akan memberikannya pada suamiku." Ujarnya dengan senyuman manisnya. Mendengar hal tersebut Nia tersenyum senang tapi dia sedikit merasa bingung saat membayangkan jika tuannya yang dingin itu menggunakan mahkota bunga ini.
"Apa anda yakin nyonya? ehm maksud saya tuan kan.." Belum sempat Nia menyelesaikan ucapannya tapi suara bariton membuatnya kaget dan takut.
"Ada apa denganku ?" Tanyanya dengan dingin. Tatapan matanya seakan-akan ingin menguliti Nia untung saja ada Ranti di sana jika tidak ada mungkin saat ini pelayan itu sudah tiada.
"Sudahlah tidak ada, Leon kemarilah aku ingin memberikan sesuatu padamu." Ujarnya. Leon perlahan mendekatkan dirinya tapi seketika matanya menatap kepada Nia menandakan jika perempuan itu bisa pergi sekarang.
Nia yang memang sudah paham dengan sifat tuannya itu segera berdiri meninggalkan tuannya.
"Jangan dekat-dekat dengan pelayan itu." Pintanya.
"Kenapa?" Tanya Ranti yang tampak bingung.
"Dia terlihat menyebalkan." Ujarnya.
"Iyaaa." Ujar Ranti dengan senyuman dia tidak ingin berdebat dengan laki-laki itu.
__ADS_1
Leon melihat seekor kupu-kupu berwarna biru datang kepada mereka lebih tepatnya kepada Ranti dan Leon memperhatikan hal tersebut. Hingga akhirnya kupu-kupu tersebut hinggap diatas mahkota bunga yang masih Ranti gunakan.
'Deg' Jantung pria itu berdetak dengan kencang saat melihat Ranti yang sangat cantik menurutnya. Gadis itu tampak begitu indah dengan dress berwarna putih dan mahkota bunga dari bunga Daisy yang tampak membuatnya seperti peri. Rambut Ranti sedikit bergoyang karena angin disana menambah daya tariknya belum lagi dengan kulit putih serta bibir yang seperti bush ceri itu.
Leon tampak tidak dapat mengendalikan dirinya ketika melihat ekspresi wajah gadis itu yang tampak sangat serius dengan bunga yang ada ditangannya.
"Sudah siap cantik kan?" Tanya Ranti dengan mahkota bunga yang sudah jadi di tangannya. Ia tersenyum puas memperlihatkan hasil karyanya kepada Leon yang hanya menatapnya tanpa berkedip.
"Iya cantik." Jawabnya tapi kata cantik itu sepertinya bukan untuk mahkota bunga itu tetapi pada sosok yang membuatnya.
"Hmm jika begitu maka aku akan memberikan ini padamu hehe." Ujarnya dengan senang.
"Jadi yang ingin kuberikan padaku adalah ini." Ungkap Leon dengan senyuman.
"Iya aku ingin memberikan ini. Apa kamu tidak suka ?" Tanyanya yang tampak kecewa.
"Aku suka tolong pakai kan ya." pintanya. Mendengar hal tersebut Ranti mengangguk senang ia lalu sedikit meninggi kan tubuhnya dan mendekatkan tubuhnya kepada pria itu. Hingga saat ini kepala Leon sejajar dengan dadanya.
Dengan cekatan Ranti meletakkan benda itu di atas kepala Leon tapi ketika ia akan kembali duduk tangan kekar pria itu justru memegang pinggangnya lalu menariknya kearah Leon.
"Aaaa." Ranti tampak kaget kala ia saat ini tengah berada di pangkuan dari laki-laki itu.
"Menurutmu?" Tanyanya.
"A-aku...Hmmph." Belum sempat Ranti menuntaskan ucapannya tapi bibir pria itu lebih dahulu membungkamnya.
Leoh mulai menikmati permainannya tangannya mulai menjalar ke dalam dress yang di kenakan oleh Ranti.
"Ahh." Ranti yang merasa terkejut dengan apa yang di lakukan Leon.
Dengan sekuat tenaga wanita itu mendorong Leon hingga pungutan bibir mereka terlepas. Ranti tampak menghirup wajah dengan rakus karena apa yang baru saja mereka lakukan.
"Hah, Astaga Leon bagaimana jika ada yang melihat kita nanti ha?" Tanya Ranti dengan melihat kekanan dan kekiri.
"Biarin aja kan kita sudah nikah." Jawabnya dengan terus menciumi leher jenjang milik Ranti.
'Akan bahaya jika dia tidak di hentikan sekarang.'Pikir Ranti.
"Jika kita melakukannya disini bagaimana jika ada yang melihat ku yang sedang bercumbu denganmu dan melihat apa yang seharusnya tidak boleh mereka lihat." Ranti mencoba membujuk pria tersebut.
__ADS_1
"Aku akan membunuhnya." Matanya benar-benar diliputi amarah. Hampir saja ia melakukan hal bodoh dan benar yang dikatakan Ranti bagaimana jika ada melihat bagian tubuh istrinya walaupun itu perempuan dia tidak bisa dimaafkan.
"Baiklah jika begitu kita akan melakukannya di kamar." Ujarnya.
"Eh ituu"
"Tidak ada alasan, aku sudah cukup lama berpuasa sayang kali ini aku mau buka puasa siapa suruh tadi kau kusuruh istirahat tapi malah keluyuran disini." Ujarnya.
"Itu. akh " Ranti terkejut kala Leon mengangkat tubuhnya seperti mengangkat karung.
"Leon turunkan aku!" Ujar Ranti yang merasa mual tersebut.
"Jika turun disini maka aku akan memakanmu disini."Ancamannya.
"Glek." Ranti meneguk ludahnya dengan kasar dia tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi padanya setelah ini.
❤️
❤️
❤️
Pagi harinya Ranti telah bangun dengan tubuh yang terasa remuk itu. Tadi malam Leon benar-benar tidak memberikannya kesempatan untuk istirahat.
"ehm rasanya seperti di gebuk masa."Gumamnya.
"Klek" pintu kamar mandi terbuka dan menampilkan Leon dengan rambut basahnya dan juga hanya handuk yang melilit di bagian bawahnya. Walaupun sudah sering melihat tapi Ranti benar-benar tidak bisa jika tidak malu.
"Pagi sayang." sapanya dengan senyuman ketika melihat Ranti yang sudah duduk bersandar di atas kasur dengan tangan kanannya yang menahan selimut untuk menutupi dadanya.
"Cup." Leon mengecup kening Ranti memberikan seluruh kasih sayang.
"Aku lapar." Rengek Ranti.
"Aku sudah tau jadi aku sudah menyuruh pelayan untuk membedakan makan untukmu itu dia diatas meja." Ujar Leon menunjuk meja yang ada di ruangan tersebut.
Tanpa mengatakan apapun Leon langsung berjalan dan mengambil piring yang berisi nasi goreng tersebut karena Leon tau betul jika istrinya ini tidak bisa sarapan hanya dengan Roti seperti dirinya. Bagi Ranti makan ya berarti makan nasi jika roti itu hanya cemilan.
"Aku akan menyuapimu aaa." Leon mengarahkan makanan di depannya yang membuat Ranti membuka mulutnya.
__ADS_1